Human Interest Story
FEATURE: Tarian Kolosal Pecahkan Rekor MURI Penari Gawi di Ende Terbanyak
Sejumlah kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar dan bernuansa edukatif, kultural, dan kolaboratif ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia
Desa Wolokota sendiri berada di wilayah selatan Kabupaten Ende, dengan infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan jaringan internet yang sangat terbatas. Kondisi ini tentu menghambat perkembangan pendidikan secara signifikan.
Tak hanya fasilitas, kesejahteraan guru juga menjadi persoalan besar. Irna, yang telah mengabdi lebih dari satu dekade, saat ini hanya menerima insentif sebesar Rp 950 ribu per bulan.
"Awalnya saya hanya terima Rp 105 ribu. Baru empat tahun terakhir ini naik sedikit. Tahun 2023 saya terima Rp 783 ribu, tahun 2022 hanya Rp 587 ribu," tuturnya.
Meski jauh dari layak secara ekonomi, semangat Irna tak pernah pudar. Ia tetap mengajar dengan penuh dedikasi karena merasa memiliki tanggung jawab moral mendidik generasi muda di kampungnya.
Irna mengaku berbagai keterbatasan telah menjadi bagian dari kesehariannya. Mulai dari sulitnya akses internet, hingga pengalaman berjalan kaki puluhan kilometer demi bisa mengajar.
"Jalan kaki itu sudah biasa. Kami pernah jalan 4 sampai 5 jam dari Wolokota ke Wolotopo, sekitar 6,6 km. Kalau cuaca bagus, kami lewat laut, tapi kalau ekstrem, ya jalan kaki saja," kisahnya sambil tertawa kecil.
Transportasi yang sulit membuat proses belajar mengajar makin berat. Namun, tantangan itu tidak mematahkan semangat para guru di SDK Wolokota. Mereka tetap datang ke sekolah demi menyapa para siswa.
Jumlah siswa di SDK Wolokota pun tidak banyak. Totalnya hanya 27 orang yang tersebar dari kelas I sampai VI. Bahkan, kelas I hanya memiliki satu siswa. "Untuk kelas VI ada 7 orang, kelas V ada 5, kelas IV ada 3, kelas III dan II masing-masing 5, dan kelas I cuma satu anak," jelas Irna.
Semua guru di SDK Wolokota, termasuk kepala sekolahnya, masih berstatus honorer. Mereka tetap bertahan dalam keterbatasan dengan satu harapan: anak-anak di desa tetap bisa belajar. Kreativitas menjadi kunci utama dalam mengatasi kekurangan alat bantu ajar.
Irna dan rekan-rekannya kerap menggunakan biji batu atau bilah bambu sebagai alat bantu menghitung. "Untuk kelas rendah, kami pakai biji batu. Kalau tidak ada gambar dari laptop atau internet, ya kami buat sendiri dari bambu yang dibelah. Semua serba manual," katanya.
Lebih dari sekadar guru, Irna adalah pejuang pendidikan. Ia juga pernah beberapa kali mendaftar seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), namun selalu gagal karena statusnya sebagai guru swasta.
"Tahun lalu saya ikut PPPK tapi tidak lolos. Katanya sekolah swasta tidak bisa. Bahkan berkas saya pernah hilang entah ke mana," keluhnya dengan nada sedih.
Irna merasa seperti warga kelas dua. Tidak memiliki 'orang dalam', tidak punya koneksi. Berkali-kali mencoba, namun tetap saja gagal karena kendala administratif dan sistem yang tidak transparan.
"Saya tidak punya keluarga di sini. Daftar saja sudah hilang berkasnya. Cetak kartu ujian juga tidak bisa, langsung gugur," ujarnya.
Namun, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025 ini, Irna tetap menyimpan harapan. Ia berharap bisa tetap mengajar meskipun dengan upah minim, dan pemerintah bisa menempatkan setidaknya satu guru ASN di SDK Wolokota.
"Saya hanya ingin tetap mendidik anak-anak di sini. Tapi tolong, beri kami satu guru ASN agar sekolah ini bisa lebih maju," harapnya.
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, menyampaikan bahwa kini semua guru, termasuk dari sekolah swasta, diizinkan mengikuti seleksi PPPK tahun 2025. "Sudah ada aturannya, semua boleh ikut seleksi PPPK, termasuk guru swasta. Jadi tidak ada diskriminasi lagi," kata Bupati Yosef.
Hal yang sama juga dikeluhkan para guru honorer di Kabupaten Sikka. Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah.
Baca juga: FEATURE: Warga Berekreasi Memanfaatkan Luapan Air Sumur di Oepura Kota Kupang
"Di hari pendidikan ini, harapan saya itu, untuk semua guru honorer di sekolah swasta bisa diperhatikan," ujar Vinsensia Ervina Talluma, guru honorer SDK 064 Watubala yang mengabadi di sekolah jarak jauh kampung Wairbukang di Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka, Jumat (2/5).
Ervina seorang guru honorer yang rela digaji Rp300 ribu perbulan, padahal ia harus menempuh jarak sejauh enam kilometer ke sekolah setiap kali mengajar. Sejak menjadi guru honorer pada 5 Februari 2024, setiap harinya ia harus menempuh perjalanan 6 kilometer untuk mengajar anak- anak di dusun terpencil yang merupakan sekolah jarak jauh dari SDK 064 Watubala di kampung Wairbukang, Dusun Wodong, Desa Wairterang Kecamatan Waigete Kabupaten Sikka. (bet/awk)
Sekolah Suplay Bahan Baku MBG
Bupati Ngada Raymundus Bena mengajak SMA/SMK se-Kabupaten Ngada untuk berkontribusi dalam menyukseskan program makan bergizi gratis di Kabupaten Ngada.
Program makan bergizi gratis, sudah bergulir di Kabupaten Ngada sejak Februari lalu, dengan menjadikan tiga sekolah sebagai pilot proyek. Namun dalam perjalanan, masih banyak yang perlu di siapkan dengan matang sebelum program ini akan menyasar seluruh sekolah di Kabupaten Ngada yaitu pasokan bahan baku.
Bupati Raymundus mengajak SMA/SMK di Kabupaten Ngada untuk berkolaborasi karena melihat potensi yang dimiliki oleh masing-masing sekolah untuk bisa mensuport pemenuhan bahan baku.
“Saya baru melihat secara dekat ternyata banyak SMA/SMAK anak-anak kita menghasilkan kreativitas yang bisa mendukung program makan siang gratis,” kata Bupati Raymundus usai apel Hardiknas di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Jumat (2/5).
Kolaborasi itu katanya, akan ditindaklanjuti memetakan potensi masing-masing sekolah lebih khusus kebutuhan buah-buahan dan sayur-sayuran. Pemenuhan kebutuhan untuk makan bergizi gratis tidak boleh mendatangkan bahan baku dari luar Ngada.
Untuk itu Ia menekankan, keterlibatan dari sekolah -sekolah, kampus yang ada di Kabupaten Ngada agar sama-sama menyiapkan komoditi yang bisa dihasilkan oleh sekolah.
Baca juga: FEATURE: Dari Kemarahan Menjadi Kecintaan di Kalimantan, Mama Olla Menjaga Warisan Tenun NTT
“Untuk suplay bahan baku makan siang gratis anak-anak ini kita bisa siapkan, Aimere bisa siapkan pepaya dan sayur, SMK di Aimere, begitu juga sekolah-sekolah yang lain,” tambahnya.
Lebih lanjut dikatakan, Kabupaten Ngada menyiapkan 18 dapur untuk program MBG. Untuk itu, keterlibatan semua sektor sangat penting termasuk sekolah -sekolah yang berpotensi bisa mengadakan bahan baku. Dalam waktu dekat sambungnya, akan memetakan potensi masing-masing sekolah di Ngada.
Saat mengunjungi stan pameran dalam rangka Hardiknas di Lapangan Soa, Bupati Ray mengapreasi hasil karya masing-masing sekolah. Kesempatan itu, sekolah -sekolah memamerkan berbagai produk kerajinan tangan, produk olah makanan, produk pertanian seperti pupuk cair, hingga anakan pohon. (cha)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
| FEATURE: Siswa Asal Papua Tengah Menuntut Ilmu di TTU, Kerinduan Elisabeth di Pusara Ibunya |
|
|---|
| Feature: Tradisi Warga Lembata Jaga Warisan Leluhur, Muro, Larangan Mengambil Hasil Laut |
|
|---|
| Feature: Workshop Robotics FILOSI di Kota Kupang, Siswa Antusias Merakit Robot |
|
|---|
| FEATURE: Gedung Sekolah SMP dan SMA Nesi Neonmat Tidak Layak, Ratusan Siswa Belajar di Aula Korem |
|
|---|
| FEATURE: Perjuangan Siswa Lelas XI SMK Kesehatan Cartintes Atambua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gawi-massal-di-Kabupaten-Ende.jpg)