Minggu, 19 April 2026

Human Interest Story

FEATURE: Tarian Kolosal Pecahkan Rekor MURI Penari Gawi di Ende Terbanyak

Sejumlah kegiatan yang melibatkan puluhan ribu pelajar dan bernuansa edukatif, kultural, dan kolaboratif ini memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia

POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
TARIAN GAWI MASSAL - Sebanyak 5000 pelajar baik tingkat SMP dan SMA/SMK di Kabupaten Ende menari gawi massal usai mengikuti apel peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Ende, Jumat (2/5/2025) bertempat di lapangan Perse Ende. 

Tarian Bonet merupakan tarian khas TTS yang berarti merayakan hasil panen. Menariknya instrumen dan lagu pengiring dinyanyikan oleh penari. Meski begitu, hujan yang turun pelahan mengganggu beberapa penari untuk menyelesaikan Tarian Bonet ini. Meski begitu tarian tetap dituntaskan. 

TARIAN GAWI MASSAL -  Sebanyak 5000 pelajar baik tingkat SMP dan SMA/SMK di Kabupaten Ende menari gawi massal usai mengikuti apel peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Ende, Jumat (2/5/2025) bertempat di lapangan Perse Ende.
TARIAN GAWI MASSAL - Sebanyak 5000 pelajar baik tingkat SMP dan SMA/SMK di Kabupaten Ende menari gawi massal usai mengikuti apel peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tingkat Kabupaten Ende, Jumat (2/5/2025) bertempat di lapangan Perse Ende. (POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO)

Acara juga diisi beberapa penampilan yaitu puisi kepada Presiden RI, puisi dalam Bahasa Dawan, Tarian kreasi oleh siswi SDI Nifobuko, serta penyerahan piagam juara.

Di Ende, sebanyak 5000 pelajar baik tingkat SMP dan SMA/SMK di Kabupaten Ende menari Gawi massal usai mengikuti apel Hardiknas di lapangan Perse Ende.Jumlah pelajar yang menari Gawi massal tahun 2025 ini menjadi peserta terbanyak tarian tradisional yang dipentaskan secara massal di seluruh kabupaten/kota di Provinsi NTT. 

Sejak pagi, ribuan pelajar peserta tarian Gawi massal yang mengenakan pakian adat berupa baju putih dan ragi (sarung) berwarna hitam untuk laki-laki dan Lawo Lambu, berupa sarung dan baju biru dan merah untuk perempuan sudah memadati tribun utama lapangan Perse Ende.

Usai apel, mereka mulai mempersiapkan diri guna menari Gawi secara massal di tengah lapangan disaksikan Bupati dan Wakil Bupati Ende, Forkopimda dan masyarakat Kota Ende. 

Baca juga: LIPSUS: Ratusan Pemuda Seret Seng ke Jalan Tradisi Rabu Trewa Jelang Semana Santa 

Satu persatu mereka masuk ke tengah lapangan dan membentuk lingkaran dengan urutan laki-laki di lingkaran bagian dalam sedangakan perempuan di lingkatan bagian luar.

"Tahun ini memang agak spesifik yang berlaku di NTT pada umumnya dan masing-masing kabupaten karena pada 2 Mei ini, sesuai arahan Bapak Gubernur, untuk NTT menari untuk pecahkan rekor MURI sehingga kami bersepakat secara kepanitian kita memilih Gawi untuk Kabupaten Ende, sehingga secara kepesertaan tadi itu di luar dugaan karena jumlahnya kurang lebih sekitar 5000 peserta," ujar Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende,  Malthidis Mensi Tiwe. 

Menurut dia, Tarian Gawi merupakan tarian yang sangat sakral bagi masyarakat Ende Lio Nage yang memiliki makna persatuan, kerjasama, gotong royong, sama rasa, senasib sepenanggungan. (dim/bet/any)


Guru Honorer Merasa Warga Kelas Dua

Di saat sebagian besar sekolah di perkotaan mulai menerapkan pembelajaran berbasis digital, sebuah potret kontras justru masih terjadi di pelosok Kabupaten Ende. 

Di Desa Wolokota, Kecamatan Ndona, pendidikan berlangsung dengan segala keterbatasan, bahkan alat peraga matematika pun harus dibuat dari batu dan bilah bambu.

Irna Mariana Pongge, seorang guru honorer di SDK Wolokota, telah mengabdikan dirinya selama 13 tahun untuk mendidik anak-anak di desa terpencil ini. Sejak tahun 2008, ia terus mengajar tanpa pernah menyerah, meskipun fasilitas pendidikan sangat minim.

"Kalau di dalam kelas kami tidak pernah mengajar pakai online karena memang jaringan internetnya terbatas. Di sekolah kami juga tidak ada listrik. Kalau sangat butuh, kami pakai generator," ujar Irna kepada Pos Kupang, Jumat (2/5).

Baca juga: LIPSUS: Anggaran Rp 30 M, Renovasi Sekolah Amburadul  Temuan Tim Bengkel APPeK NTT

Sekolah tempat Irna mengajar tidak memiliki komputer. Untuk mengikuti ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer), siswa SDK Wolokota harus 'nebeng' di sekolah lain di Kota Ende yang memiliki fasilitas memadai.

"Untuk ANBK, kami harus antar siswa ke kota. Karena di sini komputer pun tidak ada. Itu tantangan besar buat kami," ungkap Irna.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved