Opini

Opini: Republik Anak Manja

Dengan tradisi saling memanjakan antar kader dan pimpinan, organisasi-organisasi di Indonesia hanyalah macan kertas. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DOMINGGUS ELCID LI
Dominggus Elcid Li 

Kejahatan ini dilakukan merata di berbagai organisasi politik, organisasi kenegaraan, organisasi keagaamaan dan organisasi kemasyarakatan Indonesia. 

Tragedi kecil-kecil ini dibiarkan hingga menjadi tumor ganas yang tidak ada jalan keluarnya.

Jika jabatan publik dimenangkan oleh kader terbaik, yang untung bukan hanya si anak semata, tetapi rakyat banyak. Hidup mereka diperjuangkan. 

Sedangkan ketika jabatan publik semata menjadi hadiah ‘sang bapak’, ‘sang ibu’, atau ‘sang mertua’ organisasi apa atau jabatan apa pun yang dipimpin kekuatannya tidak lebih dari sebongkah bonsai. 

Kekuatannya tidak ada. Karena mereka tidak pernah berakar dimana pun. Dengan kader bonsai nan manja yang menggegerogoti berbagai organisasi di Indonesia, daya hidup orang Indonesia tidak mendapatkan jalan keluarnya. 

Dengan kader terbaik, organisasi bisa hidup lurus. Dengan kader anak manja, semua pengurus dan anggota dipaksa untuk jadi jongos.

Revolusi anak manja 

Dengan tradisi saling memanjakan antar kader dan pimpinan, organisasi-organisasi di Indonesia hanyalah macan kertas. 

Tidak ada isinya. Tidak ada mungkin ada intan yang terbentuk dengan fenomena kemanjaan ini. 

Para pemimpin organisasi berpuas diri dengan menenggelamkan logika dalam retorika bacaan, dan melupakan tuntutan kemampuan untuk membaca realitas. 

Indoktrinasi yang membabibuta telah membuat kebencian semu semakin menjadi-jadi. Hal-hal yang tidak perlu dipersengketakan, malah menjadi barang sengketa. 

Nalar dan budi tidak lagi menjadi tuntunan, sebaliknya tenggelam dalam sekian kebodohan.

Jabatan-jabatan publik yang di-isi dengan kawanan anak manja membuat pengelolaan urusan publik semata menjadi urusan toilet pribadi. Urusan kantor menjadi urusan bapak-anak. 

Catatan pasca generasi 1998 ini dibuat untuk merenungi jalan salah Indonesia. Ketika revolusi menjadi jargon anak manja, memang sungguh merepotkan. 

Idealnya, jika kita mendapatkan pemimpin yang cukup ditempa dan kenyang penderitaan di fase kaderisasi, mereka akan menjadi tiang untuk warganya. 

Sedangkan pejabat yang muncul yang mendapatkan jabatan sekadar warisan orangtua/mertua/om/tante ini jelas-jelas bikin pusing.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved