Minggu, 10 Mei 2026

Human Interest Story

FEATURE: Martina Bala dan Gubuk Reotnya di Kampung Magesayang, Kabupaten Sikka

Dalam kondisi hidup serba kekurangan, Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete,

Tayang: | Diperbarui:
POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka sedang berada di depan rumahnya. 

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto

POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Dalam kondisi hidup serba kekurangan, Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, harus berjuang membesarkan keempat dari enam anak yang dimilikinya.

Mereka tinggal di sebuah rumah berdinding pelupu bambu yang nyaris roboh, dengan lantai tanah dan tanpa fasilitas dasar yang layak.

Suami Mama Martina Bala telah meninggalkan keluarga sejak anak-anaknya masih kecil. Sejak itu, beban sebagai pencari nafkah dan kepala keluarga harus dipikul sendiri olehnya.

Baca juga: FEATURE: Malam Literasi di Simpang Lima Kopi, Buku, dan Semangat Berbagi di Lembata  

Kondisi rumah yang ia tempati bersama keempat anaknya, Avila Triyanti (20), Elenterius Ronald (24), Oktavia Mikaela (14), dan Marianus Jenoario (13) sangat memprihatinkan.

Bangunan berukuran 2,5 x 4 meter tersebut hanya memiliki satu kamar, yang juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan pakaian pada kardus-kardus bekas.

 Sementara anak sulungnya Gabril Nong Gebi (32) sudah berkeluarga dan tinggal di Kelurahan Wolomarang. Ia bekerja serabutan sebagai penjaga toko dan mencetak batu merah.

Hidup dalam kondisi serba terbatas ini, membuat anak kedua Mama Martina Bala, Heriyanto Seno (27), harus merantau menjadi buruh sawit di Kalimantan, agar bisa membantu keluarganya.

Bangunan rumah mereka tampak miring dengan dinding pelupu bambu yang sudah lapuk. Tidak ada pintu permanen, hanya dua lembar seng bekas sebagai penutup pintu.

Rumah ini juga belum memiliki meteran listrik; untuk penerangan malam hari, mereka menumpang aliran listrik dari rumah Ketua RT setempat, Fransiskus Nong Efendi.

MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka sedang berada di depan rumahnya.
 
MARTINA - Martina Bala (53), seorang janda asal Kampung Magesayang, Dusun Wairbleler, Desa Hoder, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka sedang berada di depan rumahnya.   (TRIBUNFLORES.COM/ARNOLD WELIANTO )

Di bagian belakang rumah, dapur sederhana berdiri tanpa dinding, beratapkan seng bekas, menghadap ke arah kali kering. Untuk mandi dan buang air, mereka harus menumpang ke kamar mandi milik tetangga.

Kondisi ini telah berlangsung sejak 2019, setelah mereka pindah dari tanah milik seorang dermawan dan relawan kemanusiaan asal Belgia yang akrab disapa Mama Belgi yang sebelumnya menampung Mama Martina Bala ketika masih bekerja sebagai pengasuh anak di Panti Asuhan milik Mama Belgi di Watublapi pada tahun 2000 sampai April 2004.

Lalu dan pindah sebagai pengasuh anak di Panti Asuhan Stela Maris Nangahure Mei 2005 sampai pada Juni 2010 lalu.

Kemudian pindah ke tanah kebun milik Mama Belgi yang berada di sebelah Jembatan Magesayang pada Juni 2010 sampai Februari 2016. Setelah tanah milik Mama Belgi itu dijual ke pihak lain, Mama Martina Bala dan anaknya pindah di tanah kebun milik keluarga dari Februari 2016-pertengahan 2018. 

Dikarenakan bertengkar dengan keluarga tersebut, Mama Martina Bala dan keempat anaknya pindah tinggal pada salah satu rumah kosong milik salah satu warga di Kampung Magesayang dan tinggal di rumah itu sampai September 2019.

Baca juga: LIPSUS: Dokter Anastesi Mengaku Bingung Dikaitkkan dengan Kematian Ibu dan Anak di Sikka

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved