Ridho Herewila Layani ODHIV di NTT dengan Kasih Tanpa Pamrih

Hampir setiap hari, rumahnya dipenuhi oleh para ODHIV, orang dengan HIV/AIDS, yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi NTT.

|
PK/HO.RIDHO HEREWILA
Koordinator IMoF NTT, Ridho Herewila 

Selain edukasi, pihaknya juga mendorong adanya tes pada kelompok sasaran. Selanjutnya dilakukan pengobatan secara rutin.

Adrianus Lamury menyebut, dengan pengobatan rutin maka akan kelihatan perubahan, lewat tes Friwalot. 

Tes itu untuk melihat jumlah virus yang ada dalam tubuh. Pengobatan rutin akan memberi efek pada melemahnya virus dan meminimalisir penularan pada orang lain.

Menurut Adrianus Lamury, semakin banyak orang beresiko melakukan tes dan mengetahui status, akan semakin baik. 

Memang, kata Adrianus Lamury, agenda ini cukup berat. Terutama menyasar ke pelanggan pekerja seks. Namun, ia meyakini bisa dilakukan dengan dukungan semua kelompok masyarakat yang terlibat. 

"Sekarang karena keterbatasan anggaran maka kita inovasi. Kami mendorong KPA Daerah untuk berkolaborasi dengan Sentra Efata dan Dinsos," ujar Adrianus Lamury

Adrianus Lamury mengatakan, semua program yang dilakukan diarahkan pada percepatan. Meski, dari sisi anggaran belum memadai. Inovasi menjadi alternatif, terutama mengajak para pihak untuk terlibat. 

Kondisi ini memang menjadi tantangan bagi KPA. Bahkan, dia juga sering mengajukan bantuan ke sejumlah lembaga untuk bekerja sama. Hal itu dibolehkan secara aturan KPA. 

Adrianus Lamury mengeklaim, selama ini layanan kesehatan untuk ODHA di NTT cukup baik. Ia menyebut, sebagian besar Puskesmas di NTT sudah menyediakan layanan Perawatan Dukungan Pengobatan (PDP) sejak dari pemeriksaan dan pengobatan.

"Sudah cukup memadai untuk semua masyarakat bisa tes dan pengobatan juga," kata Adrianus Lamury

Adrianus Lamury tidak menampik adanya kendala di layanan kesehatan, terutama dalam pengobatan. Sebab, sistem pelaporan dari bawah ke tingkat pusat seringkali terjadi hambatan. Orang yang melakukan pemeriksaan, kerap tidak mengisi formulir yang disiapkan. 

Baca juga: Komisi IV DPRD TTS Dorong Pendampingan masif Bagi ODHIV secara berkelanjutan

Padahal, dalam sistem informasi HIV dan Aids. Seseorang yang melakukan pemeriksaan dan mengisi formulir maka akan kelihatan penggunaan obatan yang digunakan. Sehingga, distribusi obat pun akan kembali dilakukan sesuai jumlah yang berkurang. 

"Jika dia belum mengisi atau ada masalah lain, maka itu menyebabkan keterlambatan. Sehingga layanan tersebut jumlah obat terganggu," kata Adrianus Lamury

Adrianus Lamury mengatakan, partisipasi dari setiap orang juga sangat penting. Ia menyebut kendala paling sering dialami dalam perawatan ODHA lebih pada sistem ketersediaan obat. Sebab, satu bagian yang terganggu, akan menghambat satu siklus.

"Di NTT, memang ada beberapa daerah terkendala. Dari sisi pelaporan sehingga terjadi keterlambatan," kata Adrianus Lamury.

KPA NTT mengungkap data orang dengan HIV atau ODHIV yang tercatat sejak pertama kali kasus HIV/Aids ditemukan pertama kali.

Hingga April 2025, KPA NTT menyebut ada 8.586 ODHIV. Jumlah ini termasuk orang dengan HIV/Aids atau ODHA. 

"Itu dari temuan kasus awal tahun 1997. Ini akumulasi, jumlah temuan awal sampai saat ini. Ini sudah termasuk," kata Adrianus Lamury

Adrianus Lamury menyebut, temuan itu orang dengan HIV/Aids. Dari total yang tidak lagi melakukan pengobatan dan sementara dilakukan pengobatan. 

Sepanjang tahun 1997 hingga sekarang, KPA NTT mencatat ada 1.306 ODHA yang meninggal dunia. Ada lebih dari 7 ribu ODHA menggantungkan hidup pada layanan kesehatan. 

Gubernur NTT Dukung KPAD NTT

Gubernur NTT, Melki Laka Lena mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh KPA Provinsi NTT dalam penanggulangan HIV/AIDS. 

Melki Laka Lena menyampaikan, upaya untuk penanggulangan HIV/AIDS juga membutuhkan sinergi Pentahelix terlebih dalam situasi kebijakan efisiensi anggaran saat ini.

"Sinergi Pentahelix dari pemerintah, akademisi, badan dan atau pelaku usaha, masyarakat atau komunitas, media massa, media sosial sangat diperlukan untuk penanganan HIV/AIDS, apalagi situasi kita sekarang dalam kondisi kebijakan efisiensi anggaran," ujar Melki Laka Lena. 

TOUR ENTETE - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena berbicara mengenai Tour de EnTeTe 2025.
TOUR ENTETE - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Melki Laka Lena berbicara mengenai Tour de EnTeTe 2025. (POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI)

Politikus Golkar itu menyebut tugas seperti ini tidak harus dilakukan sendiri oleh KPA.  

Kerja bersama dengan berbagai pihak merupakan hal penting untuk membantu dan menghindarkan generasi muda NTT dari ancaman penyakit ini. 

"Ini tugas kita bersama karena tidak bisa hanya dilakukan oleh KPA sendiri. Kerja kolaboratif kita bersama yang akan menyelamatkan generasi muda di NTT agar terhindar dari penyakit ini," kata Melki Laka Lena. (vel/fan) 

Adapun HIV/AIDS di NTT;

1. Alor: 388

2. Belu: 775

3. Ende: 210

4. Flores Timur: 496

5. Kota Kupang: 2.637

6. Kabupaten Kupang: 200

7. Lembata: 343

8. Malaka: 134

9. Manggarai: 480

10. Manggarai Timur: 90

11. Manggarai Barat: 226

12. Nagekeo:  77

13. Ngada: 86

14. Rote Ndao: 73

15. Sabu Raijua: 68

16. Sikka: 639

17. Sumba Barat: 116

18. Sumba Barat Daya: 602

19. Sumba Tengah: 48

20. Sumba Timur: 282

21. Timor Tengah Selatan:396

22. Timor Tengah Utara: 220

Data ODHIV yang melakukan pengobatan atau terapi Antiretroviral (ART) sebanyak 3.133 :

1. Alor: 99

2. Belu: 392

3. Ende: 88

4. Flores Timur: 144

5. Kota Kupang: 792

6. Kabupaten Kupang: 89

7. Lembata: 173

8. Malaka: 6

9. Manggarai: 133

10. Manggarai Timur: 35

11. Manggarai Barat: 99 

12. Nagekeo: 11

13. Ngada: 56

14. Rote Ndao: 28

15. Sabu Raijua: 29

16. Sikka: 421

17. Sumba Barat: 50

18. Sumba Barat Daya: 121

19. Sumba Tengah: 19

20. Sumba Timur: 160

21. Timor Tengah Selatan: 104

22. Timor Tengah Utara: 84.

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved