Opini
Opini: Paus Fransiskus dan Wibawa Gereja Masa Kini
Kepergiannya sungguh telah menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi Gereja tetapi juga bagi dunia.
Oleh: Yantho Bambang
Biarawan Rogationist, Tinggal di Manila
POS-KUPANG.COM - Belakangan ini, pikiran, hati, dan mata dunia tertuju ke Vatikan, kepada seorang tokoh penting Gereja dan dunia yang telah berpulang, yakni Paus Fransiskus.
Kepergiannya sungguh telah menyisakan duka yang mendalam bukan hanya bagi Gereja tetapi juga bagi dunia.
Karena itu tidak heran jika belakangan ini banyak orang dari segala penjuru yang turut mengucapkan belasungkawa yang mendalam dan bahkan berdoa untuk keselamatan beliau.
Paus Fransiskus memang sudah dikenal luas. Namun itu bukan semata-mata karena jabatannya sebagai Paus (pemimpin tertinggi Gereja Katolik).
Bukan pula karena buah-buah pikiran briliannya yang ia tuangkan dalam dokumen-dokumen dan ensliklik-ensiklik penting Gereja masa kini. Sebaliknya, itu karena kewibawaan hidup keagamaannya.
Beliau adalah sosok religius dan gembala sejati. Ia tidak berbicara banyak tentang belas kasih, pengorbanan, pengampunan, dan kerajaan Allah dengan segala kemewahannya tetapi ia menunjukkannya lewat kewibawaan dan kesaksian hidupnya yang nyata.
Karena itu tidak heran pula jika orang melabeli beliau dengan bermacam- macam titel.
Pertama, gembala yang berbau domba. Ia sendiri berujar “saya lebih suka Gereja yang memar, terluka, dan kotor karena mencebur diri kedalam hidup orang-orang miskin daripada Gereja yang sakit yang hanya sibuk mengurus diri dan harta kekayaaannya.” (Evangelii Gaudium, 2013)
Ujaran tersebut tentu bukan ujaran hampa. Sebaliknya, itu merupakan realitas yang ia temui dalam dinamika kehidupan Gereja dewasa ini.
Bahwasannya Gereja, terutama para pemimpinnya, terlalu terobsesi dengan kemewahan dunia dan karena itu tidak mau menyentuh realitas kehidupan umat yang dilayaninya.
Dia tidak ragu dan takut mengungkapkan realitas itu karena dia sendiri tidak tercebur kedalam lingkaran itu.
Dia adalah seorang yang murni dengan panggilannya sebagai religius dan lehih-lebih sebagai seorang gembala.
Ia mengakar kuat pada injil dan secara konsisten menghidupi nilai-nilainya dalam kehidupan nyata sebagai seorang religius dan seorang gembala.
Seperti Yesus, ia mengosongkan diri kemudian mencebur kedalam hidup orang-orang miskin sambil menjaga kemurniannya sebagai seorang religius dan gembala.
Baginya, menjadi gembala berarti menjadi seperti Yesus yang mengenal, setia mendengar, dan berjalan bersama domba-dombanya dan bukan sebaliknya mengurung diri dalam tembok-tembok biara, pastoran, dan istana.
Kedua, sebagai bapak kemanusiaan. Julukan itu dilabeli oleh seorang tokoh muslim Indonesia Nasaruddin Umar dalam judul artikelnya yang dimuat di harian Media Indonesia pada 23 April 2025 lalu “Selamat Jalan Bapak Kemanusiaan”.
Julukan beliau hemat saya beralasan karena Paus Fransiskus adalah seorang pribadi yang inklusif.
Didorong oleh imannya yang besar, ia bergerak melampaui sekat-sekat dan sentimen-sentimen primordial seperti ras, agama, suku, budaya, dan status sosial untuk memperjuangkan satu hal yakni kemanusiaan universal.
Ia berdialog dengan pemimpin-pemimpin besar dan orang-orang yang berasal dari latar belakang berdeda untuk menjawabi secara bersama masalah-masalah yang dihadapi dunia dewasa ini.
Ia tidak sungkan-sungkan mengeritik ideologi-ideologi yang tidak pro-life dan orang-orang kecil.
Ia bahkan secara keras mengutuk aneka bentuk tindakan yang menghancurkan kehidupan manusia dan planet bumi, seperti perang dan eksploitasi alam.
Ketiga, bapak para imigran dan orang-orang miskin. Dari sekian banyak pemimpin hebat dewasa ini, Paus Fransiskus mungkin satu-satunya pemimpin yang getol berbicara dan berbuat banyak tentang nasib para imigran dan orang-orang miskin.
