Opini

Opini: Kamis Putih, Kekuasaan Yang Merendah

Perayaan Tri Hari Suci merupakan satu rangkaian perayaan yang membawa umat kepada satu pemahaman akan misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus

Editor: Dion DB Putra
VATICAN MEDIA
ILUSTRASI - Paus Fransiskus mencium kaki seorang wanita narapidana di penjara Rebibbia di pinggiran kota Roma pada Kamis Putih, 28 Maret 2024, sebuah ritual yang dimaksudkan untuk menekankan panggilan pelayanan dan kerendahan hati. 

Yesus mengubah Paskah Yahudi menjadi sebuah peringatan pengorbananNya sebagai Anak Domba Allah di atas Kayu Salib. Ia adalah Musa baru yang memimpin Umat Allah dalam suatu eksodus baru. 

TubuhNya yang akan menjadi roti dari Surga. Ketika Yesus membagi-bagikan roti kepada para muridNya, di situlah ekaristi ditetapkan sebab setelah peristiwa perjamuan malam terakhir tersebut. 

Roti hanya akan dibagikan ketika dirayakan perayaan ekaristi atau dengan kata lain perayaan ekaristi merupakan pengenangan akan peristiwa perjamuan malam terakhir antara Yesus dan para muridNya.

Kedua, mandat yang kedua yakni pembasuhan kaki. Kekhasan dari ritual Kamis Putih yang paling mengharukan dan terkenal adalah upacara pembasuhan kaki.  Ritual ini telah menjadi ciri khas hari raya Kamis Putih setidaknya sejak abad ketujuh. 

Tindakan pembasuhan kaki menjadi simbol kerendahan hati dari Allah. Bukan hanya itu, ada satu hal yang signifikan di sini, ketika Petrus menyadari bahwa Yesus membasuh kakinya, ia menolak. Tetapi Yesus berkata: “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengerti kelak” (Yohanes 13:7). 

Pernyataan Yesus di atas menjelaskan bahwa pembasuhan kaki yang dilakukanNya terhadap para murid lebih dari sekadar membersihkan kaki tetapi ada makna yang terdalam yang ingin dipesankan oleh Yesus yakni suatu imamat yang baru. 

Ia sebenarnya menahbiskan para rasul untuk menjadi pelayan-pelayan Perjanjian Baru. Adegan pembasuhan kaki mengandung beberapa kiasan yang mencolok tentang pembasuhan para imam dalam Perjanjian Lama. 

Sebagai contohnya, setelah Musa menyelesaikan kemah suci, Musa dan Harun membasuh tangan dan kaki mereka sebelum mereka masuk dan menuju mezbah (Keluaran 40:31).

Ketiga, mandat yang ketiga yakni pelayanan. Dalam adegan pembasuhan kaki yang dilakukan oleh Yesus, ada mandat pelayanan yang ingin disampaikan. 

Pelayanan tersebut didasarkan pada kasih Kristus sendiri yang datang untuk melayani bukan untuk dilayani.

Pelayanan pun harus didasarkan pada cinta dan ketulusan sebagaimana yang sudah diteladankan oleh Yesus. 

Pelayanan pun menghadirkan sikap penyangkalan diri; memprioritaskan kepentingan orang lain atau bersama di atas kepentingan diri sendiri.

Kekuasaan yang “Merendah”

Kekuasaan selalu identik dengan kehormatan diri. Kendati demikian, orang yang berkuasa akan selalu merasa di atas angin dibandingkan dengan yang lain yang tidak memiliki kekuasaan. 

Sebab itu kadang kekuasaan membuat seseorang lupa daratan bahkan sampai ada yang sampai lupa diri. Begitulah kekuasaan duniawi.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved