Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini - Natal Neonatus Sang Sabda yang Diandi Antarakita

Setiap tahun orang Kristen merayakan Natal, saat Tuhan Yesus Kristus lahir ke tengah dunia.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Dr. Fidel Wotan, SMM, Lic, Montfortan Indonesia yang kini bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi “Montfort”, Malang. 

Oleh: P. Dr. Fidel Wotan, SMM, Lic.
(Montfortan Indonesia yang kini bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi “Montfort”, Malang)

POS-KUPANG.COM - Natal telah tiba dan sekali lagi dunia boleh bergembira karena telah lahir Sang Juru Selamatnya, Imanuel, Allah beserta manusia yang diam di tengah-tengahnya. 

Setiap tahun orang Kristen merayakan Natal, saat Tuhan Yesus Kristus lahir ke tengah dunia dalam dan melalui rahim Santa Perawan Maria, Bunda-Nya. 

Natal itu sesuatu yang sangat dirindukan karena Allah yang sangat mengasihi dunia rela merendahkan diri-Nya menjadi Bayi mungil, yang lemah dan hina-hina dengan memasuki ruang dan waktunya manusia.

Antara Penjelmaan dan Natal: Kontradiksi Saat “Masuk” dan “Keluar”

Natal itu - meskipun di mana-mana itu dirayakan dengan penuh sukacita - pertama-tama bukan sekedar asesorisnya yang menghiasi kandang Natal

Demikian juga itu bukan sekedar lantunan lagu-lagu Natal yang merdu dan menyukakan hati, akan tetapi soal bagaimana setiap hati dari bilangan kaum Kristen tahu menyambut kelahiran Sang Sabda, Sang Kebijaksanaan yang menjelma dari rahim Maria.

St. Efrem, penyair terkenal pernah berkata: “Rahim Bunda-Mu telah menjungkirbalikkan keteraturan segala sesuatu. Pencipta segala sesuatu, masuk kaya, keluar sebagai pengemis; masuk dengan keagungan, keluar sebagai yang hina-dina; masuk dengan cahaya semarak, keluar diliputi cahaya yang suram”.

Puisi penyair, pujangga yang juga adalah seorang Bapa Gereja ini, secara amat menggetarkan dan penuh kekaguman melukiskan secara indah bagaimana Bunda Maria telah menjadi ruang penghampaan diri Allah (kenosis) yang sangat radikal (bdk. Flp 2:6-11) demi menyelamatkan umat manusia.

Pertanyaannya, bagaimanakah setiap umat Kristen boleh mendalami betapa indahnya syair ini ketika ia hendak mengkontemplasikan misteri “Penjelmaan (25 Maret) dan Natal Sang Putra Allah” (25 Desember)?

Allah rela melepaskan segala-galanya: keagungan, kemuliaan dan kebesaran nama-Nya. Dialah yang turun dari singgasana-Nya dan mau menjadi kecil, hina dengan cara menghampakan diri-Nya dan rela menjadi seorang hamba yang taat sampai mati di kayu Salib (bdk. Flp2:6-11).

Kalau memperhatikan dengan saksama, syair St. Efrem tersebut, maka sebetulnya bisa dipahami makna “Penjelmaan” dan “Natal”. Penjelmaan adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada saat Maria diberi kabar gembira oleh Malaikat Gabriel (bdk. Luk 1:26-38) yang dirayakan Gereja pada25 Maret.

Natal adalah peristiwa kelahiran dalam sejarah dari Sang Kebijaksanaan (Sang Sabda) yang menjelma menjadi manusia yang secara liturgis dirayakan pada 25 Desember. Peristiwa “Penjelmaan” dilukiskan dengan kata “masuk”, sedangkan “Natal” digambarkan dengan kata“keluar”.

Antara situasi saat masuk dan saat keluar terdapat suatu paradoks yang tajam. Yang menerima “keadaan-Nya” saat masuk adalah rahim Maria, dan yang memberi bentuk pada“keadaan” duniawi-Nya adalah rahim Bunda Maria. 

Rahim Maria menerima segala kekayaan, keagungan dan cahaya semarak mulia Sang Putra Allah, dan “rahim” yang sama itu pula memberi keadaan sebagai “pengemis”, sebagai yang “hina dina”, kepada Putra Allah.

Dari sini mungkin muncul sebuah pertanyaan: apakah akal budi mampu mengerti misteri Sabda yang menjadi manusia ini dengan baik dan dapat menjelaskan hal yang terlampau mustahil ini seperti yang diwartakan Injil pada 25 Desember hari ini?:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:1,14)? 

