Opini
Opini: Kejahatan dalam Lingkaran Kekuasaan dan Kekayaan
Ketika kemampuan berpikir melemah dan hati nurani menjadi tumpul, maka kejahatan dapat berlangsung tanpa rasa bersalah.
Oleh: Romo Yudel Neno, Pr
Imam Keuskupan Atambua, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Tulisan Reza A.A. Wattimena yang berjudul “Tuhan adalah Buatan Manusia, Gadis-Gadis Cantik itu Nyata: Jeffrey Epstein, Deepak Chopra dan… Kita” menghadirkan sebuah potret yang menggugah tentang relasi antara kekayaan, kekuasaan, spiritualitas, dan kejahatan.
Tulisan ini mempertemukan dua figur yang secara lahiriah tampak berbeda: Jeffrey Epstein dan Deepak Chopra.
Epstein dikenal sebagai seorang miliarder yang memperoleh kekayaannya melalui praktik keuangan yang penuh manipulasi dan penipuan, termasuk skema Ponzi.
Ia juga dikenal luas sebagai predator seksual yang mengeksploitasi ratusan gadis di bawah umur.
Namun, selama bertahun-tahun, kejahatan itu tidak tersentuh secara hukum, karena kekayaan yang dimilikinya membentuk jaringan kekuasaan yang mampu melindunginya dari konsekuensi hukum.
Baca juga: Opini: Koordinasi yang Membingungkan- Pelajaran dari Polemik Sekda Ngada
Di sisi lain, Deepak Chopra tampil sebagai figur yang sangat berbeda secara citra publik.
Ia dikenal sebagai seorang guru spiritual keturunan India yang menetap di Amerika Serikat, yang menulis ratusan buku dan menyelenggarakan berbagai seminar tentang spiritualitas, kesehatan batin, dan kesadaran manusia.
Dalam ruang publik, Chopra sering dipandang sebagai representasi kebijaksanaan spiritual modern.
Namun, sebagaimana ditunjukkan oleh Wattimena, realitas tidak selalu sejalan dengan citra moral yang ditampilkan.
Chopra tetap menjalin hubungan pertemanan dengan Epstein bahkan setelah kejahatan Epstein diketahui publik pada awal tahun 2000-an.
Dalam situasi tersebut, muncul pernyataan yang ironis sekaligus problematik: kepada Epstein, Chopra mengatakan bahwa “Tuhan adalah buatan manusia dan gadis-gadis cantik itu nyata.”
Pernyataan ini menjadi titik masuk bagi analisis kritis Wattimena. Bagi Wattimena, sikap Chopra memperlihatkan bentuk kemunafikan religius.
Spiritualitas yang selama ini ia ajarkan justru menjadi semacam selubung moral yang menutupi atau setidaknya mengabaikan kejahatan yang dilakukan oleh Epstein.
Spiritualitas dalam konteks ini tidak lagi menjadi ruang refleksi moral, melainkan menjadi mekanisme legitimasi simbolik yang memungkinkan seseorang tetap tampil bermoral di hadapan publik, sekalipun berada dalam lingkaran relasi dengan praktik kejahatan.
Yudel Neno
Romo Yudel Neno
Opini Pos Kupang
lingkaran kekuasaan
politik kekuasaan
Kekuasaan
harta kekayaan
Meaningful
| Opini: Problem Kerusakan Infrastruktur Jalan di Kampung Leong Manggarai Timur |
|
|---|
| Opini: Budaya Percaya Instan dan Jerat Pinjaman Digital |
|
|---|
| Opini: Kebebasan Berpendapat dalam Keprihatinan |
|
|---|
| Opini: Peta Jalan Menuju Malaka Bersih dari Korupsi |
|
|---|
| Opini: Bahasa Biologi- Puisi Kehidupan dari Molekul hingga Makhluk |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Romo-Yudel-Neno-04.jpg)