Jumat, 10 April 2026

Opini

Opini: Paus Fransiskus dan Wibawa Gereja Masa Kini

Kepergiannya sungguh telah menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi Gereja tetapi juga bagi dunia. 

|
Editor: Dion DB Putra
KOLASE-DOKUMENTASI VATIKAN MEDIA VIA KOMPAS.COM
MEGAWATI BERTEMU PAUS - Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bertemu Paus Fransiskus, Kepala Negara Vatikan sekaligus pemimpin tertinggi Gereja Katolik di Vatikan, Senin (18/12/2023) pagi waktu setempat. Paus Fransikus wafat pada Senin 21 April 2025. 

Oleh: Yantho Bambang
Biarawan Rogationist, Tinggal di Manila

POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, pikiran, hati, dan mata dunia tertuju ke Vatikan, kepada seorang tokoh penting Gereja dan dunia yang telah berpulang, yakni Paus Fransiskus.

Kepergiannya sungguh telah menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi Gereja tetapi juga bagi dunia. 

Karena itu tidak heran jika belakangan ini banyak orang dari segala penjuru yang turut mengucapkan belasungkawa yang mendalam dan bahkan berdoa untuk keselamatan beliau.

Paus Fransiskus memang sudah dikenal luas. Namun itu bukan semata-mata karena jabatannya sebagai Paus (pemimpin tertinggi Gereja Katolik).

Bukan pula karena buah-buah pikiran briliannya yang ia tuangkan dalam dokumen-dokumen dan ensliklik-ensiklik penting Gereja masa kini. Sebaliknya, itu karena kewibawaan hidup keagamaannya.

Beliau adalah sosok religius dan gembala sejati. Ia tidak berbicara banyak tentang belas kasih, pengorbanan, pengampunan, dan kerajaan Allah dengan segala kemewahannya tetapi ia menunjukkannya lewat kewibawaan dan kesaksian hidupnya yang nyata.

Karena itu tidak heran pula jika orang melabeli beliau dengan bermacam- macam titel.

Pertama, gembala yang berbau domba. Ia sendiri berujar “saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena mencebur diri kedalam hidup orang-orang miskin daripada Gereja yang sakit yang hanya sibuk mengurus diri dan harta kekayaaannya.” (Evangelii Gaudium, 2013)

Ujaran tersebut tentu bukan ujaran hampa. Sebaliknya, itu merupakan realitas yang ia temui dalam dinamika kehidupan Gereja dewasa ini. 

Bahwasannya Gereja, terutama para pemimpinnya, terlalu terobsesi dengan kemewahan dunia dan karena itu tidak mau menyentuh realitas kehidupan umat yang dilayaninya.

Dia tidak ragu dan takut mengungkapkan realitas itu karena dia sendiri tidak tercebur kedalam lingkaran itu. 

Dia adalah seorang yang murni dengan panggilannya sebagai religius dan lehih-lebih sebagai seorang gembala.

Ia mengakar kuat pada injil dan secara konsisten menghidupi nilai-nilainya dalam kehidupan nyata sebagai seorang religius dan seorang gembala.

Seperti Yesus, ia mengosongkan diri kemudian mencebur kedalam hidup orang-orang miskin sambil menjaga kemurniannya sebagai seorang religius dan gembala.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved