Cerpen

Cerpen: Kesumat

Apa boleh buat, kakimu terasa berat untuk melangkah barang tiga empat langkah. Akankah kau tetap duduk manis di bangku tua berdebu itu? 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-PINTEREST.COM
ILUSTRASI 

Oleh: Rudyanto Meo*

POS-KUPANG.COM - Terang hampir usai dan kau belum beranjak dari tempat duduk, sepotong kayu jati peninggalan ibumu. 

Tangisan samar orang-orang kampung ini menandai duka yang dirasakan semua orang. 

Namun kau, kau tampak gelisah, bingung dan linglung memutuskan untuk mengikuti pemakaman itu atau tetap tinggal di rumah mengurus suami dan anak-anakmu. 

Kau kan tahu bahwa Hana, saudarimu satu-satunya, telah kehilangan suaminya. Tentu, ini sangat berat baginya.

Mungkin kehadiranmu dapat menambal luka hatinya. Atau paling tidak sedikit menghiburnya. 

Apa boleh buat, kakimu terasa berat untuk melangkah barang tiga empat langkah. Akankah kau tetap duduk manis di bangku tua berdebu itu? 

Akankah bangku itu tetap menjadi tempat ternyamanmu sekalipun saudarimu sedang menjerit pilu? 

Aku tak tahu. Semua kembali kepadamu. Usiamu tidak muda lagi. Kini kau sudah setengah abad lebih. 

Rumahmu pun dipenuhi anak-cucu yang selalu ramai dan ribut bagai sarang lebah.

Aku tahu, mengapa engkau terlihat murung sore ini. Aku tahu mengapa engkau seperti sedang memikul sekarung penuh padi. Hana adalah kakak sulungmu. 

Kau dan Hana dibesarkan dalam kasih dan kesederhanaan di Rai Hawu, pulau kecil yang mengukir mimpi besar. 

Dia juga sangat berjasa bagimu. Bukankah kemurahannya menghantarmu pada gerbang kesuksesan? Bukankah dia bagai ibu yang menggendongmu tiap saat? 

Dia bagai tameng berlapis baja yang selalu melindungimu kala hidupmu duhujani peluru dan anak panah penderitaan. 

Timbanglah mana baiknya. Cucumu kini sudah selusin dan kau tahu apa yang harus kau lakukan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved