Ridho Herewila Layani ODHIV di NTT dengan Kasih Tanpa Pamrih

Hampir setiap hari, rumahnya dipenuhi oleh para ODHIV, orang dengan HIV/AIDS, yang berasal dari berbagai kabupaten/kota di Provinsi NTT.

|
PK/HO.RIDHO HEREWILA
Koordinator IMoF NTT, Ridho Herewila 

Ridho Herewila berharap kedepan, pemerintah pusat maupun daerah bisa jaminan akses pengobatan ARV yang berkelanjutan, merata, dan tanpa hambatan. Ridho menegaskan, ARV bukan obat biasa, ARV adalah obat esensial penyelamat nyawa.

“Kami berharap pemerintah bisa menetapkan sistem distribusi ARV yang stabil hingga tingkat kabupaten dan desa. Juga menyediakan anggaran dan koordinasi lintas sektor agar ketersediaan ARV tidak bergantung pada situasi darurat atau program donor. Serta melibatkan populasi kunci dan organisasi / lembaga pendukung dalam program penanggulangan HIV dalam pemantauan distribusi ARV untuk memastikan pasokan tidak terputus. Ketersediaan ARV seharusnya tidak bergantung pada program donor atau situasi darurat. Kami juga mendesak pemerintah untuk melibatkan populasi kunci dan organisasi pendukung dalam pemantauan distribusi obat, agar tidak ada pasokan yang terputus,” ujar  Ridho Herewila. 

Kekosongan obat ARV masih sering terjadi, dengan durasi bervariasi, baik di tingkat kota maupun kabupaten. Menurut Ridho, penyebabnya terjadi karena keterlambatan distribusi dari pusat/ provinsi ke kabupaten, kurangnya koordinasi antar fasilitas kesehatan dan sistem/  mekanisme stok obat yang belum efektif.

“ODHIV di wilayah pedalaman harus menempuh jarak jauh ke ibukota kabupaten atau kota untuk mengambil obat. Sistem komunikasi antara fasilitas layanan kesehatan kadang tidak optimal, membuat pasien tidak tahu pasti ketersediaan obat sebelum tiba di fasilitas,” kata Ridho Herewila.

IMOF NTT - Ketua IMoF NTT, Ridho Herewila bersama anggota serta orangtua dan Pdt Emi Sahertian, dalam Family Gathering IMoF NTT, di Kupang, Sabtu (27/1).
IMOF NTT - Ketua IMoF NTT, Ridho Herewila bersama anggota serta orangtua dan Pdt Emi Sahertian, dalam Family Gathering IMoF NTT, di Kupang, Sabtu (27/1). (POS KUPANG/NOVEMY LEO)

Akses terhadap ARV di NTT, terutama di daerah pedalaman dan kabupaten, masih menghadapi tantangan besar.

Ridho Herewila menyebutkan bahwa stok obat di fasilitas layanan sering kali terbatas, dan banyak ODHIV harus menempuh jarak jauh hanya untuk mengambil obat ke kota atau ibukota kabupaten.

“Sistem komunikasi antar fasilitas juga belum optimal, sehingga pasien sering kali tidak tahu apakah obat tersedia sebelum datang ke fasilitas,” kata  Ridho Herewila.

Ridho Herewila menjelaskan, jika pasokan obat ARV terganggu atau tidak tersedia tepat waktu maka hal ini tentu sangat berisiko. 

 “Terputusnya konsumsi ARV dapat memicu resistensi obat, penurunan imunitas, hingga kematian. Secara mental, ODHIV juga akan mengalami kecemasan dan kehilangan rasa aman,” kata Ridho Herewila

Dijelaskan Ridho Herewila, dampak bagi kesehatan fisik, terputusnya ARV meningkatkan risiko resistensi obat dan penurunan imunitas. Untuk kesehatan mental, kekosongan stok menciptakan rasa cemas, takut, dan kehilangan rasa aman bagi ODHIV

“Dampak kesehatan public, ARV yang terputus berdampak pada target penurunan penularan HIV dan menghambat pencapaian Three Zeros atau nol infeksi baru, nol kematian, nol stigma, di 2030,” kata Ridho Herewila.

Baca juga: IAKMI NTT Sebut Penanganan HIV/AIDS Belum Ada Terobosan Baru 

Ridho Herewila menegaskan, kekosongan obat ARV itu bukan hanya menjadi masalah medis, tapi juga menjadi isu hak asasi manusia.

“Karena setiap ODHIV berhak atas akses pengobatan yang layak dan berkelanjutan,” tegas Ridho Herewila.

Lebih lanjut Ridho Herewila mengungkapkan, hingga tahun 2025 ini, diskriminasi terhadap teman-teman ODHIV masih sering terjadi, terutama di NTT.

Dicontohkan Ridho Herewila, di layanan kesehatan, masih ada tenaga kesehatan yang masih menunjukkan stigma atau komentar menghakimi, apalagi terhadap ODHIV dari Gay dan Waria. Di masyarakat, ODHIV kerap dijauhi atau dihindari, terutama di pedesaan/ keluarga karena kurangnya edukasi publik.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved