Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini - Natal Neonatus Sang Sabda yang Diandi Antarakita

Setiap tahun orang Kristen merayakan Natal, saat Tuhan Yesus Kristus lahir ke tengah dunia.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Dr. Fidel Wotan, SMM, Lic, Montfortan Indonesia yang kini bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi “Montfort”, Malang. 

Ini adalah saat di mana setiap orang Kristen diundang untuk “menghidupi masa kini sepenuhnya” untuk mengalami kepenuhan momen, merangkul sukacita dan menghargai kendahan setiap peristiwa di sekitarnya.

Oleh karena itu, sudah waktunya untuk “menjadi manusia Kristiani yang otentik di hari Natal”, karena Natal membuka pintu ke dimensi pemulihan dalam hidup bersama baik di dalam keluarga maupun dalam komunitas, atau pun dalam suatu masyarakat, suatu kesempatan untuk melihat kembali masa lalu, memaafkan dan merangkul satu sama lain sama seperti Sang Sabda yang hadir di tengah umat manusia untuk mendamaikan dan membawa sukacita bagi siapa saja.

“Dan Firman itu menjadi daging dan diam di antara kita” (Yoh 1:14). Ini adalah keinginan ilahi Tuhan, untuk tinggal bersama kita. Oleh karena itu, kehadiran Yesus, Sang Imanuel adalah puncak Spiritualitas Natal, menunjukkan bahwa kasih karunia sejati terletak dalam hal menyambut kelahiran Kristus dalam berbagai dimensi keberadaan kita.

Oleh karena itu, tugas untuk membuat Yesus “hadir dalam hidup kita” menjadi doa yang mendalam dari hubungan rohani dan manusiawi, keinginan untuk mengubah kehidupan sehari-hari menjadi tindakan suci. Ini menyiratkan suatu bentuk penghayatan hidup “yang biasa dengan kebajikan yang luar biasa”.

Dalam konteks biasa, Natal menjadi identik dengan menunggu, kedatangan, hidup dan waktu, karena Tuhan yang menjadi Manusia itu tidak memilih tempat kelahiran-Nya, tetapi “menunggu hati dan rumah yang terbuka untuk menyambut-Nya” dari setiap kita manusia Kristiani.

Natal bukan Sekedar Liburan Akhir Tahun

Sebagai sebuah perayaan keagamaan dan sekaligus tradisi Kristiani yang dirayakan dari generasi ke generasi, Natal telah menjadi sebuah identitas diri.

Natal dalam arti tertentu harus diakui telah menjadi “hari libur universal”, dan bahkan mereka yang tidak percaya pun merasakan pesona dahsyat dari ulang tahun kelahiran seorang Allah menjadi Manusia ini.

Orang Kristen, bagaimanapun juga, tahu bahwa Natal adalah peristiwa yang menentukan, api abadi yang telah dinyalakan Tuhan di dunia, dan tidak dapat disamakan dengan hal-hal sementara.

Penting dicatat pula bahwa itu tidak direduksi menjadi sekedar urusan sentimental atau konsumeris semata. Kalau dilihat dengan baik apa yang terjadi dalam hidup manusia di dunia saat ini, muncul suatu masalah bahwa di mana kadang-kadang konsumerisme mengikis nilai kesederhanan Natal itu sendiri.

Tidaklah seharusnya demikian. Bagaimana pun juga, Natal tak boleh direduksi menjadi hari libur sentimental atau konsumeris semata, suatu kesempatan yang dibanjari oleh aneka hadiah yang kaya dan salam damai Natal, tetapi ternyata miskin dalam penghayatan iman sebagai orang Kristen yang otentik, dan juga miskin dalam menghayati nilai-nilai kemanusiaan: solidaritas, pengampunan, belaskasihan, pengorbanan, kesederhanaan, iman dan ketaatan pada Allah.

Oleh karena itu, pelajaran yang berharga di hari Natal ini ialah bagaimana setiap orang Kristen perlu belajar membendung diri dari mentalitas duniawi tertentu, tidak mampu memahami inti pokok dari iman itu sendiri, yaitu “Firman menjadi daging dan tinggal di antara kita; dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, kemuliaan Anak tunggal yang berasal dari Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yohanes 1:14). Dan ini adalah inti dari Natal, dan memang, itu adalah kebenaran Natal yang tiada duanya; tidak ada yang lain.

Catatan Akhir (Kontemplasi atas Misteri Kasih Persahabatan Allah dan Manusia)

Natal mengundang kita untuk merenungkan, di satu sisi, pada sifat dramatis sejarah, dimana manusia, yang terluka oleh dosa, yang terus menerus mau mencari kebenaran, belas kasihan, serta penebusan dan di sisi lain, mengajak kita untuk mengkontemplasikan tentang “kebaikan Allah”, yang datang untuk menjumpai dan mengkomunikasikan kepada kita “kebenaran yang menyelamatkan” dan membuat kita berbagi dalam spirit persahabatan dengan-Nya.

Rahmat dari Allah ini merupakan karunia murni, tanpa jasa sedikit pun dari manusia. Kita menerima kasih karunia ini melalui kesederhanaan, kelemahan dan kemanusiaan Yesus yang lahir sebagai “pengemis” yang miskin dalam keterbatasan diri sebagai manusia hina.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved