Ende Terkini
Surat Gembala Uskup Agung Ende Serukan Pertobatan Ekologis
Surat Gembala ini bertemakan ‘Pertobatan Ekologis’, umat diajak agar di Tahun Yubileum ini menjadi saat berahmat yang kita tanggapi dengan mengusahaka
Keserakahan mendorong manusia untuk mencari, mengejar dan mendapatkan segala yang diinginkannya tanpa batas. Manusia berusaha terus-menerus untuk mengeruk kekayaan dan sumber daya alam demi memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Egoisme membuat manusia lupa pada sesama makhluk hidup dan alam lingkungan, serta tega mengorbankannya.
Pada gilirannya dosa keserakahan dan egoisme merusak keutuhan ciptaan dan mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Karena itu upaya pertobatan ekologis menjadi suatu ziarah bersama menuju hidup yang sederhana dan solider.
Paus Fransiskus berbicara tentang ekologi integral yang merangkum tiga keprihatinan Gereja: keutuhan lingkungan, perkembangan integral manusia, dan keberpihakan kepada kaum miskin. Paus selalu menekankan penting dan mendesaknya mendengar suara alam dan memberi perhatian kepada jeritan kaum miskin. Sebab, yang paling rentan terhadap bencana alam karena kecerobohan manusia adalah orang-orang miskin, mereka yang tidak memiliki sumber daya dan dana untuk menyelamatkan diri.
Untuk memaknai masa Prapaskah dalam Tahun Yubileum ini, saya terdorong untuk menyampaikan beberapa hal berikut ini:
Pertama, keberpihakan terhadap lingkungan harus diwujudkan dalam langkah-langkah konkret. Dalam Surat Gembala Yubileum, saya telah menegaskan bahwa pertobatan ekologis menuntut tindakan nyata untuk mencegah alam dari kehancuran dan melindungi orang miskin yang paling rentan.
Keluarga dan KUB dapat melakukan aksi bersama untuk mengurangi sampah plastik, memisahkan sampah dan membuangnya pada tempatnya. Penghijauan dan perawatan tanaman dapat menjadi inisiatif dari lembaga-lembaga pendidikan.
Para petani didorong untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia. Salah satu hal yang membutuhkan perhatian khusus adalah eksplorasi-eksploitasi panas bumi (geothermal). Kita tidak bisa berdiam diri di hadapan kenyataan ini. Penolakan terhadap geotherma/lahir dari keprihatinan akan konteks Keuskupan ini. Wilayah kita terdiri dari gunung dan bukit, serta menyisakan lahan yang terbatas untuk pemukiman dan pertanian warga. Untuk pertanian, bagian terbesarnya bergantung pada curah hujan, sebab sumber air tanah pun tidaklah banyak.
Sementara itu, sebagian besar penduduk di wilayah ini adalah petani dan pertanian adalah mata pencaharian utama, serentak pembentuk utama kebudayaan dan tradisi. Dalam konteks ini, kita diajak untuk mencari sumber energi terbarukan lain yang lebih sesuai dengan kondisi kita. Inilah salah satu bentuk pertobatan ekologis dan tanda solidaritas Gereja Keuskupan Agung Ende dengan semua yang menjadi korban.
Kedua, dalam kaitannya dengan Gerakan KUB Peduli Ibu Hamil dan Gerakan KUB Ramah Anak, seluruh umat diharapkan untuk menumbuhkan kepedulian yang lebih besar kepada ibu hamil dan anak-anak, khususnya dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan dan lingkungan yang sehat, serta penerapan kebiasaan hidup ugahari dan peduli. Kelahiran baru dan pendidikan anak-anak harus kita perhatikan, sebab mereka adalah harapan akan masa depan keluarga dan Gereja. Menatap masa depan dengan harapan berarti memiliki semangat hidup dan kesiapan untuk berbagi (lih. Spes Non Confundit/SNC, 9).
Karena itu, keluarga-keluarga dalam KUB didorong untuk berbagi dari kekurangan, mendukung program-program pangan sehat dan terlibat dalam kegiatan sosial untuk membantu mereka yang membutuhkan. Anak-anak perlu sejak dini dididik untuk menghargai orang lain, memiliki kepedulian terhadap mereka yang lemah serta hidup dalam kesederhanaan. Selain itu, keluarga dan KUB perlu mendampingi anak-anak agar menggunakan waktu dengan baik untuk belajar.
Ketiga, Prapaskah dalam Tahun Yubileum 2025 ini menjadi kesempatan untuk menghadirkan tanda harapan bagi pasangan yang belum menerima sakramen perkawinan. Yubileum hendaknya menginspirasi Gereja untuk melakukan upaya yang lebih besar bagi pasangan muda dan generasi muda.
Menanggapi ajakan itu, saya juga telah menegaskan dalam Surat Gembala Yubileum agar kita memberi perhatian istimewa terhadap pasangan yang hidup bersama tanpa ikatan resmi menurut aturan Gereja Katolik. Sebagai bentuk pertobatan di masa Prapaskah ini, saya meminta kerja sama dari semua pihak untuk membantu dan mempermudah urusan pernikahan pasangan-pasangan tersebut, baik dari sisi adat-istiadat, keterbukaan hati orangtua masing-masing pasangan, kewajiban parokial maupun dari sisi sosial lainnya.
Keempat, Prapaskah juga menjadi kesempatan bagi kita untuk meneguhkan harapan bagi keluarga-keluarga migran akan hidup yang lebih baik. Hal ini senada dengan ajakan Paus Fransiskus yang mengatakan bahwa tanda-tanda harapan juga harus ada bagi para migran dan keluarga mereka (SNC, 13).
Seluruh umat diajak untuk memperhatikan keluarga-keluarga migran di sekitarnya. Mereka seringkali menghadapi tantangan besar dalam hal ekonomi, tempat tinggal, dan interaksi serta adaptasi sosial.
Sebagai peziarah pengharapan, kita dipanggil untuk menjadi sahabat bagi mereka dengan memberikan dukungan moral dan material, serta membantu mereka untuk bangkit dan hidup lebih layak.
| Puluhan Lapak di Jalan Nangka Ende Dibongkar |
|
|---|
| Unflor Cetak Sejarah, Prof Natsir Kotten Dikukuhkan sebagai Guru Besar Pertama |
|
|---|
| Kasus Bundir Pelajar di Ende Meningkat, Fraksi Golkar Megy Sigasare Ajak Warga Lakukan Hal Ini |
|
|---|
| Pesan Khatib Utama Salat Ied di Ende: Musuh Kemanusiaan Paling Nyata adalah Hilangnya Rasa Peduli |
|
|---|
| Satlantas Polres Ende Sigap ke Longsor di KM 16 Trans Flores |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Uskup-Agung-Ende-Mgr-Paul-Budi-Kleden-SVD.jpg)