Opini

Opini: Peziarah Harapan Menulis

Kedamaian, sukacita dan belaskasihan bukan lagi hanya pengharapan, tetapi kepenuhan, dan itulah keutamaan Kristiani.

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MELKI DENI
Melki Deni, S. Fil 

Sementara mengikuti Misa di Tor Vegata itu, saya bergelut dengan dunia pemikiran saya sendiri. 

Saya berpikir bahwa tidak sedikit orang tidak mengenal agama, dan tidak memiliki gambaran tentang Allah bukan karena kurang atau tidak adanya para pewarta. 

Persoalannya sekarang adalah manusia sudah kehilangan rasa bersalah dan berdosa kalau melakukan kejahatan di tengah gerakan normalisasi kejahatan, dan tidak lagi membutuhkan keselamatan eskatologis sebagaimana yang diajarkan oleh agama Katolik. 

Kita hidup di dunia yang runtuh dan benar-benar berantakan akibat serangkaian masalah besar dan sistem dominasi negara-negara adidaya yang mempercepat kehancuran. 

Kapitalisme neoliberal menciptakan kompetisi di dunia kerja, produksi dan konsumsi, dan memerintah masyarakat harus selalu bekerja. 

Siapa yang tidak bekerja, tidak layak hidup. Siapa yang berani hidup, harus bekerja sesuai jam kerja, upah atau gaji, aturan, sistem dan kuasa-kendali pemilik pekerjaan. 

Kemiskinan struktural dan kesenjangan yang terus melebar di antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin, dan selalu menimbulkan kondisi tidak sehat, yang mempengaruhi mayoritas masyarakat miskin di seluruh dunia. 

Negara-negara kaya sengaja menciptakan krisis di negara-negara miskin, kemudian di saat negara-negara miskin sedang dalam katastrofe atau bencana besar, negara-negara kaya datang sebagai penyelamat dengan menawarkan makanan, pakaian, senjata, dan alat bantu perang lainnya. 

Mereka juga akan membeli para perempuan dan anak-anak korban peperangan yang mereka ciptakan, diperlakukannya sebagai budak kerja di perusahaan atau domestik, setelah menjadi budak seks. 

Komoditisasi kehidupan, objektifikasi manusia, dan dehumanisasi musuh. 

Berkembang biaknya dan menguatnya fasisme sosial dan politik, dengan konsekuensi melemahnya proses demokrasi dan bahkan bahaya eliminasinya. 

Selain itu mati suri demokrasi, yang tunduk pada kediktatoran kapitalisme neoliberal, populisme, dan pemerintahan teknokratis, yang mengakibatkan sebagian besar warga negara muak, dan anti-politik, sebagaimana yang terjadi baru-baru ini di Indonesia, dan beberapa negara lain. 

Kelangsungan hidup kapitalisme dalam versi ultra-neoliberalnya  yang diterjemahkan menjadi nekropolitik dan nekrokapitalisme, menentukan siapa yang harus hidup dan siapa yang harus mati.

Imperialisme budaya, yang menganggap budaya Barat sebagai acuan bagi semua budaya lain dan mengarah pada penghancuran pengetahuan masyarakat adat. 

Di sisi lain, benturan peradaban, yang menganggap dialektika kawan-musuh dalam hubungan antarmanusia sebagai hukum sejarah seleksi alam, dan menghalangi terjadinya dialog antarbudaya. 

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved