Opini
Opini: Pendidikan Kehilangan Moral, Mengapa?
Kasus plagiasi yang banal terjadi diperparah dengan munculnya kebijakan (aneh) dari pemerintah untuk memaafkan kaum plagiator
Oleh: Sebastianus Rikardo Eldi
Mahasiswa Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
POS-KUPANG.COM - Situasi dunia pendidikan dan pendidik di Indonesia saat ini cukup kacau dan sulit dipercayai publik.
Memang tidak semua universitas berada dalam situasi chaos, tetapi sebagian kecil mengalaminya.
Ironisnya, beberapa universitas yang dikategorikan sebagai ‘yang terbaik' justru menjadi agen yang melunturkan nilai edukatif yang tertanam sejak sediakala.
Kasus plagiasi yang banal terjadi diperparah dengan munculnya kebijakan (aneh) dari pemerintah untuk memaafkan kaum plagiator dengan jaminan melakukan revisi atas tulisan hasil jiplakan. Aneh bukan?
Sejauh yang dianalisis penulis, kebijakan pemerintah dalam menangani kasus-kasus berat di Indonesia akhir-akhir ini mengalami penurunan drastis.
Degradasi nilai terjadi bukan tanpa sebab, melainkan karena pemimpin menggunakan segala kapital (sosial, ekonomi, dan simbolis) untuk memendam kecemasan rakyat dengan mengotak-atik berbagai aturan demi sahabat dekat.
Kasus plagiasi di uiversitas ternama di Indonesia menjadi konteks kajian dalam tulisan ini.
Adapun pisau analisi penulis yakni menggunakan pemikiran trilogi pendidikan Ki Hajar dewantara dan pendidikan nilai a la Siti Murtiningsih.
Dewantara dan Neo-Dewantara: Pemikir dan Perempuan Pemikir
Ki Hajar Dewantara memiliki konsep penting tentang pendidikan, yakni trilogi pendidikan (Ing Ngarsa sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani).
Pertama, ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan) artinya seorang pendidik atau ‘tokoh negara’ harus menjadi prototipe kebaikan bagi yang lain.
Kedua, Ing Madya Mangun Karsa (di tengah memberi semangat) artinya pendidik dan ‘tokoh politik’ harus menjadi motivator dalam proses memanusiakan-manusia.
Ketiga, Tut Wuri Handayani (dari belakang memberi teladan) artinya seorang pendidik dan ‘aktor politik’ tidak sekadar menyalurkan pengetahuan, tetapi juga terlibat dalam pembentukan karakter (Fajri dan Trisuryanti, 2024:22-23).
Masih dalam irama yang sama, Dewantara mengemukakan sistem among yang mana menekankan aspek cipta, rasa, dan karsa secara seimbang (merata).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/sarjana-ijazah-wisudah_20150531_172322.jpg)