Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Ulat Grayak

Reproduksi ulat grayak sangat cepat. Seekor betina Spodoptera frugiperda dapat menghasilkan ratusan telur per siklus hidup.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YOSEPH YONETA M. WUWUR
Yoseph Yoneta Motong Wuwur 

Oleh: Yoseph Yoneta Motong Wuwur
Warga Lembata, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Spesies ulat grayak yang paling menonjol adalah Spodoptera frugiperda. Hama ini invasif, adaptif, dan bisa bermigrasi jarak jauh. Kehadirannya mengubah peta ancaman lahan jagung.

Reproduksi ulat grayak sangat cepat. Seekor betina Spodoptera frugiperda dapat menghasilkan ratusan telur per siklus hidup. Di iklim tropis, siklus hidup lebih singkat.

Populasi dapat melonjak tiba-tiba, serangan datang mendadak, dan sulit diprediksi.

Dampaknya sistemik. Tidak hanya tanaman yang terancam, tetapi juga pendapatan petani dan industri pakan. Ketahanan pangan ikut terganggu. 

Ancaman kecil secara fisik dapat menimbulkan implikasi besar secara struktural.

Ekologi dan Iklim

Perubahan iklim memperluas ruang hidup ulat grayak. Suhu rata-rata meningkat, pola hujan menjadi tidak menentu. 

Baca juga: Opini: Dari Bandung ke Maumere- Cinta KDM pada Warga Jabar yang Menginspirasi Pemimpin Daerah

Lingkungan tropis hangat dan lembap ideal bagi perkembangan hama ini. Siklus hidup ulat menjadi lebih cepat, populasi lebih padat.

Suhu hangat mempercepat metamorfosis larva. Musim reproduksi memanjang. Generasi hama muncul lebih sering dalam setahun. Tekanan terhadap tanaman meningkat. 

Populasi bisa melonjak secara tiba-tiba, membuat panen jagung rentan gagal. Anomali cuaca menggeser musim tanam. Periode tanam jagung menjadi tumpang tindih.

Hama mendapatkan pakan sepanjang tahun. Dampak ekologi berlangsung lebih lama. Efeknya bersifat berulang, bukan sekali saja.

Praktik monokultur memperburuk situasi. Keanekaragaman hayati menurun, musuh alami kehilangan habitat. 

Ekosistem tidak seimbang. Gangguan kecil dapat memicu ledakan populasi dan krisis produksi pangan. Tanaman yang homogen menjadikan serangan lebih masif.

Dampak Ekonomi Pangan

Kerugian akibat ulat grayak langsung dirasakan petani. Produktivitas jagung menurun, pendapatan rumah tangga menipis. 

Petani kecil yang mengandalkan satu komoditas paling rentan. Risiko kemiskinan meningkat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved