Opini
Opini: Transparansi di Era Digital
Keterbukaan ini tidak selalu lahir dari pilihan sadar individu, melainkan dari cara teknologi digital dirancang dan dioperasikan.
Dunia digital kini menyerupai desa kecil yang hidup dalam keterbukaan total, lebih besar, lebih cepat, dan lebih rapuh.
Jika transparansi tidak dikendalikan oleh nilai kemanusiaan dan etika publik, ia berisiko meruntuhkan kebebasan atas nama keterbukaan itu sendiri.
Namun, bila dikelola dengan bijak, transparansi justru dapat menjadi fondasi masyarakat yang lebih adil, bertanggung jawab, dan bermartabat.
Kita hidup di sebuah desa global di mana hampir semua hal terlihat, namun sangat sedikit yang dijelaskan.
Masalahnya bukan lagi seberapa banyak yang kita tunjukkan, tetapi siapa yang mengontrol apa yang terlihat dan untuk tujuan apa.
Ketika transparansi dipandang sebagai kebajikan tanpa pertanyaan, ia dapat disalahgunakan sebagai kedok: warga terekspos, sistem tertutup, dan kekuasaan tanpa wajah.
Di era digital, transparansi bisa menjadi alat keadilan atau bentuk dominasi yang canggih.
Perbedaan itu tidak ditentukan oleh teknologi, tetapi oleh keputusan manusia yang mengelolanya. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paskalis-Semaun1.jpg)