Opini
Opini: Gereja dan Bisnis Kasih
Jadi, bisnis merupakan sesuatu yang baik dan mulia, malah dianggap sebagai sebuah panggilan. Bisnis dilaksanakan untuk menunjang karya penyebaran iman
Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik dan Penjagaan Perdamaian, Universidad Complutense de Madrid - Spanyol
POS-KUPANG.COM - Pengosongan lahan HGU Nangahale 22 Januari 2025, memunculkan pembicaraan yang tak terkontrol. Salah satunya adalah pertanyaan, adalah apakah gereja bisa berbisnis?
Sesungguhnya pertanyaan barangkali bisa dipahami untuk masyarakat bukan Nusa Tenggara Timur ( NTT). Bagi orang NTT, gereja memang perlu berbisnis untuk menunjang karya sosial.
Sebagian besar warga NTT dengan caranya sendiri pernah mengalami konkretisasi bisnis melalui penyelenggaraan pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial lainnya.
Itu menandakan bahwa bisnis itu bukan sesuatu yang jahat penuh trik dan kelicikan.
Baik sebelum maupun kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa), bisnis menjadi sebuah imperatif. Manusia diberi perintah untuk bekerja (baca: berbisnis) (Kej 1: 28).
Sesudah kejatuhan manusia dalam doa, perjuangan tentu lebih berat karena dengan berpeluh akan mencari makanan sampai kembali menjadi tanah (Kej 3: 19).
Jadi, bisnis merupakan sesuatu yang baik dan mulia, malah dianggap sebagai sebuah panggilan. Bisnis dilaksanakan untuk menunjang karya penyebaran iman.
Hal ini menjadi alasan mengapa Vatikan memiliki Istituto per le Opere di Religione (IOR), yang berdiri tahun 1942 oleh Paus Pius XII yang disebut sebagai Bank Vatikan.
Tujuannya untuk mengelola dana yang dikumpulkan umat dan hasil dari pengelolaan unit bisnis gereja.
Bisnis seperti ini tentu perlu dikelola secara profesional untuk mendatangkan laba yang wajar demi menunjang karya pastoral.
Hal ini menjadi penjelasan, mengapa IOR diatur oleh ASIF (Autorità di Supervisione e Informazione Finanziaria), yang merupakan badan pengawas keuangan Vatikan.
Namun selagi dikelola manusia (siapapun dia), godaan untuk menjauh dari tujuan luhur selalu ada. Namanya juga manusia. Hal ini mengingatkan akan Banco Ambrosiano yang berdiri tahun 1896 kemudian ambruk di tahun 1982.
Skandal serupa terjadi tahun 2010 dan terlebih tahun 2014 ketika Paus Fransiskus memecat sejumlah pejabat tinggi di bank tersebut.
Terlepas dari skandal yang bisa saja terjadi (hal mana mannusiawi), tetapi efek dari bisnis gereja itu sangar dirasakan warga NTT.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Bala-Robert.jpg)