Opini
Opini: MBG, Solusi Gizi atau Tambal Sulam Kemiskinan NTT?
Di NTT, lapar bukan satu-satunya masalah. Yang lebih berat adalah hidup dalam kemiskinan yang panjang dan nyaris tanpa jalan keluar.
Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa Pascasarjana Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Program Makan Bergizi Gratis ( MBG) digagas dengan niat baik: memastikan anak-anak Indonesia tidak belajar dalam keadaan lapar.
Dalam banyak pidato dan dokumen resmi, program ini disebut sebagai wujud kehadiran negara bagi generasi masa depan.
Di atas kertas, MBG tampak manusiawi dan mendesak. Namun, ketika kebijakan nasional ini bertemu dengan kenyataan hidup di Nusa Tenggara Timur ( NTT), persoalannya menjadi jauh lebih kompleks.
Baca juga: Empat Atlet Asal NTT Perkuat Timnas Cricket Putri Indonesia
Di NTT, lapar bukan satu-satunya masalah. Yang lebih berat adalah hidup dalam kemiskinan yang panjang dan nyaris tanpa jalan keluar.
Karena itu, pertanyaan penting perlu diajukan secara jujur: apakah MBG sungguh menjawab persoalan anak-anak NTT, atau hanya menutupi luka lama dengan plester kebijakan baru?
MBG dan Realitas Sehari-hari Anak NTT
Di sejumlah sekolah, MBG memang menghadirkan sepiring nasi, lauk dan sayur. Bagi sebagian anak, itu mungkin satu-satunya makanan layak yang mereka terima hari itu.
Di ruang kelas, anak-anak tampak lebih tenang, tidak lagi belajar sambil menahan lapar. Pada titik ini, MBG jelas membawa manfaat nyata.
Namun, realitas berubah begitu bel sekolah berbunyi. Anak-anak kembali ke rumah yang sama, rumah dengan penghasilan tidak menentu, orang tua tanpa pekerjaan tetap, lahan kering yang sulit diolah dan air bersih yang terbatas. MBG berhenti di gerbang sekolah, sementara kemiskinan menunggu di rumah.
Di NTT, kemiskinan bukan peristiwa sesaat, melainkan kondisi hidup yang diwariskan.
Anak-anak tidak hanya kekurangan gizi, tetapi juga kekurangan seragam, sepatu, buku tulis, dan perlengkapan sekolah lainnya.
Banyak yang berangkat sekolah dengan rasa cemas, bukan karena pelajaran, tetapi karena takut ditanya soal perlengkapan yang tidak mereka miliki.
Tragedi anak yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, menjadi jeritan paling keras dari kenyataan ini.
Anak itu tidak mati karena lapar. Ia mati karena merasa gagal menjadi murid yang “layak” di tengah kemiskinan keluarganya.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa persoalan anak NTT bukan hanya soal makan siang, tetapi soal harga diri dan martabat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Goldy-Ogur.jpg)