Demikian pula, sebagai manusia, apakah pikiran manusia dapat menjelaskan Dia yang dikatakan demikian: “Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga, dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16), malah lahir dalam keadaan hina, oleh Maria “dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7) sementara ibu-nya tetap perawan karena ia mengandung berkat naungan Roh Kudus (Luk 1:35)? Dan lagi, adakah akal budi kita mampumenjelaskan Dia yang dikatakan demikian: “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diamdi dalam Dia” (Kol 1:19), malah telah “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati dikayu salib” (bdk. Flp 2:6-11)?

Hanya “cinta” (Yoh 3:16) yang dapat menjelaskan kontradiksi ini, sebab hanya cinta pulalah yang telah memungkinkan terjadinya peristiwa kenosis Allah ini, Sabda menjadi Manusia dan diam di antara kita. Inilah misteri ilahi yang secara de facto melampaui akal budi (bdk. Ef 3:19).

Natal dan Undangan Refleksi Diri

Di hadapan misteri agung Natal, setiap orang Kristen diajak untuk menyadari eksistensi diri, di mana ia dapat menyadari keseluruhan dirinya sembari memunculkan rasa kagum dan kegentaran yang mendalam (tremendum et fascinosum) di hadapan Dia yang merendahkandiri-Nya menjadi Manusia.

Oleh karena itu, pantaslah kalau seluruh umat Kristen yang telah mempersiapkan diri menyambut kelahiran Sang Imanuel pada masa Adventus, hadir di dalam suasana khusus hari ini dengan rasa takjub dan sukacita yang luar biasa akan jalan yang dipilih Allah, karena cinta-Nya yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan mereka.

Mungkin kita sendiri yang telah mempersiapkan diri menyambut misteri Natal ini dengan seribu satu macam persoalan, kegagalan, keterbatasan, ketakutan-kecemasan, kekecewaan, dan kelemahan karena dosa-dosa pribadi dan oleh karenanya juga dengan rendah hati menyatakan ketidakpantasan karena menyadari kekecilan dan ketakpantasan di hadapan Bayi mungil yang lahir di Betlehem hari ini.

Dari sebab itu, tepatlah jikalau disadari bahwa kita adalah “kaum pendosa besar”, yang tidak pantas … seribu kali tidak pantas untuk menerima Rahmat Allah yang mahagung nan mulia ini.

Jadi, sembari menyadari dalam dan lebarnya jurang pemisah antara kekudusan Allah dan ketidakpantasan kita, namun juga dalam rasa syukur yang tinggi kita perlu bersukacita karena Allah telah meniadakan jurang itu, di mana Dia telah menjadi Manusia dan diamdi antarakita, dialah Putera Allah yang lahir dari rahim Perawan Suci Maria. Dialah yang akan menyelamatkan manusia dari kungkungan dosa dan kematian.

Biasanya di hari Natal orang memakai momen itu untuk silahturami, berkunjung satu sama lain membagikan sukacita terhadap saudara-saudarinya.

Tapi lebih dari itu, sebetulnya Natal juga adalah saat yang tampan untuk berefleksi dan mengingatkan kita akan “Kasih Allah” yang begitu besar pada dunia dan manusia.

Natal yang sama juga merupakan momen keakraban penuh persaudaraan seperti dalam rangka untuk saling mengibur, meneguhkan, berbagi sukacita keakraban, kehangatan persaudaraan karena ikatan emosional, dll.

Natal dengan demikian dapat dipersepsi sebagai kesempatan untuk merenungkan kembali masa lalu, merangkul masa kini dan merencanakan masa depan.

Natal itu sejatinya lebih dari sekadar sebuah masa liburan, karena momen ini adalah waktu yang tampan untuk introspeksi diri, terkoneksi dengan pengalaman hidup kita dan konstruksi masa depan yang diresapi dengan makna.

Ini adalah saat di mana setiap orang Kristen diundang untuk “menghidupi masa kini sepenuhnya” untuk mengalami kepenuhan momen, merangkul sukacita dan menghargai kendahan setiap peristiwa di sekitarnya.

Oleh karena itu, sudah waktunya untuk “menjadi manusia Kristiani yang otentik di hari Natal”, karena Natal membuka pintu ke dimensi pemulihan dalam hidup bersama baik di dalam keluarga maupun dalam komunitas, atau pun dalam suatu masyarakat, suatu kesempatan untuk melihat kembali masa lalu, memaafkan dan merangkul satu sama lain sama seperti Sang Sabda yang hadir di tengah umat manusia untuk mendamaikan dan membawa sukacita bagi siapa saja.

