Sabtu, 11 April 2026

Opini

Opini: Menjaga Piring Tetap Penuh di Tengah Perayaan

Masalah ketahanan pangan di NTT berkaitan erat dengan status Provinsi NTT sebagai wilayah kepulauan. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI EMANUEL MANEHAT
Emanuel Manehat 

Oleh: Emanuel Manehat
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Di Nusa Tenggara Timur, perayaan keagamaan bukan hanya sekadar ritual spiritual, tetapi juga mewakili pengalaman komunal yang dipenuhi dengan pesta dan kebersamaan. 

Baik itu perayaan Tahun Baru Imlek yang meriah atau suasana reflektif Paskah 2026. 

Satu faktor yang memengaruhi kegembiraan di meja makan ialah stabilitas harga pangan. Di tengah perayaan, ancaman inflasi cenderung membayangi. 

Di NTT, tantangan ini sangat terasa karena ketergantungan masyarakat pada logistik eksternal dan kondisi cuaca yang seringkali tidak menentu seperti sekarang ini. 

Masalah ketahanan pangan di NTT berkaitan erat dengan status Provinsi NTT sebagai wilayah kepulauan. 

Baca juga: Opini: Valentine di Tengah Dunia yang Lelah- Masihkah Kita Percaya pada Cinta?

Penelitian menunjukkan bahwa selama Tahun Baru Imlek, ketika cuaca buruk melanda di awal tahun ada beberapa hambatan yang sering terjadi. 

Hambatan yang dimaksud ialah hambatan logistik karena sering terjadi keterlambatan bagi kapal yang mengangkut logistik dari Makassar atau Surabaya, dan karena kedekatannya dengan pusat distribusi penting, harga di daratan Timor ( Kupang) seringkali jauh lebih stabil dibandingkan dengan harga di daratan Sumba atau Flores.

Mengikuti kalender keagamaan, Nusa Tenggara Timur, biasanya mengalami dua puncak utama tekanan inflasi yakni periode Prapaskah ( Maret-April) dan periode Natal dan Tahun Baru ( Desember-Januari). 

Pada tahun 2024, NTT melaporkan inflasi tahunan (tahun-ke-tahun) yang relatif rendah sebesar 1,54 hingga 2,2 persen. Meskipun demikian, tekanan meningkat selama liburan, terutama pada kelompok makanan. 

Sedangkan pada tahun 2025, terjadi sebuah tren kenaikan yang lebih progresif terjadi. 

Inflasi tahun ke tahun mencapai puncaknya pada Juli 2025 sebesar 3,03 persen dan berakhir pada tahun tersebut sebesar 2,39 persen. 

Kesulitan distribusi logistik di seluruh kepulauan disorot oleh fakta bahwa Waingapu ( Sumba Timur) seringkali memiliki inflasi tertinggi di NTT, mencapai 3,09 persen. 

Sementara di tahun tahun ini terhitung bulan Februari, di Pemprov NTT stok beras bulog di NTT memiliki sekitar 13.000 ton beras mutu menengah (PSO) per Februari 2026. 

Untuk dua hingga tiga bulan ke depan, termasuk liburan Paskah, stok ini diperkirakan cukup untuk memenuhi permintaan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved