Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Busuk Buah

Kajian mikroba pada buah busuk telah melahirkan penemuan enzim dan antibiotik. Proses fermentasi alami juga banyak dipelajari

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Buah yang membusuk sering dianggap masalah sepele, padahal pembusukan merupakan fenomena alami yang terjadi akibat interaksi mikroba, lingkungan, dan struktur buah itu sendiri. 

Proses ini sebenarnya bagian dari siklus kehidupan tanaman yang penting untuk regenerasi alam, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Secara ilmiah, pembusukan dipicu oleh aktivitas enzim dan mikroorganisme seperti jamur Aspergillus dan bakteri Erwinia, yang memecah jaringan buah. 

Faktor lingkungan, termasuk kelembapan dan suhu, sangat memengaruhi kecepatan degradasi, sehingga pemahaman kondisi ini penting untuk pengelolaan pascapanen.

Baca juga: Opini: Penulis Dua Jiwa Satu Perjalanan

Di ekosistem hutan tropis, buah busuk menjadi sumber nutrisi bagi tanah dan hewan pemakan buah atau bangkai, mengembalikan nutrien ke tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman baru. 

Secara ekonomi, tingkat pembusukan juga menjadi indikator ketahanan pasokan pangan; tingginya kerusakan menunjukkan lemahnya sistem logistik dan penyimpanan, sehingga pengetahuan tentang mekanisme ini membantu mengurangi kerugian finansial.

Kajian mikroba pada buah busuk telah melahirkan penemuan enzim dan antibiotik. Proses fermentasi alami juga banyak dipelajari dari fenomena ini. 

Temuan tersebut memperluas pemahaman tentang ekologi, bioteknologi, serta implikasi ekonomi pascapanen. 

Dengan demikian, busuk buah menjadi jendela yang menghubungkan ekologi, ekonomi, dan inovasi sains.

Mekanisme Biologis 

Proses pembusukan buah biasanya diawali oleh kerusakan fisik atau serangan patogen. 

Luka pada kulit buah menjadi pintu masuk mikroba, yang memanfaatkan gula dan asam amino sebagai sumber energi untuk tumbuh dan berkembang.

Setelah mengkolonisasi jaringan buah, jamur dan bakteri menghasilkan enzim seperti selulase dan pektinase yang memecah dinding sel, sehingga daging buah melemah dan menjadi lembek. 

Aroma asam atau bau fermentasi muncul sebagai hasil sampingan dari aktivitas metabolisme mikroba ini.

Laju pembusukan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Suhu tinggi mempercepat metabolisme dan reproduksi mikroba, kelembapan mendukung pertumbuhan jamur, dan ketersediaan oksigen menentukan jenis mikroba yang dominan serta pola kerusakan yang terjadi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved