Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Rabu 5 Maret 2025, Bertobatlah dan Percayalah pada Injil
Pratek puasa ini juga merupakan tanda persatuan, persekutuan dalam pengorbanan bersama dengan penderitaan dan wafat
Sabda Tuhan ini menggugah hati kita untuk mengasihi dan mencintai semua manusia tanpa adaperbedaan. St.Yohanes dari Salib katakatan,”Bila kita dihadapkan pada situasi di mana tidak ada cinta, taruhlah cinta di dalamnya, maka kamu akan menemukan CINTA.
Beramal, bersedekah merupakan tindakan yang luar biasa. Kepada kita Yesus katakan,”Hati-hati. Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.
Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matiu 6:1-4). Memberi sedekah merupakan tindakan yang mulia. Tapi kita harus menghindari sikap memamerkan pemberian sedekah. Biarlah Tuhan yang mengetahuinya. Selain berpuasa,berdoa dan beramal, tindakan yang perlu dilakukan adalah bertobat.
Bertobat merupakan suatu tindakan yang radikal untuk melakukan pembaharuan diri. Kesadaran akan kesalahan, keberdosaan yang telah dilakukannya dan memiliki niat untuk berbalik ke jalan yang benar. Dalam diri manusia harus ada sikap metanoia. Metanoia dari kata bahasa Yunani ”meta” yang artinya “melampaui” dan “noeo” yang berarti “pikiran”. Maka, secara harafiah “metanoia” berarti “perubahan pikiran”.
Metanoia memiliki makna yang sangat mendalam yakni pertobatan. Pertobatan yang sejati harus dilakukan dengan mengubah pikiran sehingga kita bisa memahami kehendak Allah dan mengalami pembaharuan dalam hidup dengan meninggalkan manusia lama dan menjadi manusia baru.
Pertobatan harus lahir dari kesadaran diri yang lahir dari inti pusat kehidupan kita yaitu hati. Hati menjadi sentral dari dir kita sebagai pribadi. Hal ini senada dengan apa yang diwartakan oleh nabi Yoel,”. Demikianlah firman TUHAN, "berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh." Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Nabi Yoel menegaskan pentingnya revolusi hati daripada revolusi fisik. Revolusi fisik hanyalah satu tindakan lahiriah yang tidak membawa nilai bagi kehidupan. Revolusi hati dan komitment mendalam akan membawa perubahan yang radikal dalam seluruh sikap dan perilaku.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus mengingatkan supaya umat memberikan diri, mempersembahkan hidupnya untuk didamaikan dengan Allah. Umat Korintus memiliki relasi kehidupan yang kurang benarsehingga terjadi ketidakharmonisan dengan sesama yang lain. Oleh karena itu mereka harusterlebih dahulu berdamai dengan Allah. Perdamaian dengan Allah akan memengaruhi relasi kehidupan dengan pribadi yang lain. Jika hal ini terjadi maka sesungguhnya penyelamatan itu menyata dalam dirinya.
Kita bersyukur memiliki masa yang khusus ini. Masa prapaskah merupakan moment yang istimewa bagi kita untuk membenahi, membaharui dan merevolusi diri kita agar menjadi pribadi yang baru. Masa puasa ini bukan hanya sekedar tidak makan atau minum tetapi lebih dari itu adalah untuk mengubah seluruh sikap prilaku,pola hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.
Masa puasa ini harus menghasilkan buah-buahrohani dan rahmat dalam kehidupan kita, dalam keluarga, komunitas dan masyarakat. Selamat menjalankan puasa. Semoga rahmat dan berkat dari Tuhan melimpah atas kita.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Renungan-Harian-Katolik-Sabtu-22-Februari-2025-Pater-Oris.jpg)