Opini

Opini: Peziarah Harapan Menulis

Kedamaian, sukacita dan belaskasihan bukan lagi hanya pengharapan, tetapi kepenuhan, dan itulah keutamaan Kristiani.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Dominasi patriarki masih seolah-olah secara legal bertahan melalui kekuatan hegemoni maskulinitas yang membenarkan diskriminasi gender dan menyebabkan kekerasan terhadap perempuan, bersekutu dengan sistem dominasi lainnya, serta interseksionalitas diskriminasi terhadap perempuan dan merosotnya feminisme dalam pendidikan dan di kalangan kaum muda. 

Fundamentalisme agama yang menyebabkan perang agama yang menghancurkan kehidupan manusia, dan membenarkannya kejahatan itu atas nama Tuhan. 

Ditemukan juga xenofobia, rasisme dan aporophobia terhadap masyarakat miskin, kelompok migran, pengungsi, dan orang terlantar, yang sering berujung pada praktik kekerasan. 

Namun di tempat lain, praktik penyembahan berhala, yang saat ini berupa penyembahan bukan kepada anak lembu emas, tetapi kepada kebangkitan agama-agama, yang seringkali bersifat patologis. 

Munculnya Kristen-fasisme sebagai agama baru dengan banyak pengikut. Ini dibangun dari aliansi antara kelompok sayap kanan politik dan budaya, yang didukung oleh neoliberalisme, dan gerakan-gerakan Kristen fundamentalis, yang didukung oleh para pemimpin Kristen fundamentalis, dan diterjemahkan menjadi ujaran kebencian.

Pelanggaran hak asasi manusia secara sistematis oleh negara dan lembaga internasional yang memiliki target untuk memastikan penaklukan dan menciptakan ketergantungan. 

Narasi perang, yang mendiskualifikasi bahasa dan praktik pasifis dan mengutamakan wacana dan praktik konfrontasi bersenjata.  

Selain perdagangan manusia, turisme seksual, bisnis industri seksual, pornografi, judi, game online, pinjaman online, juga perdagangan senjata dan bom menjadi bisnis legal internasional.

Kolonialisme dan neo-kolonialisme, yang kelangsungan hidupnya, bahkan setelah proses kemerdekaan, diterjemahkan ke dalam kolonialitas keberadaan, kepemilikan, dan kekuasaan. 

Ini digerakan begitu cekat tingkat geopolitik dalam rupa teknologi canggih, robot, senjata, ponsel pintar, komputer, alat-alat kesehatan, ilmu pengetahuan, makanan cepat saji, dan obat-obatan.

Pengerukan dan penghancuran alam yang telah menjadi tempat pembuangan sampah, yang berujung pada kejahatan ekologi melalui ekstraktivisme dan sistem eksploitasi lainnya. 

Ini sangat teliti dan sistematis dijelaskan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si 2015, dan Laudato Deum 2023.

Beberapa dekade terakhir adalah kekerasan digital, tidak hanya dilakukan oleh para pelakuk ekonomi digital, buzzer politik, propaganda dan demogogi radikalisme agama, tetapi juga oleh netizen biasa. 

Kekerasan digital tidak hanya dilakukan melalui ancaman, tetapi dengan cara halus, yang dapat menghabiskan uang di bank, dan nyawa sesama. 

Jika orang Katolik tidak ingin terjerumus ke dalam ketidakrelevanan sosial, budaya, ekonomi, dan politik, serta kehilangan makna dalam keruntuhan dan berantakan dunia yang sedang kita alami, dan orang Katolik ingin menyampaikan pesan harapan di tengah kegelapan masa kini, maka orang Katolik harus menjadi pembebas bagi orang-orang yang paling rentan, kelompok miskin dan orang-orang tertindas. 

Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved