Human Interest Story
FEATURE: Tarian Kolosal Pecahkan Rekor MURI Penari Gawi di Ende Terbanyak
Sejumlah kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar dan bernuansa edukatif, kultural, dan kolaboratif ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia
Gubernur NTT, Melki Laka Lena menegaskan, peringatan Hardiknas, selain meningkatkan taraf pendidikan harus dijadikan momentum untuk menggali dan mengembangkan kreativitas serta potensi daerah.
"Anak-anak harus mampu mengenali dan mengembangkan potensi yang ada di daerahnya. Jangan biarkan ada potensi yang tidur," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar mencintai daerah asal mereka melalui pendidikan.
Gubernur Melki menambahkan, pakaian adat yang dikenakannya berasal dari Sabu Raijua, kampung asal tokoh nasional Izaak Huru Doko. Izaak Doko adalah salah satu tokoh nasional asal NTT yang pernah dipercaya sebagai anggota kabinet. “Ia panutan dari NTT yang telah memberi inspirasi secara nasional,” ujarnya.
Ia berharap, siswa-siswi mengikuti jejak Huru Doko dengan mulai membangun dari pendidikan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung kemajuan pendidikan di NTT. "Ayo, bangun pendidikan NTT,” ajaknya.
Ende Terbanyak
Dari Atambua, Kabupaten Belu dilaporkan, ribuan pelajar dari tingkat SMP dan SMA/SMK se-Kabupaten Belu tampil memukau dalam peringatan Hardiknas di Lapangan Umum Atambua.
Dalam kegiatan itu ditampilkan tarian kolosal yang diikuti 2.000 lebih penari yang membawakan Tarian Likurai, Gawi dan Tebe bersama. Para penari tampil anggun mengenakan pakaian adat khas Belu.
Plt Kepala Dinas Kependidikan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Belu, Maksimus Mali, S.STP, menjelaskan, tarian kolosal ini tidak hanya digelar untuk memeriahkan peringatan Hardiknas, tetapi juga untuk menanamkan rasa cinta budaya lokal di tengah arus globalisasi.
“Kami mengkolaborasikan Tarian Gawi dan Likurai dengan beberapa elemen tari daerah lainnya. Ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan bentuk konkret pendidikan karakter, menanamkan nasionalisme dan kecintaan terhadap warisan budaya daerah kepada generasi muda,” jelas Maksimus Mali.
Baca juga: FEATURE: Mama Olla Warga NTT Kembangkan Pasaran Warisan Tenun NTT di Nunukan Barat
Menurutnya, tantangan era modern saat ini membawa dampak besar terhadap eksistensi budaya lokal. Maka dari itu, melalui seni pertunjukan kolosal ini, para pelajar didorong untuk tidak hanya mengenal, tetapi juga bangga dan aktif melestarikan budaya daerah.
Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini juga menjadi ajang promosi budaya Kabupaten Belu ke kancah yang lebih luas. .
“Tarian kolosal ini telah menjadi ruang silaturahmi lintas sekolah, lintas usia, bahkan lintas budaya. Ini adalah panggung edukatif yang menyatukan semua dalam semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya,” tambahnya.
Maksimus juga berharap kegiatan seperti ini dapat membuka peluang lebih besar bagi pelajar-pelajar Belu untuk tampil di event budaya tingkat nasional bahkan internasional.
Di Soe, TTS, upacara Hardikas di lapangan Puspemnas Pemda TTS sempat dihentikan karena hujan. Setelah selesai upacara dilanjutkan dengan pementasan Tarian Bonet oleh seluruh peserta upacara. Ada sekitar 2.000 penari dari SD sampai SMA beserta guru-guru.
| FEATURE: Siswa Asal Papua Tengah Menuntut Ilmu di TTU, Kerinduan Elisabeth di Pusara Ibunya |
|
|---|
| Feature: Tradisi Warga Lembata Jaga Warisan Leluhur, Muro, Larangan Mengambil Hasil Laut |
|
|---|
| Feature: Workshop Robotics FILOSI di Kota Kupang, Siswa Antusias Merakit Robot |
|
|---|
| FEATURE: Gedung Sekolah SMP dan SMA Nesi Neonmat Tidak Layak, Ratusan Siswa Belajar di Aula Korem |
|
|---|
| FEATURE: Perjuangan Siswa Lelas XI SMK Kesehatan Cartintes Atambua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Gawi-massal-di-Kabupaten-Ende.jpg)