Jumat, 15 Mei 2026

Opini

Opini - Natal Neonatus Sang Sabda yang Diandi Antarakita

Setiap tahun orang Kristen merayakan Natal, saat Tuhan Yesus Kristus lahir ke tengah dunia.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Dr. Fidel Wotan, SMM, Lic, Montfortan Indonesia yang kini bertugas sebagai Rektor Seminari Tinggi “Montfort”, Malang. 

Dari sini mungkin muncul sebuah pertanyaan: apakah akal budi mampu mengerti misteri Sabda yang menjadi manusia ini dengan baik dan dapat menjelaskan hal yang terlampau mustahil ini seperti yang diwartakan Injil pada 25 Desember hari ini?:

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita” (Yoh 1:1,14)? 

Demikian pula, sebagai manusia, apakah pikiran manusia dapat menjelaskan Dia yang dikatakan demikian: “Di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga, dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16), malah lahir dalam keadaan hina, oleh Maria “dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk 2:7) sementara ibu-nya tetap perawan karena ia mengandung berkat naungan Roh Kudus (Luk 1:35)? Dan lagi, adakah akal budi kita mampumenjelaskan Dia yang dikatakan demikian: “Seluruh kepenuhan Allah berkenan diamdi dalam Dia” (Kol 1:19), malah telah “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati dikayu salib” (bdk. Flp 2:6-11)?

Hanya “cinta” (Yoh 3:16) yang dapat menjelaskan kontradiksi ini, sebab hanya cinta pulalah yang telah memungkinkan terjadinya peristiwa kenosis Allah ini, Sabda menjadi Manusia dan diam di antara kita. Inilah misteri ilahi yang secara de facto melampaui akal budi (bdk. Ef 3:19).

Natal dan Undangan Refleksi Diri

Di hadapan misteri agung Natal, setiap orang Kristen diajak untuk menyadari eksistensi diri, di mana ia dapat menyadari keseluruhan dirinya sembari memunculkan rasa kagum dan kegentaran yang mendalam (tremendum et fascinosum) di hadapan Dia yang merendahkandiri-Nya menjadi Manusia.

Oleh karena itu, pantaslah kalau seluruh umat Kristen yang telah mempersiapkan diri menyambut kelahiran Sang Imanuel pada masa Adventus, hadir di dalam suasana khusus hari ini dengan rasa takjub dan sukacita yang luar biasa akan jalan yang dipilih Allah, karena cinta-Nya yang berkobar-kobar untuk menyelamatkan mereka.

Mungkin kita sendiri yang telah mempersiapkan diri menyambut misteri Natal ini dengan seribu satu macam persoalan, kegagalan, keterbatasan, ketakutan-kecemasan, kekecewaan, dan kelemahan karena dosa-dosa pribadi dan oleh karenanya juga dengan rendah hati menyatakan ketidakpantasan karena menyadari kekecilan dan ketakpantasan di hadapan Bayi mungil yang lahir di Betlehem hari ini.

Dari sebab itu, tepatlah jikalau disadari bahwa kita adalah “kaum pendosa besar”, yang tidak pantas … seribu kali tidak pantas untuk menerima Rahmat Allah yang mahagung nan mulia ini.

Jadi, sembari menyadari dalam dan lebarnya jurang pemisah antara kekudusan Allah dan ketidakpantasan kita, namun juga dalam rasa syukur yang tinggi kita perlu bersukacita karena Allah telah meniadakan jurang itu, di mana Dia telah menjadi Manusia dan diamdi antarakita, dialah Putera Allah yang lahir dari rahim Perawan Suci Maria. Dialah yang akan menyelamatkan manusia dari kungkungan dosa dan kematian.

Biasanya di hari Natal orang memakai momen itu untuk silahturami, berkunjung satu sama lain membagikan sukacita terhadap saudara-saudarinya.

Tapi lebih dari itu, sebetulnya Natal juga adalah saat yang tampan untuk berefleksi dan mengingatkan kita akan “Kasih Allah” yang begitu besar pada dunia dan manusia.

Natal yang sama juga merupakan momen keakraban penuh persaudaraan seperti dalam rangka untuk saling mengibur, meneguhkan, berbagi sukacita keakraban, kehangatan persaudaraan karena ikatan emosional, dll.

Natal dengan demikian dapat dipersepsi sebagai kesempatan untuk merenungkan kembali masa lalu, merangkul masa kini dan merencanakan masa depan.

Natal itu sejatinya lebih dari sekadar sebuah masa liburan, karena momen ini adalah waktu yang tampan untuk introspeksi diri, terkoneksi dengan pengalaman hidup kita dan konstruksi masa depan yang diresapi dengan makna.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved