Minggu, 26 April 2026

Obituari

Obituari: Pater Bombon Telah Pergi

Pater Klaus lahir pada 6 Desember 1948 di Theley, Distrik Sankt Wendel, Negara Bagian Saarland, Jerman. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-KIRIMAN JOHN MAI
Pater Nikolaus Naumann, SVD 

Oleh: John Mai
Mahasiswa Magister Filsafat UGM Yogyakarta, pernah tinggal bersama dengan Pater Klaus di Paroki Kewapante, Sikka

POS-KUPANG.COM - Kabar duka datang dari Jerman. Pada pukul 15.20 waktu Jerman atau 23.20 waktu Flores tanggal 22 Juli 2025,  Pater Nikolaus Naumann, SVD — yang akrab disapa Pater Klaus—dipanggil pulang ke rumah Bapa. 

Kepergiannya menyisakan duka mendalam, terutama bagi umat di Maumere dan seluruh Flores yang mengenalnya sebagai imam yang penuh kasih, pekerja keras, dan sahabat sejati bagi orang kecil.

Pastor Bombon

Di kalangan umat, beliau dikenal dengan penuh kasih sebagai "Pastor Bombon".

Julukan ini melekat karena kebiasaannya membawa permen di saku jubahnya, yang selalu ia berikan kepada anak-anak kecil, pasien rumah sakit, dan siapa pun yang ia temui. 

Gaya kasihnya sederhana, tanpa banyak kata, tetapi sangat mengena dan membekas di hati banyak orang. Ia hadir tidak hanya sebagai imam, tetapi sebagai pribadi yang memberi kegembiraan kecil di tengah penderitaan.

Pater Klaus lahir pada 6 Desember 1948 di Theley, Distrik Sankt Wendel, Negara Bagian Saarland, Jerman

Ia adalah anak sulung dari pasangan Josef dan Alwine Naumann, dengan dua adik, Herman dan Maria. Setelah menyelesaikan studi filsafat dan teologi di Sankt Augustin serta mengikrarkan kaul kekal, ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1974. 

Setahun kemudian, ia tiba di Indonesia dan memulai karya misioner di Paroki Benteng Jawa, Keuskupan Ruteng.

Setelah mengalami sakit malaria berat, ia melanjutkan karyanya di Paroki Kewapante, Keuskupan Maumere. Ia menjabat sebagai pastor paroki dari 1995 hingga 2005, lalu tetap melayani sebagai imam purnabakti hingga akhir hayat. 

Namun pelayanannya melampaui ruang altar dan mimbar: ia hadir dalam hidup umat—baik dalam sakramen maupun dalam bantuan konkret.

Dedikasinya dalam bidang sosial-karitatif tampak jelas saat menjabat sebagai Direktur CARINA (Caritas Indonesia) Keuskupan Maumere (2006–2016). 

Ia dikenal sebagai penggerak truk bantuan kemanusiaan yang menjangkau pelosok desa, mengantarkan logistik pascabencana, obat-obatan, dan bahan makanan bagi yang membutuhkan. 

Truk-truk itu bukan sekadar kendaraan, tapi simbol kasih yang bekerja dalam diam.

Sebagai imam misionaris, Pater Klaus juga menjadi pelaku nyata dalam membangun toleransi antarumat beragama. 

Ia bersahabat dekat dengan tokoh-tokoh Muslim dan Protestan, serta aktif dalam kegiatan sosial lintas iman. 

Ia tidak hanya berbicara tentang toleransi, tetapi menjalankannya dalam tindakan nyata: dalam gotong royong, persahabatan, dan kesetiaan melayani tanpa melihat latar belakang.

Pecinta Olahraga

Hal tak kalah dikenang adalah kecintaannya terhadap sepak bola. Pater Klaus tidak hanya menjadi pendukung, tetapi juga melatih kesebelasan sepak bola Kabupaten Sikka—sebuah keterlibatan yang jarang dilakukan seorang imam. 

Ia dikenal sebagai pelatih dan konsultan teknis yang disiplin dan membangun. Kecintaannya pada olahraga ini juga diwujudkan dalam penyelenggaraan Klaus Naumann Cup, sebuah turnamen antarpelajar SMA di Maumere. 

Bagi beliau, sepak bola bukan hanya soal menang atau kalah, tapi sarana pembentukan karakter anak muda: kerja sama, sportivitas, dan semangat juang.

Di rumah, ia dikenal sebagai sosok tegas yang penuh kasih. Tegurannya bisa terdengar keras, tetapi penuh perhatian. Ia pernah berkata, “Kau bodoh!”—sebuah kalimat yang menohok, tapi di baliknya selalu ada keprihatinan dan cinta. 

Setelah menegur, ia sering terdiam lama, bukan karena marah, tetapi karena menyesal. 

Ia tidak membiarkan orang menanggung kesalahan sendiri. Ia selalu hadir, bahkan dalam diamnya.

Bagi Pater Klaus, menjadi imam bukan soal liturgi megah atau khotbah retoris.

Menjadi imam adalah perkara hati: hadir bagi siapa saja, setia dalam hal-hal kecil, dan mencintai tanpa pamrih. Ia tidak pernah mengejar popularitas, tetapi justru karena itu ia dicintai begitu luas.

Pulang dan tidak pernah kembali

Menjelang akhir hidupnya, Pater Klaus merencanakan cuti rutin ke Jerman. Namun kecelakaan di Denpasar memperburuk kondisi kesehatannya yang memang sudah lemah akibat diabetes dan riwayat stroke. 

Ia tetap berangkat ke tanah kelahirannya, dengan harapan bisa pulih. Tapi cuti itu menjadi perpisahan terakhir. Setelah 50 tahun berkarya di Indonesia, ia menghembuskan napas terakhir dalam damai.

Kini, langkah-langkah paginya telah sunyi. Amplop kecil berisi “uang rokok” tak lagi diselipkan dengan diam-diam. 

Namun kasihnya tetap tinggal: dalam setiap permen yang dibagikan, dalam setiap bola yang ditendang di Klaus Naumann Cup, dalam setiap umat yang disapa dan dilayani, dalam setiap truk bantuan yang pernah dikirim.

Terima kasih, Pater Klaus. Terima kasih, Pastor Bombon. Telah mengajarkan bagaimana seorang imam menjadi—bukan dengan banyak kata, tetapi dengan hidup yang dijalani sepenuh hati. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved