Human Interest Story
FEATURE: Tarian Kolosal Pecahkan Rekor MURI Penari Gawi di Ende Terbanyak
Sejumlah kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar dan bernuansa edukatif, kultural, dan kolaboratif ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia
POS-KUPANG.COM, KUPANG –Perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2025 di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berlangsung meriah.
Sejumlah kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar dan bernuansa edukatif, kultural, dan kolaboratif ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia atau MURI.
Upacara Hardiknas yang digelar pada Jumat (2/5) di alun-alun Dinas P dan K Provinsi NTT itu berlangsung meriah dan diwarnai busana adat. Seluruh peserta, mulai dari siswa-siswi, guru, hingga Forkopimda dan tamu undangan mengenakan busana adat dari berbagai daerah di NTT.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, yang bertindak sebagai pembina upacara, tampil mengenakan busana adat dari Kabupaten Sabu Raijua. Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo yang bertugas sebagai pemimpin upacara mengenakan pakaian adat asal Ngada.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan Hardiknas tahun ini berada dalam semangat besar yang bertajuk “Ayo Bangun NTT”.
Baca juga: FEATURE: Ziarah Pengharapan di Wilayah Utara Ende, Arak Arca Bunda Maria Keliling 14 Paroki
“Perayaan Hardiknas tahun ini dalam satu semangat besar Ayo Bangun NTT. Semangat dimaksudkan untuk menggerakkan semua unsur dan sumber daya secara taktis dan strategis mewujudkan NTT maju, sehat, cerdas, sejahtera dan berkelanjutan,” katanya.
Kegiatan yang memecahkan rekor MURI adalah pembacaan puisi dalam tiga bahasa yaitu Bahasa Dawan, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris yang melibatkan lebih dari 10.000 peserta di Timor Tengah Selatan (TTS).
Tak hanya itu, gerakan kolosal NTT Menari juga memecah rekor MURI. Lebih dari 20.000 pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK dari 22 kabupaten/kota menampilkan tarian tradisional khas NTT secara serempak. Tarian tersebut dicatat sebagai warisan budaya tak benda milik NTT.
“NTT Menari melibatkan 20.000 pelajar di 22 kabupaten kota, tarian yang dicatat menjadi warisan budaya tak benda milik NTT,” sebutnya.
Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT juga menyelenggarakan Sayembara Menulis Surat untuk Gubernur (SMS) yang diikuti 1.000 siswa. Kumpulan surat tersebut pun sudah dibukukan dan telah diserahkan kepada Gubernur NTT, Melki Laka Lena.
“Menulis surat ini bagian dari meningkatkan literasi dan mendukung Genta Belis NTT untuk menjawab persoalan literasi,” katanya lagi.
Dalam upaya mendorong kreativitas dan inovasi siswa digelar pula Gebyar SMK dan SMA yang melibatkan 48 sekolah dari Kota Kupang dan dari kabupaten lainnya di wilayah NTT.
“Gebyar SMK, menampilkan potensi siswa melalui petunjuk keterampilan, unjuk kerja, pameran produk kreatif dan inovasi. Ini adalah capaian sekolah advokasi di NTT,” ungkapnya.
Para siswa ini menampilkan produk keterampilan, unjuk kerja, serta pameran hasil inovasi sebagai bukti dari kemajuan pendidikan vokasional di NTT. Dinas P dan K juga gelar lomba internal antar pegawai di dinas pendidikan, kepala sekolah, dan guru di Kota Kupang.
Baca juga: FEATURE: Martina Bala dan Gubuk Reotnya di Kampung Magesayang, Kabupaten Sikka
Ambrosius menyebutkan kegiatan ini menjadi ajang rekreasi positif yang meningkatkan sportivitas di lingkungan kerja. “Kegiatan ini meningkatkan sportivitas dan rekreasi positif di lingkungan kerja,” lanjutnya.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena menegaskan, peringatan Hardiknas, selain meningkatkan taraf pendidikan harus dijadikan momentum untuk menggali dan mengembangkan kreativitas serta potensi daerah.
"Anak-anak harus mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang ada di daerahnya. Jangan biarkan ada potensi yang tidur," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar mencintai daerah asal mereka melalui pendidikan.
Gubernur Melki menambahkan, pakaian adat yang dikenakannya berasal dari Sabu Raijua, kampung asal tokoh nasional Izaak Huru Doko. Izaak Doko adalah salah satu tokoh nasional asal NTT yang pernah dipercaya sebagai anggota kabinet. “Ia panutan dari NTT yang telah memberi inspirasi secara nasional,” ujarnya.
Ia berharap, siswa-siswi mengikuti jejak Huru Doko dengan mulai membangun dari pendidikan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung kemajuan pendidikan di NTT. "Ayo, bangun pendidikan NTT,” ajaknya.
Ende Terbanyak
Dari Atambua, Kabupaten Belu dilaporkan, ribuan pelajar dari tingkat SMP dan SMA/SMK se-Kabupaten Belu tampil memukau dalam peringatan Hardiknas di Lapangan Umum Atambua.
Dalam kegiatan itu ditampilkan tarian kolosal yang diikuti 2.000 lebih penari yang membawakan Tarian Likurai, Gawi dan Tebe bersama. Para penari tampil anggun mengenakan pakaian adat khas Belu.
Plt Kepala Dinas Kependidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Belu, Maksimus Mali, S.STP, menjelaskan, tarian kolosal ini tidak hanya digelar untuk memeriahkan peringatan Hardiknas, tetapi juga untuk menanamkan rasa cinta budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Kami mengkolaborasikan Tarian Gawi dan Likurai dengan beberapa elemen tari daerah lainnya. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk konkret pendidikan karakter, menanamkan nasionalisme dan kecintaan terhadap warisan budaya daerah kepada generasi muda,” jelas Maksimus Mali.
Baca juga: FEATURE: Mama Olla Warga NTT Kembangkan Pasaran Warisan Tenun NTT di Nunukan Barat
Menurutnya, tantangan era modern saat ini membawa dampak besar terhadap eksistensi budaya lokal. Maka dari itu, melalui seni pertunjukan kolosal ini, para pelajar didorong untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga dan aktif melestarikan budaya daerah.
Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi ajang promosi budaya Kabupaten Belu ke kancah yang lebih luas. .
“Tarian kolosal ini telah menjadi ruang silaturahmi lintas sekolah, lintas usia, bahkan lintas budaya. Ini adalah panggung edukatif yang menyatukan semua dalam semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya,” tambahnya.
Maksimus juga berharap kegiatan seperti ini dapat membuka peluang lebih besar bagi pelajar-pelajar Belu untuk tampil di event budaya tingkat nasional bahkan internasional.
Di Soe, TTS, upacara Hardikas di lapangan Puspemnas Pemda TTS sempat dihentikan karena hujan. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan pementasan Tarian Bonet oleh seluruh peserta upacara. Ada sekitar 2.000 penari dari SD sampai SMA beserta guru-guru.
Tarian Bonet merupakan tarian khas TTS yang berarti merayakan hasil panen. Menariknya instrumen dan lagu pengiring dinyanyikan oleh penari. Meski begitu, hujan yang turun pelahan mengganggu beberapa penari untuk menyelesaikan Tarian Bonet ini. Meski begitu tarian tetap dituntaskan.
Acara juga diisi beberapa penampilan yaitu puisi kepada Presiden RI, puisi dalam Bahasa Dawan, Tarian kreasi oleh siswi SDI Nifobuko, serta penyerahan piagam juara.
Di Ende, sebanyak 5000 pelajar baik tingkat SMP dan SMA/SMK di Kabupaten Ende menari Gawi massal usai mengikuti apel Hardiknas di lapangan Perse Ende.Jumlah pelajar yang menari Gawi massal tahun 2025 ini menjadi peserta terbanyak tarian tradisional yang dipentaskan secara massal di seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT.
Sejak pagi, ribuan pelajar peserta tarian Gawi massal yang mengenakan pakian adat berupa baju putih dan ragi (sarung) berwarna hitam untuk laki-laki dan Lawo Lambu, berupa sarung dan baju biru dan merah untuk perempuan sudah memadati tribun utama lapangan Perse Ende.
Usai apel, mereka mulai mempersiapkan diri guna menari Gawi secara massal di tengah lapangan disaksikan Bupati dan Wakil Bupati Ende, Forkopimda dan masyarakat Kota Ende.
Baca juga: LIPSUS: Ratusan Pemuda Seret Seng ke Jalan Tradisi Rabu Trewa Jelang Semana Santa
Satu persatu mereka masuk ke tengah lapangan dan membentuk lingkaran dengan urutan laki-laki di lingkaran bagian dalam sedangakan perempuan di lingkatan bagian luar.
"Tahun ini memang agak spesifik yang berlaku di NTT pada umumnya dan masing-masing kabupaten karena pada 2 Mei ini, sesuai arahan Bapak Gubernur, untuk NTT menari untuk pecahkan rekor MURI sehingga kami bersepakat secara kepanitian kita memilih Gawi untuk Kabupaten Ende, sehingga secara kepesertaan tadi itu di luar dugaan karena jumlahnya kurang lebih sekitar 5000 peserta," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende, Malthidis Mensi Tiwe.
Menurut dia, Tarian Gawi merupakan tarian yang sangat sakral bagi masyarakat Ende Lio Nage yang memiliki makna persatuan, kerjasama, gotong royong, sama rasa, senasib sepenanggungan. (dim/bet/any)
Guru Honorer Merasa Warga Kelas Dua
Di saat sebagian besar sekolah di perkotaan mulai menerapkan pembelajaran berbasis digital, sebuah potret kontras justru masih terjadi di pelosok Kabupaten Ende.
Di Desa Wolokota, Kecamatan Ndona, pendidikan berlangsung dengan segala keterbatasan, bahkan alat peraga matematika pun harus dibuat dari batu dan bilah bambu.
Irna Mariana Pongge, seorang guru honorer di SDK Wolokota, telah mengabdikan dirinya selama 13 tahun untuk mendidik anak-anak di desa terpencil ini. Sejak tahun 2008, ia terus mengajar tanpa pernah menyerah, meskipun fasilitas pendidikan sangat minim.
"Kalau di dalam kelas kami tidak pernah mengajar pakai online karena memang jaringan internetnya terbatas. Di sekolah kami juga tidak ada listrik. Kalau sangat butuh, kami pakai generator," ujar Irna kepada Pos Kupang, Jumat (2/5).
Baca juga: LIPSUS: Anggaran Rp 30 M, Renovasi Sekolah Amburadul Temuan Tim Bengkel APPeK NTT
Sekolah tempat Irna mengajar tidak memiliki komputer. Untuk mengikuti ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer), siswa SDK Wolokota harus 'nebeng' di sekolah lain di Kota Ende yang memiliki fasilitas memadai.
"Untuk ANBK, kami harus antar siswa ke kota. Karena di sini komputer pun tidak ada. Itu tantangan besar buat kami," ungkap Irna.
Desa Wolokota sendiri berada di wilayah selatan Kabupaten Ende, dengan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan jaringan internet yang sangat terbatas. Kondisi ini tentu menghambat perkembangan pendidikan secara signifikan.
Tak hanya fasilitas, kesejahteraan guru juga menjadi persoalan besar. Irna, yang telah mengabdi lebih dari satu dekade, saat ini hanya menerima insentif sebesar Rp 950 ribu per bulan.
"Awalnya saya hanya terima Rp 105 ribu. Baru empat tahun terakhir ini naik sedikit. Tahun 2023 saya terima Rp 783 ribu, tahun 2022 hanya Rp 587 ribu," tuturnya.
Meski jauh dari layak secara ekonomi, semangat Irna tak pernah pudar. Ia tetap mengajar dengan penuh dedikasi karena merasa memiliki tanggung jawab moral mendidik generasi muda di kampungnya.
Irna mengaku berbagai keterbatasan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Mulai dari sulitnya akses internet, hingga pengalaman berjalan kaki puluhan kilometer demi bisa mengajar.
"Jalan kaki itu sudah biasa. Kami pernah jalan 4 sampai 5 jam dari Wolokota ke Wolotopo, sekitar 6,6 km. Kalau cuaca bagus, kami lewat laut, tapi kalau ekstrem, ya jalan kaki saja," kisahnya sambil tertawa kecil.
Transportasi yang sulit membuat proses belajar mengajar makin berat. Namun, tantangan itu tidak mematahkan semangat para guru di SDK Wolokota. Mereka tetap datang ke sekolah demi menyapa para siswa.
Jumlah siswa di SDK Wolokota pun tidak banyak. Totalnya hanya 27 orang yang tersebar dari kelas I sampai VI. Bahkan, kelas I hanya memiliki satu siswa. "Untuk kelas VI ada 7 orang, kelas V ada 5, kelas IV ada 3, kelas III dan II masing-masing 5, dan kelas I cuma satu anak," jelas Irna.
Semua guru di SDK Wolokota, termasuk kepala sekolahnya, masih berstatus honorer. Mereka tetap bertahan dalam keterbatasan dengan satu harapan: anak-anak di desa tetap bisa belajar. Kreativitas menjadi kunci utama dalam mengatasi kekurangan alat bantu ajar.
Irna dan rekan-rekannya kerap menggunakan biji batu atau bilah bambu sebagai alat bantu menghitung. "Untuk kelas rendah, kami pakai biji batu. Kalau tidak ada gambar dari laptop atau internet, ya kami buat sendiri dari bambu yang dibelah. Semua serba manual," katanya.
Lebih dari sekadar guru, Irna adalah pejuang pendidikan. Ia juga pernah beberapa kali mendaftar seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun selalu gagal karena statusnya sebagai guru swasta.
"Tahun lalu saya ikut PPPK tapi tidak lolos. Katanya sekolah swasta tidak bisa. Bahkan berkas saya pernah hilang entah ke mana," keluhnya dengan nada sedih.
Irna merasa seperti warga kelas dua. Tidak memiliki 'orang dalam', tidak punya koneksi. Berkali-kali mencoba, namun tetap saja gagal karena kendala administratif dan sistem yang tidak transparan.
"Saya tidak punya keluarga di sini. Daftar saja sudah hilang berkasnya. Cetak kartu ujian juga tidak bisa, langsung gugur," ujarnya.
Namun, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, Irna tetap menyimpan harapan. Ia berharap bisa tetap mengajar meskipun dengan upah minim, dan pemerintah bisa menempatkan setidaknya satu guru ASN di SDK Wolokota.
"Saya hanya ingin tetap mendidik anak-anak di sini. Tapi tolong, beri kami satu guru ASN agar sekolah ini bisa lebih maju," harapnya.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, menyampaikan bahwa kini semua guru, termasuk dari sekolah swasta, diizinkan mengikuti seleksi PPPK tahun 2025. "Sudah ada aturannya, semua boleh ikut seleksi PPPK, termasuk guru swasta. Jadi tidak ada diskriminasi lagi," kata Bupati Yosef.
Hal yang sama juga dikeluhkan para guru honorer di Kabupaten Sikka. Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah.
Baca juga: FEATURE: Warga Berekreasi Memanfaatkan Luapan Air Sumur di Oepura Kota Kupang
"Di hari pendidikan ini, harapan saya itu, untuk semua guru honorer di sekolah swasta bisa diperhatikan," ujar Vinsensia Ervina Talluma, guru honorer SDK 064 Watubala yang mengabadi di sekolah jarak jauh kampung Wairbukang di Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka, Jumat (2/5).
