Breaking News

Opini

Opini: Memaknai Waktu

Banyak sejarah peristiwa yang bergerak di kedalaman, di bawah buih gelombang waktu yang terangkat. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI SINTUS RUNESI
Sintus Runesi 

Oleh: Sintus Runesi
Seminari Tinggi St. Mikhael Penfui Kupang - Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Satu tahun lagi akan berlalu. Seperempat abad pertama dalam perjalanan melintasi abad ke-21 akan dilampaui. 

Ia masuk dalam kotak sejarah, yang mana sewaktu-waktu dapat dihadirkan kembali sebagai kenangan yang berkesan atau luka yang berpesan. 

“Saya mengerti, dalam sejarah telah kutinggalkan jejak,” tulis Carlo Salustri dalam salah satu puisinya. 

Bahwa jejak itu dapat membuat orang membusungkan dadanya sambil meremehkan pihak lain, tetapi jejak yang sama bisa membuat banyak pihak terpuruk dalam kebencian dan trauma. 

Artinya, yang berlalu akan selalu tinggal tertahan, sedangkan yang akan datang selalu mendesak masuk demi mengambil-alih yang telah lalu. 

Baca juga: Opini: Refleksi Akhir Tahun 2025

Tahun 2025 akan segera akan berlalu. Tahun baru 2026 akan dimulai. Banyak peristiwa telah kita lalui bersama di dalam alunan waktunya yang pelan dan lambat. 

Banyak sejarah peristiwa yang bergerak di kedalaman, di bawah buih gelombang waktu yang terangkat. 

Namun, kita juga tetap percaya bahwa di permukaan gelegak peristiwa-peristiwa kejatuhan atau kehilangan, pancaran harapan tetap bersinar. 

Harapan selalu tinggal tetap karena kehadirannya melampaui kemahakuasaan waktu dengan sentuhan kerusakan dan kerapuhannya.

Kembalinya Waktu    

Dalam filsafat perrenial, sebagaimana ditunjukan oleh Wilhelm Schmidt-Biggemann (2004), kesadaran akan kemewaktuan manusia bergantung pada wahyu. 

Melalui wahyu, semesta kenyataan, entah itu kenyataan-kenyataan manusiawi maupun kenyataan-kenyataan alamiah menjadi tanda. 

Kondisi bahwa sesuatu itu menjadi tanda adalah bahwa ia menyembunyikan sesuatu yang masih belum tersingkapkan sepenuhnya. 

Ketersembunyian ini selalu diharapkan menjadi sesuatu yang terlihat, namun untuk saat ini masih tetap tersembunyi. 

Artinya, kita melihat bahwa pewahyuan dan kemewaktuan merupakan proses dialektis yang terus berlangsung, antara dimensi batin dari wahyu dan ekspektasi luarnya, yang melahirkan kesadaran akan waktu dan dunia sebagai tanda.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved