Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 13 Juni 2025, "Ketidaksetiaan Menjadi Sumber Petaka dalam Hidup"
Tuhan tidak kompromi dengan manusia dalam hal dosa dan kesalahan selain pertobatan radikal (metanoia) dari kita (cungkillah dan buanglah).
Renungan Harian Katolik
Jumat 13 Juni 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
KETIDAKSETIAAN MENJADI SUMBER PETAKA DALAM HIDUP
(2Kor 4:7-15; Mzm 116:10-11.15-16.17-18; Mat 5:27-32)
"Jika matamu yang kanan menyesatkan dikau, cungkillah dan buanglah, karena lebih baik bagimu satu anggota badanmu binasa daripada badanmu seutuhnya dicampakkan ke dalam neraka." (Mat 5:29).
Sabda Tuhan memang keras melawan dosa dan kesalahan yang dibuat oleh manusia.
Tuhan tidak kompromi dengan manusia dalam hal dosa dan kesalahan selain pertobatan radikal (metanoia) dari kita (cungkillah dan buanglah). Tuhan menyebut mata karena mata adalah salah satu organ penting dalam tubuh manusia sebagai jendela jiwa.
Jika mata baik maka seluruh diri kita menjadi baik. Bijak menggunakan mata untuk memandang obyek-obyek yang menjadi sumber dosa. Mata dan hati bisa menyesatkan kepada dosa perzinahan yang membawa petaka bagi manusia. "Barang siapa memandang seorang wanita dan menginginkannya, dia sudah berbuat zina di dalam hatinya." (Mat 5:28).
Sumber dosa yaitu segala keinginan yang tak teratur dalam diri manusia datang melalui pandangan mata dan keinginan dalam hati.
Keselamatan jiwa manusia adalah kehendak kudus Allah sendiri. Yesus Anak Allah diutus ke dunia untuk penebusan umat manusia dari dosa-dosanya.
Maka metanoia, pertobatan radikal mesti kita lakukan. Penegasan terhadap diri untuk melaksanakan perintah-perintah Tuhan demi menggapai keselamatan harus kita buat. Kesadaran bahwa kita sulit memberi maaf kepada orang lain kita tinggalkan.
Petakan yang tak terelakkan dalam hidup justru datang dari upaya dengan cara gampang memaafkan diri sendiri tanpa pertobatan.
Mental instan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang ditemui juga membawa akibat buruk dalam diri. Maka kita perlu dan selalu mau belajar dan meneladani militansi para murid Tuhan dalam tugas perutusan mewartakan Kristus.
Dalam tugas agung ini, tantangan para murid terus-menerus mengarah kepada maut, namun mereka tetap menujukkan kesetiaan dan keberanian untuk mewartakan Kristus. Kecintaan kepada Tuhan dan tanggung jawab mewartakan keselamatan kepada semua orang mengobarkan semangat mereka untuk tetap bertahan dan tak mundur selangkah pun walau raga terpaksa jadi taruhan.
"Dalam segala kami ditindas, namun tidak terhimpit. Kami habis akal, namun tidak putus asa. Kami dianiaya, namun namun tidak ditinggalkan sendirian. Kami dihempaskan, namun tidak binasa." 2Kor 4:8-9). Kekuatan utama para murid adalah membawa kematian Yesus dalam tubuh mereka.
Mereka pun kokoh dalam iman bahwa Allah pun akan membangkitkan mereka seperti Ia membangkitkan Yesus dari alam maut. Mereka tetap bersinar di dunia dalam tugas perutusan karena berpegang pada sabda kehidupan.
Maka Pemazmur bermadah dalam kidung pujiannya, "Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu! Engkau telah melepaskan belengguku!" (Mzm 116:15-16).
Kini seperti seperti para rasul dan para orang kudus yang menunjukkan kasih dan cinta yang tak kenal lelah mewartakan kasih kebaikan Tuhan kepada sesama demikian juga kita.
Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Jumat / Pekan Biasa X/C, 130625)
Renungan Harian Katolik Minggu 31 Agustus 2025: Lupa diri dan Hormat yang Sejati |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, "Baik dan Setia" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, "Setia dengan Perkara Kecil" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Sabtu 30 Agustus 2025, "Optimis Dalam Hidup: Sukses Ada di Tanganmu" |
![]() |
---|
Renungan Harian Katolik Jumat 29 Agustus 2025, "Kenapa Dendam Tetap Tersimpan di Hati?" |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.