“Dan Firman itu menjadi daging dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Ini adalah keinginan ilahi Tuhan, untuk tinggal bersama kita. Oleh karena itu, kehadiran Yesus, Sang Imanuel adalah puncak Spiritualitas Natal, menunjukkan bahwa kasih karunia sejati terletak dalam hal menyambut kelahiran Kristus dalam berbagai dimensi keberadaan kita.

Oleh karena itu, tugas untuk membuat Yesus “hadir dalam hidup kita” menjadi doa yang mendalam dari hubungan rohani dan manusiawi, keinginan untuk mengubah kehidupan sehari-hari menjadi tindakan suci. Ini menyiratkan suatu bentuk penghayatan hidup “yang biasa dengan kebajikan yang luar biasa”.

Dalam konteks biasa, Natal menjadi identik dengan menunggu, kedatangan, hidup dan waktu, karena Tuhan yang menjadi Manusia itu tidak memilih tempat kelahiran-Nya, tetapi “menunggu hati dan rumah yang terbuka untuk menyambut-Nya” dari setiap kita manusia Kristiani.

Natal bukan Sekedar Liburan Akhir Tahun

Sebagai sebuah perayaan keagamaan dan sekaligus tradisi Kristiani yang dirayakan dari generasi ke generasi, Natal telah menjadi sebuah identitas diri.

Natal dalam arti tertentu harus diakui telah menjadi “hari libur universal”, dan bahkan mereka yang tidak percaya pun merasakan pesona dahsyat dari ulang tahun kelahiran seorang Allah menjadi Manusia ini.

Orang Kristen, bagaimanapun juga, tahu bahwa Natal adalah peristiwa yang menentukan, api abadi yang telah dinyalakan Tuhan di dunia, dan tidak dapat disamakan dengan hal-hal sementara.

Penting dicatat pula bahwa itu tidak direduksi menjadi sekedar urusan sentimental atau konsumeris semata. Kalau dilihat dengan baik apa yang terjadi dalam hidup manusia di dunia saat ini, muncul suatu masalah bahwa di mana kadang-kadang konsumerisme mengikis nilai kesederhanan Natal itu sendiri.

Tidaklah seharusnya demikian. Bagaimana pun juga, Natal tak boleh direduksi menjadi hari libur sentimental atau konsumeris semata, suatu kesempatan yang dibanjari oleh aneka hadiah yang kaya dan salam damai Natal, tetapi ternyata miskin dalam penghayatan iman sebagai orang Kristen yang otentik, dan juga miskin dalam menghayati nilai-nilai kemanusiaan: solidaritas, pengampunan, belaskasihan, pengorbanan, kesederhanaan, iman dan ketaatan pada Allah.

Oleh karena itu, pelajaran yang berharga di hari Natal ini ialah bagaimana setiap orang Kristen perlu belajar membendung diri dari mentalitas duniawi tertentu, tidak mampu memahami inti pokok dari iman itu sendiri, yaitu “Firman menjadi daging dan tinggal di antara kita; dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, kemuliaan Anak tunggal yang berasal dari Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14). Dan ini adalah inti dari Natal, dan memang, itu adalah kebenaran Natal yang tiada duanya; tidak ada yang lain.

Catatan Akhir (Kontemplasi atas Misteri Kasih Persahabatan Allah dan Manusia)

Natal mengundang kita untuk merenungkan, di satu sisi, pada sifat dramatis sejarah, dimana manusia, yang terluka oleh dosa, yang terus menerus mau mencari kebenaran, belas kasihan, serta penebusan dan di sisi lain, mengajak kita untuk mengkontemplasikan tentang “kebaikan Allah”, yang datang untuk menjumpai dan mengkomunikasikan kepada kita “kebenaran yang menyelamatkan” dan membuat kita berbagi dalam spirit persahabatan dengan-Nya.

Rahmat dari Allah ini merupakan karunia murni, tanpa jasa sedikit pun dari manusia. Kita menerima kasih karunia ini melalui kesederhanaan, kelemahan dan kemanusiaan Yesus yang lahir sebagai “pengemis” yang miskin dalam keterbatasan diri sebagai manusia hina.

Kita dapat mengatasi rasa kebingungan yang mengganggu itu, tidak membiarkan diri kita diliputi oleh kekalahan dan kegagalan, dalam suatu kesadaran penuh bahwa Sang Putra yang rendah hati dan miskin itu, Dia yang tersembunyi dan tidak berdaya dalam rahim Perawan Suci Maria itu, ternyata adalah Tuhan kita sendiri, yang mau merendahkan diri-Nya menjadi seperti kita dan tinggal di antarakita. Selamat merayakan sukacita dan damai Natal 2025. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved