Opini
Opini: Memaknai Waktu
Banyak sejarah peristiwa yang bergerak di kedalaman, di bawah buih gelombang waktu yang terangkat.
Seturut itu menjadi penting untuk menyadari bahwa setiap tanda yang terjadi pada masa kini mengisyaratkan apa yang akan terjadi di masa depan.
Tanda-tanda selalu menandai gejala masa depan. Dalam arti ini, dunia menjadi tanda dari masa depan, yang akan terungkap pada suatu saat.
Sebagai tanda, dunia dan kemanusiaan kita menerima kemewaktuannya dalam kaitannya dengan arah dan makna yang akan diberikan.
Dan momen yang menentukan dari makna yang terkandung di dalam setiap peristiwa, terkandung dalam gagasan bahwa dunia adalah suatu keseluruhan, yang mencakup suatu permulaan, tengahan dan terutama suatu akhir atau tujuan.
Hanya yang disebut sebagai yang-terakhir atau tujuanlah yang memberi kita sudut pandang melaluinya sejarah kita bisa dipandang sebagai satu keseluruhan.
Dengan kata lain, yang-terakhir memberi kita cakrawala penafsiran. Penafsiran itu bisa bernuansa penantian yang membangkitkan harapan, tetapi penafsiran itu juga bisa berarti penolakan atau perlawanan terhadap masa depan yang akan datang.
Kata-kata Yohanes Pembaptis dalam narasi injil memberitahu kita tentang yang-terakhir sebagai kategori yang menentukan dalam cakrawala penafsiran dan pemaknaan. “Yang datang kemudian dari aku, lebih besar dari padaku.”
Bagi mereka yang berada dalam penantian, kehadiran yang-terakhir itu diharapkan dengan penuh kerinduan.
Tetapi bagi mereka yang melihat kedatangan yang-terakhir sebagai ancaman terhadap posisi dan kekuasaannya, kedatangannya harus dihentikan.
Caranya adalah dengan menghancurkan masa depan yang datang bersama yang-terakhir. Dalam konteks ini, aborsi atau infantisida selalu bergerak dalam logika penghentian dan penghancuran masa depan.
Bagi para majus dan gembala misalnya, yang-terakhir itu adalah harapan, tetapi bagi Herodes Agung, yang-terakhir adalah ancaman.
Majus dan gembala bergembira melihat bayi dalam palungan, Herodes takut dan melakukan pembantaian.
Dalam konteks filosofis, yang-terakhir adalah dia yang lebih berdaulat, karena dia sekaligus adalah yang pertama, arche, asal-usul eksistensi, karena itu kedatanganya perlu ditunda atau ditahan.
Itulah sebabnya, kedaulatan dari yang-terakhir itu selalu berada dalam ketegangan eskatologis dan katechontis.
Katechon, seperti dalam penjelasan Paulus, adalah dia “yang menahan” kedatangan yang-terakhir (2 Tes 2:3-9).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sintus-Runesi.jpg)