Berita NTT Terkini

LPPOM MUI NTT Gelar Festival Syawal, Edukasi Halal Penggilingan Daging di Kupang 

LPPOM MUI dibentuk atas permintaan pemerintah untuk melakukan audit halal terhadap semua jenis produk yang dikonsumsi atau digunakan konsumen. 

Penulis: Irfan Hoi | Editor: Sipri Seko
POS-KUPANG.COM/IRFAN HOI
LPPOM MUI - Pose bersama Direktur LPPOM MUI NTT Khalid Moenardy (duduk di tengah) bersama pengurus dan pelaku usaha jasa penggilingan daging serta auditor. Selasa, (22/4/2025) di Kantor MUI NTT.  

"Tujuan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian LPPOM kepada UMK untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk," kata Khalid.

Selain itu, sosialisasi itu juga sebagai komitmen LPPOM MUI untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan jumlah produksi produk halal Indonesia.  Menurut dia, kegiatan itu juga merupakan komitmen LPPOM untuk berbagi pengetahuan teknis penjaminan produk halal dan persyaratan minimal yang harus dipenuhi oleh para UMK agar terjamin kehalalannya dan mendapatkan sertifikat halal.

Kegiatan ini dimaksudkan membangun good reputation dan meningkatkan eksposur, LPPOM MUI menegaskan posisinya sebagai Lembaga Pemeriksa Halal (LPH) yang profesional dan kredibel, serta menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro dan Kecil (UMK). 

"Upaya seperti ini diwujudkan melalui publikasi aktif di media sosial dan media massa, serta pelaksanaan kegiatan caring and sharing yang bersifat humanis sebagai bentuk kepedulian terhadap pelaku UMK dalam proses sertifikasi halal," ujarnya. 

Untuk membangun good relation, LPPOM MUI menjalin hubungan yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan.  Keterlibatan itu supaya ada relasi untuk saling memberi dampak positif dan mendukung berbagai program sertifikasi halal serta meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kehalalan produk di masyarakat.

Dalam menciptakan good footprint, LPPOM MUI berkomitmen menyediakan fasilitas penggilingan halal di seluruh provinsi dengan melibatkan pemangku kepentingan dan pemegang regulasi sebagai pemantik perubahan.  Khalid menyampaikan, Festival Syawal pertama diselenggarakan pada tahun 2022 atau bertepatan dengan 1443 H, dengan fokus pada pentingnya jaminan produk halal bagi konsumen Muslim. 

Kegiatan yang dilaksanakan meliputi sosialisasi, pendampingan, dan fasilitasi pengurusan sertifikat halal bagi pelaku usaha. Pada tahun 2023 atau 1444 H, Festival Syawal kedua mengangkat tema "Halal Dimulai dari Hulu", dengan fokus pada sertifikasi halal rumah potong hewan dan unggas. 

Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi mengenai pentingnya jaminan halal di rumah potong, serta pendampingan pengurusan sertifikat halal bagi unit tersebut.

Festival Syawal ketiga pada tahun 2024 atau 1445 H menitikberatkan pada peningkatan ekonomi masyarakat lokal melalui pengembangan wisata halal. Puncak acara diselenggarakan di Labuan Bajo, di mana LPPOM MUI NTT menjadi tuan rumah. 

"Kegiatan utama meliputi sosialisasi dan pendampingan sertifikasi halal bagi UMKM di kawasan wisata terpilih di NTT," ujarnya.

Dia menyebut rangkaian tema dalam Festival Syawal dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa LPPOM MUI NTT senantiasa berada di garda terdepan dalam menjawab isu-isu strategis di kalangan konsumen, khususnya dalam menjamin kehalalan produk bagi konsumen Muslim. (fan) 

 

 


 

Baca  berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE.NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved