Selasa, 14 April 2026

Ende Terkini

Surat Gembala Uskup Agung Ende Serukan Pertobatan Ekologis

Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’, umat diajak agar di Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahaka

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO
Uskup Agung Ende Mgr Paul Budi Kleden, SVD saat memberikan sambutan usai misa penahbisan di Gereja Katedral Ende, Kamis 22 Agustus 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Charles Abar

POS-KUPANG.COM, BAJAWA - Uskup Agung Ende Mgr.Paulus Budi Kleden, SVD, telah mengeluarkan surat gembala Prapaskah 2025.

Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’, umat diajak agar di Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.

SURAT GEMBALA PRAPASKAH 2025

Para imam, biarawan-biarawati dan segenap umat Allah yang terkasih,

Salam kasih persaudaraan,

Pada Rabu, 5 Maret 2025, kita memasuki masa Prapaskah. Masa Prapaskah merupakan masa retret agung, saat di mana kita kembali menyadari dan mensyukuri kasih Allah yang teramat Besar kepada kita. inilah saat berahmat bagi kita untuk kembali ke kesejatian diri sebagai umat Allah yang kudus, yang "harus sujud di hadapan Tuhan, Allah kita" (UI. 26:10).

Kita diundang untuk meninggalkan jalan hidup yang tidak berkenan kepada Allah dan kembali ke cara hidup yang dikehendaki-Nya, baik secara pribadi maupun bersama-sama. Bersatu dengan seluruh komunitas Gereja Katolik Indonesia, pada masa Prapaskah ini kita merenungkan tema "Pertobatan Ekologis." Tema ini mengingatkan kita bahwa dosa tidak hanya berakibat buruk bagi manusia dan merusak relasinya dengan Allah, melainkan juga berdampak buruk pada alam ciptaan Allah. Dengan mengupayakan pertobatan ekologis, kita membarui kembali komitmen untuk merawat alam lingkungan hidup kita.

Masa Prapaskah tahun ini juga menjadi istimewa karena kita sedang berada dalam Tahun Yubileum 2025. Peregrinantes in Spem atau peziarah pengharapan adalah tema yang membingkai seluruh Tahun Yubileum 2025, termasuk upaya pertobatan di masa Prapaskah ini. Kita diajak untuk menyadari bahwa kita adalah peziarah di bumi ini. Kita bukanlah penguasa bumi yang dengan sesuka hati boleh berbuat apa saja atasnya.

Kita perlu mengupayakan tindakan nyata dalam merawat rumah bersama ini, dan dengan demikian membawa harapan bagi lingkungan hidup, juga bagi saudara dan saudari kita yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir. Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahakan keadilan sosial, kasih persaudaraan, solidaritas dan pelestarian lingkungan.

Saudara - saudari terkasih,

Akhir-akhir ini kita sering mengalami dan merasakan bahwa alam seolah-olah semakin tidak ramah pada manusia dan kehidupan. Di mana-mana bencana alam makin sering terjadi. Ada bencana yang terjadi karena gejala alam semata, seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Namun ada juga bencana yang terjadi karena campur tangan manusia atas alam, seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan hilangnya sumber air. Tanah, air dan udara sebagai unsur-unsur penunjang kehidupan di planet kita, sedang berada dalam kondisi kritis dan memprihatinkan.

Kita, umat di Keuskupan Agung Ende, juga sedang mengalami hal yang sama. Penebangan dan pembakaran hutan masih marak terjadi. Penanganan dan pengolahan sampah menjadi persoalan yang belum terselesaikan, terutama di wilayah perkotaan. Sampah rumah tangga pun sering dibuang begitu saja, sehingga menyumbat drainase dan mengakibatkan terjadinya luapan air di musim penghujan.

Masih ada banyak petani kita yang mengolah Iahannya dengan praktek pertanian yang tidak ramah lingkungan, seperti menggunakan pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan. Eksploitasi sumber daya alam yang juga hadir di wilayah kita, tidak saja membawa dampak positif, tetapi juga mengakibatkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial di tengah masyarakat.

Situasi ini sudah semestinya menyadarkan kita semua akan mendesaknya pertobatan ekologis. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa di balik krisis ekologis yang sedang berlangsung ada krisis spiritual yang mendalam sebagai akibat keserakahan dan egoisme manusia (bdk. Laudato Si, 2).

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved