Mantan Bupati TTU Tenggelam
Catatan Duka Mengenang Ade Bupati Ray
Dalam sepuluh tahun beliau menjadi Bupati TTU, saya terbiasa menyapanya dengan "Ade Bupati Ray".
Kini, saat menulis artikel beraroma feature ini, terkesiaplah beta di dalam hening; bahwa perjumpaan di "Kota Pancasila" Ende, antara beta, Senior Frans, dan Ade Ray ternyata itu menjadi "pertemuan segitiga" kami yang terakhir kalinya. Ahhhhh, kini Senior Frans dan Ade Ray sudah pergi jauh. Jauh sekali, dan tiada pernah kembali.
Bersua Bupati Ray di Arena Kongres Alumni GMNI
Meloncat ke pergerakan waktu di tahun 2015. Ketika itu, belum berhitung sebulan saya dan keluarga kembali ke Jakarta. Sekira awal bulan Agustus 2015, Persatuan Alumni GMNI melangsungkan kongresnya di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ), Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dua tahun sebelumnya, di tahun 2013, seiring beta pamitan "pensiun" dari kantor Kemenpora RI, kami sekeluarga sudah pulang menetap di Manado, Sulawesi Utara. Namun, perjalanan waktu mengubah lagi langkah kehidupan.
Kami sekeluarga harus balik lagi ke Jakarta, karena beta menyahuti ajakan untuk menjadi Tenaga Ahli Anggota DPR RI Melchias Markus Mekeng, dari Fraksi Partai Golkar.
Pada hari H pembukaan Kongres PA GMNI, yang dibuka langsung oleh Presiden Jokowi, beta mendatangi arena kongres. Bukan sebagai pengurus PA GMNI lantaran beberapa tahun sebelumnya beta sudah mengundurkan diri dari kepengurusan pusat PA GMNI.
Beta pun datang tidak sebagai partisipan kongres karena memang tidak diundang. Beta datang sebagai pribadi alumnus GMNI untuk menunjukkan respek pada semua sahabat para kader bangsa jebolan GMNI, yang sedang berkumpul dalam kebersamaan di suatu acara formal tertinggi organisasi.
Di masa rehat pasca seremoni pembukaan Kongres PA GMNI, beta pun menyempatkan diri bersua sejenak dengan antara lain kolega terdekat beta di DPC GMNI Kupang dulu, yakni Bung Niko Frans.
Beta menjadi Sekretaris DPC GMNI Kupang saat mendiang Kak Niko menjabat Ketua. Beta berpapasan dan bergurau barang sejenak dengan beberapa yunior alumni se-almamater GMNI Kupang.
Di pelataran depan aula arena PRJ tempat pelaksanaan kongres, beta dan beberapa kawan alumni dari sejumlah daerah di Indonesia bercengkerama dan berdiskusi ala kadarnya.
Ada kumpulan lima sampai enam orang yang berdiri dalam formasi lingkaran, ada juga Raymundus Sau Fernandes yang waktu itu sudah menjadi Bupati TTU.
Kepada beta, Ray berujar perlahan, "Abang persiapkan diri untuk maju lagi di Pilkada Lembata".
Beta memang pernah maju berkontestasi dalam Pilkada Lembata tahun 2011 sebagai Calon Wakil Bupati mendampingi Calon Bupati Herman Wutun yang diusung oleh Partai Golkar.
Mendengar perkataan Ray, beta pun dengan suara perlahan menanggapi. "Ade Bupati Ray, terima kasih perhatiannya. Tapi beta sudah putuskan untuk tidak akan maju lagi. Beta sudah petik hikmahnya. Dalam urusan politik praktis di NTT, sepertinya komunitas alumni GMNI tidak punya strategi kolektif perjuangan ideologis. Beta doakan Ade Bupati Ray bisa memimpin TTU untuk periode kedua."