Ia mengungkapkan kepeduliannya melalui kata-kata dan perbuatan nyata. Masih terngiang dalam ingatan publik saat di mana ia mencium kaki para imigran saat ritual pencucian kaki di Castelnuovo di Porto, Itali pada 24 Maret 2016 (Lih. CNN Indonesia, 22 April 2025)
Selain itu, ia juga mengungkapkan suara profetisnya tentang mereka. Kepada para pemimpin Eropa dan America misalnya ia berkata, imigran adalah orang-orang terlantar yang harus diterima, dilindungi, dipromosikan, dan diintegrasikan. (Donal Door, The Pope Francis Agenda, 2018, p. 87). Mereka adalah orang-orang kalah yang harus diakomodasi dan lindungi.
Kemudian kepada para pemimpin politik dan ekonomi ia berkata, orang-orang miskin adalah orang-orang yang harus diprioritaskan dalam setiap kebijakan politik dan ekonomi.
Mereka bukanlah objek yang harus dieliminasi. Inilah sikap radikal Sri Paus terhadap orang-orang kecil dan terpinggirkan.
Keempat, bapak toleransi. Paus Fransiskus adalah sosok yang dikenal sebagai jembatan perbedaan.
Sama seperti Santo Fransiskus dari Asisi, di mana ada berbedaan dan konflik ia selalu hadir sebagai jembatan yang menghubungkan.
Hal itu ia tunjukkan lewat kata-kata dan tindakan yang menyejukkan dan menggerakkan hati dan hidup orang sehingga terciptalah kerukunan dan perdamaian.
Inilah kesaksian atau kewibawaan hidup keagamaan Paus Fransiskus yang diakui dan dihormati dunia.
Percaya atau tidak, kesaksian atau kewibawaan hidup keagamaan itulah yang membuat kredibilitas Gereja tetap terjaga.
Namun pertanyaanya adalah apakah Gereja dewasa ini senapas dengan semangat hidup Paus Fransiskus?
Pertanyaan ini sulit dijawab mengingat sekelumit persoalan yang dialami Gereja dewasa ini, terlebih khusus para pemimpinya.
Seperti yang telah disinggung pada bagian awal bahwa Gereja dewasa ini tidak menunjukkan esensi panggilan hidupnya yang sejati.
Ia berbicara tentang preferetial option for the poor namun ia jauh dari orang-orang miskin. Ia sibuk mengurus diri dalam singgasana kenyamanan tembok biara, istana, dan pastoran.
Ia berbicara tentang kasih, pengorbanan, pengampunan, solidaritas, dan kerajaan Allah namun eksistensinya sendiri tidak mencerminkan nilai-nilai itu karena ia sendiri tidak berakar kuat pada nilai-nilai injil.
Cara berada yang demikian tentu membuat kredibilitas dan kewibawaanya sebagai sebuah institusi spiritual dan moral semakin diragukan.
Karena itu sebagai upaya untuk mengembalikan dan mempertahankan kredibilitasnya, ia harus berani hidup secara radikal seperti yang diteladani oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Ia pertama-tama harus mengakar kuat pada nilai-nilai injil karena injil adalah pribadi Yesus sendiri.
Orang yang melekat kuat pada nilai-nilai injil tidak hanya akan bermekar seperti bunga dan mengeluarkan aroma Kristus tetapi lebih dari pada itu ia akan dengan mudah masuk kedalam realitas hidup orang lain karena ia akan menjadi seperti Kristus - Christ-like; mengosongkan diri dan hidup untuk yang lain, khususnya orang-orang kecil.
Cara berada yang demikianlah yang pada gilirannya membantu dia melampaui
obsesi duniawi karena fokusnya bukan lagi pada diri sendiri, harta, dan kesenangan duniawi melainkan pada pemenuhan panggilan hidupnya sebagai pengikut Kristus.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Opini: NTT Hari Ini- Teras Mediator Antar Budaya |
|
|---|
| Opini: Dinamika Kesuburan Tanah |
|
|---|
| Opini: Selamat Datang Mas Gibran- Refleksi Paskah dari Gerbang Selatan Indonesia |
|
|---|
| Opini: Kebangkitan Kristus sebagai Napas Ekospiritualitas dan Eko-keadilan dalam Misi Pastoral |
|
|---|
| Opini: Paskah di Tanah Luka- Ketika Kebangkitan Menuntut Kita Memulihkan NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Presiden-ke-5-RI-Megawati-Soekarnoputri-jabat-tangan.jpg)