Opini
Opini: Jangan Biarkan Budaya Leles Hilang di Era Digital
Anak-anak kini lebih pandai bermain game online daripada menyapa tetangga atau membantu orang tua di kebun.
Oleh: Heryon Bernard Mbuik
Dosen Manajemen Prodi PGSD FKIP Universitas Citra Bangsa Kupang, NTT
POS-KUPANG.COM - Di zaman yang serba digital ini, kita sering dibuat cemas oleh satu kenyataan: generasi muda kita lebih sibuk dengan layar gawai daripada dengan kehidupan sosial nyata di lingkungan sekitar.
Anak-anak kini lebih pandai bermain game online daripada menyapa tetangga atau membantu orang tua di kebun.
Dunia digital memang membuka banyak peluang, tetapi juga membawa tantangan besar, terutama bagi kita yang hidup di wilayah dengan kekayaan budaya lokal seperti Nusa Tenggara Timur.
Salah satu nilai budaya yang mulai terpinggirkan oleh arus modernisasi dan digitalisasi adalah budaya Leles.
Di Kabupaten Manggarai Timur, Leles bukan sekadar tradisi gotong royong biasa.
Ia adalah sebuah sistem sosial yang mengajarkan tentang kebersamaan, tanggung jawab, saling tolong-menolong, dan penghargaan terhadap kerja keras secara kolektif.
Melalui Leles, masyarakat diajarkan untuk bekerja secara bergilir di ladang atau kebun tanpa imbalan uang, dengan semangat persaudaraan dan keikhlasan.
Sayangnya, di tengah gempuran era digital dan gaya hidup instan, nilai-nilai Leles mulai dilupakan.
Anak-anak dan remaja lebih sibuk dengan media sosial, game online, atau konten viral di YouTube dan TikTok daripada mengikuti tradisi seperti Leles.
Generasi muda kini lebih fasih bermain jempol di layar ponsel daripada memegang cangkul di ladang.
Pertanyaannya, apakah ini perkembangan zaman yang harus kita terima begitu saja?
Ataukah masih ada cara untuk menjaga agar nilai-nilai luhur seperti Leles tetap hidup dan relevan di era digital?
Pendidikan Karakter: Bukan Hanya Transfer Pengetahuan
Pendidikan di Indonesia kini memasuki fase baru. Melalui Kurikulum Merdeka, pemerintah mendorong agar sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.
Heryon Bernard Mbuik
Opini Pos Kupang
POS-KUPANG.COM
Manggarai Timur
Leles
Universitas Citra Bangsa Kupang
NTT
kearifan lokal
Opini: Prada Lucky dan Tentang Degenerasi Moral Kolektif |
![]() |
---|
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek |
![]() |
---|
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran |
![]() |
---|
Opini: Korupsi K3, Nyawa Pekerja Jadi Taruhan |
![]() |
---|
Opini: FAFO Parenting, Apakah Anak Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.