Menyimak tanggapan beta, dia pun tersenyum tipis dan berujar pelan. "Iya Abang, beta bisa memahami situasi yang Abang rasakan". Perjumpaan di pelataran arena PRJ Kemayoran itu, ternyata menjadi pertemuan terakhir beta dengan "Ade Bupati Ray".
Percakapan Ringkas via Ponsel di Tahun 2018
Beta terkenang lagi pada satu momen di pertengahan tahun 2018, mungkin di bulan Mei atau Juni, saat mana beta masih mengemban amanah sebagai Wakil Sekjen DPP Partai Golkar.
Di suatu momen, beta sedang bersama dua sahabat yakni Fransiskus Roi Lewar (kini Ketua DPC Partai Solidaritas Indonesia/PSI Kabupaten Flores Timur), dan Mikael Mali (kini fungsionaris pusat Partai Kebangkitan Nusantara/PKN), kami sedang berada di daerah Bogor untuk suatu urusan rintisan usaha/bisnis kecil-kecilan.
Dalam perjalanan dari Bogor hendak balik ke Jakarta, beta menelpon "Ade Bupati Ray" untuk menyampaikan niat sekaligus ancang-ancang beta untuk maju dalam kontestasi pemilu legislatif yakni menjadi Caleg pusat dari Partai Golkar di Dapil 2 NTT yang juga meliputi wilayah Pulau Timor.
Waktu itu "Ade Bupati Ray" sepertinya tidak lagi bergabung di PDI-Perjuangan, dan sudah menjadi Ketua DPW Partai Nasdem NTT.
Kendati kami berbeda keanggotaan Parpol, namun "ikatan rasa sebagai sesama alumni GMNI Kupang", terasa lebih kuat tertanam di sanubari. Hal mana melumerkan sekat kepentingan persaingan antar-parpol.
Beta pun tahu persis bahwa isteri dari "Ade Bupati Ray" yakni Kristiana Muki akan maju pula sebagai Caleg Pusat dari Partai Nasdem pada Pileg 2019. Mendengar niat beta, dari balik ponsel, dengan suara tegas dan penuh persaudaraan ideologis, "Ade Bupati Ray" menjawab.
"Beta dukung niat Abang. Beta tunggu Abang di Kefa. Kalau Abang su mau turun konsolidasi, Abang telpon beta, katong katumu di Kefa. Nanti katong diskusi, cari jalan bagaimana baiknya."
Isi percakapan ringkas via ponsel pada medio 2018 itu, belakangan tidak jua terealisasi hingga pelaksanaan Pileg 2019 tiba. "Ade Bupati Ray" tetap menjaga komitmen persaudaraan ideologisnya terhadap beta.
Namun, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Halangan dan atau hambatan muncul dari pihak beta.
Niat politik beta untuk ikut kontestasi Pileg 2019 itu pada akhirnya pupus di tengah jalan, terhempas oleh kedigdayaan intrik politik dari dalam partai sendiri.
Intrik beraroma 'homo homini lupus' (manusia memangsa sesamanya sendiri), semata-mata oleh, untuk, dan atas nama kepentingan an-sich.
Atas itu semua, tak terkecuali aroma pahit perpolitikan, beta tetap menaikkan rasa syukur berlimpah ke hadirat Tuhan.
Sebab telah dan selalu beta imani bahwa setiap rancangan Tuhan, sepahit apapun yang dapat dirasakan secara manusiawi, pasti dan selalu berbuah sukacita di dalam batin.
Menyerah pada Kuasa Alam, Takluk pada Kuasa Takdir
Rabu tengah malam, 26 Maret 2025, selayang pandang mata beta menangkap berita yang beredar di medsos, perihal perahu yang ditumpangi mantan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes hilang terbawa arus laut.
Di antara rasa kantuk yang sangat, dan telah dalam posisi berbaring untuk tidur/istirahat malam, beta berujar pelan dalam doa: "Tuhan, Allah yang mahabaik, lindungilah Ade Bupati Ray dan para penumpang perahu yang terbawa arus".
Kamis pagi-pagi, 27 Maret 2025, beta bergegas menghantar/menemani isteri beta, Deisy Kasenda, dari kediaman kami di wilayah Kabupaten Minahasa Utara menuju RS. Prof Kandou di Malalayang, Kota Manado untuk pemeriksaan berkala setiap bulan, semenjak didera sakit hampir tiga tahun lalu, dan kini, puji Tuhan, telah memasuki masa kesembuhan dan pemulihan pasca pergumulan sakit.
Mengingat beta mengendarai sepeda motor, maka praktis tak dapat membuka layar medsos untuk memantau dinamika berita dan informasi.
Di ruang tunggu antrean pasien RS Kandou, beta lekas-lekas mengambil ponsel untuk memantau layar medsos. Terlihat dua sahabat sekaligus yang menandai beta untuk status FB mereka.
Kedua sahabat rasa saudara itu adalah Dion DB Putra, Pemred Pos Kupang yang semasa dulu pernah menjadi Sekjen PMKRI Kupang, dan Honing Sanny, alumni GMNI Cabang Jogyakarta yang pernah menjadi Legislator Pusat di Gedung DPR/MPR RI Senayan.
Honing dan Ray dulunya pernah bersama bernaung di partai yang sama yakni PDI-Perjuangan. Keduanya pun akhirnya juga berpisah dari partai yang sama.
Isi status FB dari No "Eja" Dion dan Ama "Eja" Honing mengabarkan berita lelayu, kabar duka, bahwa Mantan Bupati TTU Raymundus Sau Fernandes ditemukan meninggal dunia, Kamis (27/3/2025) pagi, akibat perahu Lampara tenggelam di perairan Oebubun, Desa Oepuah, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten TTU.
Tak berhitung menit, layar medsos pun viral dengan status dan link-link berita perihal berpulangnya "Ade Bupati Ray". Beta terdiam.
Tepekur membisu. Hanya bisa membatin, mendoakan keselamatan jiwa "Ade Bupati Ray".
Rasa sedih bercampur getir pun berkelindan, berputar-putar di bilik hati. Sejenak beta berbisik ke arah isteri beta yang sedang duduk mengantre menunggu jadwal pemeriksaan dokter.
"Kita pe ade dulu di GMNI Kupang, mantan bupati Timor Tengah Utara, so pigi, meninggal dunia akibat perahu tenggelam," ucap beta dalam dialek Manado. Isteri beta ikut terdiam, lalu berujar pendek pertanda turut merasakan duka yang beta rasakan. "E dodo e.....kasiang kang".
Merunut pada laman berita Pos Kupang online, otoritas kepolisian TTU mengonfirmasikan, terdapat delapan orang penumpang perahu Lampara yang tenggelam. Tiga orang selamat, dan lima lainnya dinyatakan meninggal dunia dan atau hilang.
Kita semua, lebih-lebih warga masyarakat TTU di mana pun berada, tentu sangat bersedih hati atas tragedi tenggelamnya perahu Lampara.
Kabut duka hari-hari masih bergelayut di atas bumi TTU, bahkan di cakrawala bumi Nusa Tenggara Timur.
Setiap orang yang pernah mengenal sosok Raymundus Sau Fernandes, sungguh berduka dan terpukul atas kepergian almarhum.
Ray adalah pemimpin politik yang identik dengan karakter sederhana dan bersahaja. Dia dikenal sangat mengayomi rakyat kecil selama masa kepemimpinannya sebagai bupati.
Dia begitu peduli pada rakyat kecil, sebab dia sendiri lahir dari lingkungan keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai petani kecil, dan ibunya berprofesi sebagai penjual sayur di pasar.
Bahkan selama Ray menjabat sebagai Bupati TTU dua periode, ibunya tetap tidak mau meninggalkan pekerjaannya sebagai penjual sayur di pasar tradisional. Sungguh ini fakta keteladanan sosial yang langka dan menggetarkan nurani publik.
Mengenang sosok "Ade Bupati Ray", sesungguhnya adalah mengenang kesederhanaan dan kebersahajaan pemimpin.
Ray adalah seorang "marhaenis" sejati. Dia begitu peduli pada rakyat kecil, kaum yang acapkali terpinggirkan. Dia sangat sayang kepada para petani, peternak, dan nelayan serta kaum pekerja marjinal.
Ray identik dengan pejuang pemikir-pemikir pejuang yang tangguh. Ray adalah politisi yang tak pernah mau menyerah, apalagi takluk kepada rintangan politik yang menghalangi kebenaran nilai politik yang ia yakini.
Ray adalah seorang figur nasionalis yang hidupnya bersahaja selaras dengan muatan ideologi marhaenisme warisan Bung Karno. Ray, oleh karenanya juga seorang Pancasilais yang teguh.
Kini, di akhir hayatnya, Ray seperti membuktikan bahwa ia tetap tak pernah menyerah pada 1001 tantangan kehidupan. Ia pun tak pernah mau takluk pada 1001 rintangan politik yang menghalangi keyakinannya pada sekumpulan kebenaran nilai politik.
Riwayat dan alur kehidupan Ray, mengonfirmasikan kepada kita semua bahwa ia hanya menyerah pada kuasa alam, pada kuasa natur. Kuasa gerak natur!
Ray pun hanya takluk pada kuasa takdir, pada otoritas kehendak Tuhan. Ia telah setia dan teguh sampai di garis akhir, di penghujung usianya.
Raymundus Sau Fernandes! Dalam kesunyian malam di tengah hempasan gelombang laut yang mengguncang-guncang raganya, dan sengatan udara malam yang dingin membisukan tulang, jiwa Ray telah terbang tinggi, pulang kembali ke pangkuan keabadian, ke hadapan Tuhan, Allah Sang Pencipta dan Penguasa Alam Semesta.
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7).
Ini nats Alkitab yang pas untuk mengiringi perjalanan jiwa "Ade Bupati Ray" memasuki "Yerusalem Baru".
Salam dukacita yang sangat, dari beta dan keluarga nun jauh di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, untuk ade nona Kristiana Muki, isteri terkasih dari "Ade Bupati Ray" beserta anak-anak tercinta di Kefamenanu, Timor Tengah Utara, NTT manise.
Di antara tetes airmata yang menitik tatkala catatan duka ini beta ramu, demi mengenang "Ade Bupati Ray", hati beta dengan pasti memadahkan rasa hormat tertinggi dan pujian iman percaya kepada Tuhan, bahwa "semua hal yang Tuhan buat atas hidup setiap kita, pasti baik, sungguh baik, dan selalu baik!" (*)
* Viktus Murin, Sekretaris GMNI Kupang (1993-1996), Sekjen Presidium GMNI (1999-2002), Wartawan Pos Kupang (1992-1995), Tenaga Ahli Menpora Adhyaksa Dault (2004-2009), Tenaga Ahli Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (2019-2024). Kini, tinggal menetap di Provinsi Sulawesi Utara, sebagai penduduk Kabupaten Minahasa Utara.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Viktus Murin
Raymundus Sau Fernandes
Ray Fernandes
lampara
Timor Tengah Utara
GMNI
Niko Frans
Frans Lebu Raya
| Kesaksian Korban Selamat Insiden Perahu Tenggelam di Perairan Oebubun, Kabupaten Timor Tengah Utara |
|
|---|
| Raymundus Sau Fernandes Sosok Penyayang Keluarga |
|
|---|
| Anggota DPRD Kabupaten TTU: Raymundus Sau Fernandes Sosok Guru Politik |
|
|---|
| Bupati TTU Pimpin Upacara Kedinasan Pemakaman Ray Fernandes |
|
|---|
| Jenazah Dua Korban Perahu Tenggelam Sudah Ditemukan di Desa Oepuah Timor Tengah Utara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/bupati-ray-fernandes_20170407_115342.jpg)