Ervina seorang guru honorer yang rela digaji Rp300 ribu perbulan, padahal ia harus menempuh jarak sejauh enam kilometer ke sekolah setiap kali mengajar. Sejak menjadi guru honorer pada 5 Februari 2024, setiap harinya ia harus menempuh perjalanan 6 kilometer untuk mengajar anak- anak di dusun terpencil yang merupakan sekolah jarak jauh dari SDK 064 Watubala di kampung Wairbukang, Dusun Wodong, Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka. (bet/awk)
Sekolah Suplay Bahan Baku MBG
Bupati Ngada Raymundus Bena mengajak SMA/SMK se-Kabupaten Ngada untuk berkontribusi dalam menyukseskan program makan bergizi gratis di Kabupaten Ngada.
Program makan bergizi gratis, sudah bergulir di Kabupaten Ngada sejak Februari lalu, dengan menjadikan tiga sekolah sebagai pilot proyek. Namun dalam perjalanan, masih banyak yang perlu di siapkan dengan matang sebelum program ini akan menyasar seluruh sekolah di Kabupaten Ngada yaitu pasokan bahan baku.
Bupati Raymundus mengajak SMA/SMK di Kabupaten Ngada untuk berkolaborasi karena melihat potensi yang dimiliki oleh masing-masing sekolah untuk bisa mensuport pemenuhan bahan baku.
“Saya baru melihat secara dekat ternyata banyak SMA/SMAK anak-anak kita menghasilkan kreativitas yang bisa mendukung program makan siang gratis,” kata Bupati Raymundus usai apel Hardiknas di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Jumat (2/5).
Kolaborasi itu katanya, akan ditindaklanjuti memetakan potensi masing-masing sekolah lebih khusus kebutuhan buah-buahan dan sayur-sayuran. Pemenuhan kebutuhan untuk makan bergizi gratis tidak boleh mendatangkan bahan baku dari luar Ngada.
Untuk itu Ia menekankan, keterlibatan dari sekolah -sekolah, kampus yang ada di Kabupaten Ngada agar sama-sama menyiapkan komoditi yang bisa dihasilkan oleh sekolah.
Baca juga: FEATURE: Dari Kemarahan Menjadi Kecintaan di Kalimantan, Mama Olla Menjaga Warisan Tenun NTT
“Untuk suplay bahan baku makan siang gratis anak-anak ini kita bisa siapkan, Aimere bisa siapkan pepaya dan sayur, SMK di Aimere, begitu juga sekolah-sekolah yang lain,” tambahnya.
Lebih lanjut dikatakan, Kabupaten Ngada menyiapkan 18 dapur untuk program MBG. Untuk itu, keterlibatan semua sektor sangat penting termasuk sekolah -sekolah yang berpotensi bisa mengadakan bahan baku. Dalam waktu dekat sambungnya, akan memetakan potensi masing-masing sekolah di Ngada.
Saat mengunjungi stan pameran dalam rangka Hardiknas di Lapangan Soa, Bupati Ray mengapreasi hasil karya masing-masing sekolah. Kesempatan itu, sekolah -sekolah memamerkan berbagai produk kerajinan tangan, produk olah makanan, produk pertanian seperti pupuk cair, hingga anakan pohon. (cha)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
| FEATURE: Siswa Asal Papua Tengah Menuntut Ilmu di TTU, Kerinduan Elisabeth di Pusara Ibunya |
|
|---|
| Feature: Tradisi Warga Lembata Jaga Warisan Leluhur, Muro, Larangan Mengambil Hasil Laut |
|
|---|
| Feature: Workshop Robotics FILOSI di Kota Kupang, Siswa Antusias Merakit Robot |
|
|---|
| FEATURE: Gedung Sekolah SMP dan SMA Nesi Neonmat Tidak Layak, Ratusan Siswa Belajar di Aula Korem |
|
|---|
| FEATURE: Perjuangan Siswa Lelas XI SMK Kesehatan Cartintes Atambua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gawi-massal-di-Kabupaten-Ende.jpg)