Opini

Opini: Spirit Maria dan Bayang-bayang Kejenuhan Iman

Tulisan ini mengangkat dimensi lain dari devosi bulan Mei kepada Bunda Maria, yakni: refleksi iman dari ketokohan Maria. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/AGUS TANGGUR
ILUSTRASI - Umat Katolik berziarah ke objek wisata religi, Patung Bunda Maria Segala Bangsa di Teluk Gurita, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. 

Oleh: RD. Giovannni A.L. Arum
Dirdios Keuskupan Agung Kupang dan Pastor Rekan Paroki Sta. Maria Assumpta Kupang, NTT 

POS-KUPANG.COM - Bulan Mei adalah bulan yang istimewa bagi umat Katolik. Secara khusus, Gereja mengajak segenap umat untuk berdevosi kepada Bunda Maria

Paus Paulus VI dalam Ensikliknya Mense Maio (29 April 1965) mengatakan: “Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Maria, Bunda Allah. Hati kita bersukacita pada pikiran yang digerakkan oleh persembahan iman dan kasih yang ditujukan kepada Sang Ratu Surga di setiap sudut dunia.”

Pada bulan ini, umat Katolik biasa meningkatkan laku rohani dengan berdevosi kepada Bunda Maria, baik dalam bentuk doa pribadi, rosario bersama maupun ziarah ke tempat-tempat doa.

Tulisan ini mengangkat dimensi lain dari devosi bulan Mei kepada Bunda Maria, yakni: refleksi iman dari ketokohan Maria. 

Dengan refleksi iman akan keteladanan hidup Maria, devosi umat beriman dimurnikan dari hanya sekadar praktik ritualistik semata. 

Sebab, Gereja sungguh percaya bahwa keutamaan-keutamaan hidup Maria menjadi pola hidup bagi Gereja Umat Allah.

Dalam Konsili Vatikan II dibahasakan demikian: “Namun, sementara dalam diri Santa Perawan Gereja mencapai kesempurnaannya yang tanpa cacat atau kerut (lih, Ef. 5: 27), kaum beriman Kristiani sedang berusaha mengalahkan dosa dan mengembangkan kesuciannya. Maka, mereka mengangkat pandangannya ke arah Maria, yang bercahaya sebagai pola keutamaan, menyinari
segenap jemaat para terpilih.” (Lumen Gentium, art. 65).

Tantangan utama umat beriman zaman ini adalah bayang-bayang kejenuhan iman yang terindikasi dari menguatnya semangat posmodernisme dengan kiblat relativisme imannya di satu sisi dan tekanan masalah sosial, ekonomi dan lingkungan hidup yang terancam di sisi yang lain.

Mendiang Paus Benediktus XVI pernah mengatakan bahwa ancaman terbesar bagi umat beriman di zaman modern adalah relativisme iman. 

Orang menganggap iman bukanlah pegangan pertama dan utama dalam hidup. Akhirnya, hidup kehilangan orientasi. 

Di sisi lain, perkembangan dunia dengan segala kemukhtahiran teknologinya, ternyata tidak sanggup membawa pesan damai bagi keseluruhan hidup manusia. 

Umat manusia menjadi rapuh dan mudah stres menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat dan kompetitif. 

Masalah kemiskinan dan kerusakan lingkungan hidup memukul dengan keras kemanusiaan dengan segala utopia kemajuannya.

Menghadapi tantangan bayang-bayang kejenuhan iman posmodern ini, pencarian akan kekuatan-kekuatan rohani menjadi penting. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved