Opini
Opini: Penulis Dua Jiwa Satu Perjalanan
Dari proses panjang itulah, seorang wartawan perlahan bertumbuh menjadi penulis yang menenun kisah dengan kedalaman rasa.
Oleh: Albertus Muda
Guru SMAS Keberbakatan Olahraga San Bernardino Lembata, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM -Nama Fince Bataona bukanlah nama yang asing di dunia jurnalistik Nusa Tenggara Timur.
Perjalanannya bermula dari ruang redaksi Harian Pos Kupang, tempat ia menapaki karier sebagai seorang kuli tinta.
Hari-harinya diisi dengan tugas-tugas kewartawanan seperti meliput peristiwa, mewawancarai narasumber, merangkai berita, lalu menyerahkannya ke meja editor agar esok pagi dapat dibaca publik.
Namun bagi Fince, pekerjaan sebagai wartawan bukan sekadar rutinitas. Di balik kesibukan itu, ia terus belajar mengasah kata dan memperluas cakrawala menulis.
Ia menekuni berbagai bentuk tulisan, termasuk feature dan ragam rubrik lain.
Baca juga: Opini: Menjaga Prosedur, Menegakkan Sistem Merit
Dari proses panjang itulah, seorang wartawan perlahan bertumbuh menjadi penulis yang menenun kisah dengan kedalaman rasa.
Kini, sebagai wartawan senior, Fince Bataona menorehkan jejak baru di dunia sastra dengan menghadirkan dua novel yang berakar kuat pada budaya Lamalera di Lembata: “Lamafa” dan “Lamauri.”
Kedua karya ini bukan sekadar cerita, melainkan jendela yang membuka pandangan pembaca pada tradisi maritim yang sarat nilai, keberanian, dan kebersamaan.
Novel “Lamafa” mengangkat kisah tentang sang juru tikam dalam tradisi perburuan paus di Lamalera.
Ia adalah sosok yang berdiri di ujung keberanian, menentukan apakah anugerah Tuhan yang dalam bahasa Lamalera disebut knato itu dapat dibawa pulang untuk memberi makan ribuan warga levo Lamalera.
Namun keberanian itu tidak berdiri sendiri. Seorang Lamafa dituntut menjaga kemurnian hidupnya.
Sebelum dan sesudah melaut, ia harus bersih dari cacat moral yang diyakini dapat membawa bahaya bagi dirinya maupun bagi peledang, perahu kayu yang mengarungi laut bersama para awaknya.
Kisah itu kemudian dilengkapi oleh novel kedua, “Lamauri.” Jika Lamafa adalah ujung tombak keberanian, maka Lamauri adalah penjaga arah perjalanan.
Ia berdiri di bagian paling belakang peledang, memegang kendali kemudi. Dari tangannya bergantung keselamatan seluruh awak.
Satu kesalahan arah saja dapat berujung petaka dimana perahu bisa dihantam ekor paus yang mengamuk atau karam oleh gelombang yang tak terduga.
Di sinilah kedua kisah itu bertemu dalam makna yang lebih dalam. Lamafa dan Lamauri bukan sekadar dua peran dalam tradisi perburuan paus, tetapi lambang dari kerja sama dan keseimbangan hidup.
Keberanian Lamafa membutuhkan ketenangan dan ketelitian Lamauri. Sebaliknya, keahlian Lamauri tak akan berarti tanpa keberanian Lamafa yang berdiri di depan menghadapi laut lepas.
Dari dua tokoh ini, pembaca diajak merenungkan nilai yang lebih luas yakni pentingnya kolaborasi, kesucian hidup, serta kemampuan mengendalikan arah perjalanan baik di laut maupun dalam kehidupan.
Sebab tanpa hati yang bersih dan kendali yang bijaksana, perjalanan manusia mudah tersesat dari tujuan.
Melalui dua novel ini, Fince Bataona seakan mengajak pembaca menyelam ke dalam jiwa Lamalera, ke tempat di mana laut bukan hanya ruang mencari nafkah, tetapi juga ruang belajar tentang keberanian, pengorbanan, dan kebersamaan.
Dua karya ini menjadi persembahan berharga bagi dunia sastra dan budaya lokal.
Sebuah undangan terbuka bagi para pembaca untuk menjelajahi kisah Lamafa dan Lamauri, sekaligus memetik hikmah dari dua peran yang mengajarkan kita tentang hidup yang lebih beradab, bermartabat, dan selalu berada dalam kendali nurani.
Pada akhirnya, Lamauri bukan sekadar sebuah novel untuk dibaca lalu dilupakan.
Ia adalah panggilan dari laut Lamalera, desir angin yang membawa kisah keberanian, ketekunan, dan kebijaksanaan manusia yang belajar mengendalikan arah hidupnya di tengah gelombang yang tak selalu bersahabat.
Karena itu, jangan biarkan kisah ini hanya berlabuh di kejauhan. Raihlah buku Lamauri, bukalah halamannya, dan biarkan diri Anda ikut berlayar bersama peledang Lamalera untuk menyusuri samudra nilai, keberanian, dan kebijaksanaan hidup.
Bacalah, milikilah, dan sebarkan kisahnya, agar semangat Lamalera terus hidup di hati para pembacanya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lamauri-Fince-Bataona.jpg)