Opini

Opini: Seminari Hokeng dan Masa Depan Gereja

Seminari San Dominggo Hokeng bukan hanya milik masa lalu, tetapi harapan masa masa kini dan masa depan Gereja.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
SEMINARI HOKENG - SMA Seminari San Dominggo Hokeng di Kabupaten Flores Timur, NTT, saat diabadikan pada hari Selasa, 16 Juli 2024. Seminari ini harus pindah ke lokasi yang baru. 

Refleksi Menyambut HUT ke-75 Seminari San Dominggo Hokeng pada 15 Agustus 2025

Oleh : Albertus Muda
Alumni Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur angkatan 1996 – 2000

POS-KUPANG.COM - Di tengah dinamika zaman yang berubah cepat, satu hal yang tetap menjadi kebutuhan mendesak Gereja adalah hadirnya gembala-gembala yang setia, tangguh, rendah hati dan penuh kasih. 

Panggilan imamat bukan sekadar pilihan profesi, tetapi sebuah jawaban atas bisikan Allah yang memanggil untuk melayani sepenuhnya. 

Di sinilah Seminari San Dominggo Hokeng mengambil peran historis dan spiritualnya sebagai ladang panggilan imamat yang telah memberi kontribusi besar bagi masa depan Gereja, khususnya di Nusa Tenggara Timur.

Sekilas Sejarah

Merujuk pada laman resmi, Seminari San Dominggo Hokeng diprakarsai  oleh  P. G. Van Velzen, SVD yang mendapat mandat sebagai Vic. Gen. Ende dan P. A. Van den Burg, SVD selaku Deken Larantuka. 

Pendiriannya diresmikan pada tanggal 15 Agustus 1950  oleh P. H. Van Eijck, SVD yang sekaligus menjabat sebagai rektor pertama dan P.A. Visser, SVD bersama 30 siswa angkatan perdana dalam perayaan misa suci di Gereja Lama PT. Rerolara Hokeng.

Pada bulan Juni 1954, siswa angkatan perdana mengikuti Ujian Penghabisan di SMPK Yapenthom Maumere, yang selanjutnya bersama dua angkatan berikutnya bergabung dengan SMA Seminari St. Yohanes Berckhmans Todabelu Mataloko pada tahun 1956. 

Ketiga Angkatan awal yang telah bergabung dengan SMA Seminari Mataloko, mengikuti Ujian Penghabisan di SMA Syuradikara Ende tahun 1958. Mereka itu, antara lain P. Paulus Boli Lamak, SVD,  P. Hendrikus Molan Tokan, SVD dan P. Yoakim Werang, SVD.

Pada bulan Agustus 1958, Mgr. Gabriel Manek, SVD yang kala itu menjabat sebagai Vikaris Apostolik Larantuka yakni pemimpin keuskupan Larantuka yang bertindak atas nama Paus untuk wilayah yang belum sepenuhnya menjadi keuskupan, membuka tingkat SMA di Seminari San Dominggo Hokeng, sehingga para seminaris tidak lagi melanjutkan pendidikan ke SMA Seminari St. Yohanes Berckhmans Todabelu di Mataloko.

Berdasarkan penuturan sejarah, pada 23 Agustus 1961, Seminari Hokeng memiliki tujuh rombongan belajar yang terdiri dari 3 (tiga) kelas untuk tingkat SMP dan 4 (empat) kelas untuk tingkat SMA. 

Atas pertimbangan mendalam, maka pada 12 Maret 1968, Seminari Hokeng menutup tingkat SMP dan membuka Kelas Persiapan Bawah (KPB) yang mulai bersekolah pada 2 Januari 1969. 

Selanjutnya, tanggal 9 Januari 1979, Seminari Hokeng membuka Kelas Persiapan Atas (KPA) yang kemudian ditutup pada tanggal 15 Agustus 1989. 

Setelah dari itu, Seminari Hokeng menerapkan pendidikan 4 tahun tingkat SMA yang dimulai dengan Kelas Persiapan Bawah (KPB) atau Kelas Persiapan Peralihan (KPP).

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved