Opini

Opini: Pilkada Sikka, Pilih Program Atau Figur?

Untuk memenangkan proses pemilihan, semua paslon menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan popularitas dan elektoral. 

Editor: Dion DB Putra
POS KUPANG/HO
Ilustrasi 

Oleh: Kristo Relianus
Pengamat Sosial Politik, tinggal di Habi-Lokaria, Kabupaten Sikka - NTT

POS-KUPANG.COM - Tanggal dua puluh tujuh November tahun dua ribu dua puluh empat, seluruh rakyat Indonesia akan melaksanakan pilkada langsung. 

Hari dimana rakyat akan kembali memilih calon gubernur, wakil gubernur, calon bupati dan wakil bupati serta calon wali kota dan wakil wali kota secara langsung. 

Tidak ketinggalan rakyat Kabupaten Sikka di Provinsi Nusa Tenggara Timur juga ikut  serta melaksanakan pilkada langsung yang sama.

Bila menghitung hari, sesungguhnya sudah tidak lama lagi rakyat akan melakukan pemungutan suara di masing-masing TPS. 

Tapi sayangnya sampai dengan saat ini, masih banyak rakyat yang belum tahu, bahkan belum paham akan visi, misi dan program kerja dari masing-masing pasangan calon bupati dan wakil bupati sikka periode 2024-2029.

Saat ini, yang rakyat tahu baru sebatas nama paket paslon bupati dan wakil bupati Sikka.

Untuk independen dikenal dengan nama paket Florida (Flory Mekeng- Alfridus Aeng). 

Sementara yang berasal dari parpol, mengusung paket Romantis (Roby Idong-Martinus Wodon), paket Sarr ( Suitbertus Amandus dan Robertus Ray) serta paket Joss ( Juventus Prima Yoris Kago dan Simon Subandi).

Untuk memenangkan proses pemilihan, semua paslon menggunakan berbagai strategi untuk meningkatkan popularitas dan elektoral. 

Mulai dari pemasangan baliho, spanduk, kunjungan keluarga dari rumah ke rumah, desa/kelurahan, dusun, RT, RW,  lingkungan serta penempelan stiker maupun pengerahan massa pada saat pendaftaran paslon di KPU daerah.

Para relawan, tim keluarga serta timses dari masing-masing partai politik pengusung, ramai-ramai bergerilya merebut simpati para konstituen. Banyak cara yang dilakukan. 

Ada kampanye program, negosiasi, distribusi logistik serta publikasi tentang rekam jejak perbuatan sosial kemasyarakatan sebelum menjadi paslon bupati dan wakil bupati.

Melihat geliat kampanye dari pasangan calon yang tengah berlangsung selama ini, terbesit suatu pertanyaan, pilkada kabupaten sikka ini kita pilih apa? 

Apakah kita memilih program-program pro poor atau pilih figur? Inilah yang menjadi dilema buat banyak pihak terutama konstituen dalam setiap perhelatan pilkada.

Realitas Sikka Saat Ini

Sebelum menjatuhkan pilihan kepada paslon pada saat hari pemungutan suara. Tentu kita semua wajib melihat realitas pembangunan Kabupaten Sikka dengan segala problematikanya.

Harus kita akui bersama, bahwa proses pembangunan selama ini telah memiliki progres. 

Ada efek perubahan buat rakyat. Selain infrastruktur, ada juga bidang pengembangan sumber daya manusia serta pertumbuhan ekonomi.

Tetapi selain adanya progress,  masih ada juga problem-problem sosial lain yang belum bisa terselesaikan dan terpecahkan persoalannya. 

Masalah yang ada seperti warga terkategori miskin ekstrem yang jumlahnya sekitar seratus lima ribu warga (www.bappelitbang.kabsikka).

Masih tingginya stunting dan malaria. Rabies yang selalu muncul setiap tahun. Masih banyak warga yang belum punya hunian yang layak dan belum punya listrik.

Kesulitan air bersih dan irigasi. Petani hanya memanen satu kali dalam setahun, sulit mendapatkan pupuk, banyak aksi bunuh diri, tingginya orang dengan gangguan jiwa. 

Belum lagi hutang pemerintah daerah yang belum lunas serta besarnya devisit anggaran pada tahun berjalan sekitar tujuh puluh tujuh miliar tiga ratus sembilan puluh juta rupiah. (Perda Kabupaten Sikka Nomor 4 Tahun 2023).

Masalah lainnya adalah kesejahteraan guru honor, tenaga kesehatan desa serta pertumbuhan lapangan pekerjaan yang masih rendah. Kurangnya perhatian bagi para buruh.

Tingkat pengangguran terbuka yang masih tinggi serta indeks pembangunan manusia baru mencapai skor nilai enam puluh tiga (Perda Kabupaten Sikka nomor 3 tahun 2019).

Nilai ini tentu masih jauh dari standar yang ditetapkan oleh United Nations Development Programme. Selain itu, situasi semakin diperburuk dengan kondisi pasar milik pemda yang semrawut. 

Pasar kurang tertata dan mengeluarkan aroma tidak sedap. Sampah berserakan di mana-mana. Pasar seakan tidak menjamin kenyamanan dan keselamatan bagi para penggunanya.

Demokrasi : Rakyat Bebas Memilih

Setiap perhelatan demokrasi, entah itu pileg, pilpres, maupun pilkada serentak seperti pemilihan bupati dan wakil bupati sikka, satu hal yang pasti adalah memberi kebebasan. 

Ruang kebebasan mesti dimiliki oleh setiap orang. Karena ini sudah dijamin oleh konstitusi. Dengan kebebasan orang akan memiliki ruang dan waktu yang cukup, untuk membuat pertimbangan sebelum menentukan pilihan yang tepat sesuai keyakinannya.

Tapi apa dasar bagi setiap orang untuk memilih paslon dalam pilkada ini? Untuk memilih paslon dalam pilkada ada beberapa preferensi yang dapat mempengaruhi pilihan para konstituen.

Menurut W. Meliala, dalam Jurnal Citizen Education,  hal yang mempengaruhi pilihan konstituen antara lain program kerja, citra sosial, perasaan emosional, citra kandidat, peristiwa mutakhir, peristiwa personal dan isu-isu epistemik.

Melihat performance para paslon dalam masa kampanye yang sedang berlangsung saat ini, tentu semua hal di atas sudah dilakukan. Termasuk penjelasan penting tentang visi, misi dan program kerja. 

Tapi apakah ini cukup membuat konstituen yakin. Yang ada bahwa para paslon bersama timses terus mengekspose citra kandidat dan citra sosial. Semua berlomba-lomba mengatakan bahwa mereka adalah paket yang terbaik.

Sekalipun sudah ada penyampaian dari masing-masing paslon, tapi konstituen mesti tetap independen dalam menentukan pilihan. Rakyat Sikka mesti cerdas memilih. 

Memilih bukan karena sukuisme dan primordialisme. Namun memilih karena kita butuh pemimpin yang mampu membawa perubahan menuju Sikka moret epan atau hidup baik dan sejahtera.

Kita pilih bukan karena paslon orang muda atau tua. Uang banyak atau sedikit. Tinggal di dalam atau luar Kabupaten sikka. Sudah punya rumah, mobil atau belum. Bukan itu yang kita cari. 

Yang kita pilih adalah jaminan program kerja yang mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi masyarakat sikka. Jadi acuan kita adalah isi program kerja yang realistis dengan melihat rekam jejak para paslon.

Kita pilih karena kita yakin. Bahwa mereka pasti bisa turunkan angka miskin ekstrem, stunting, mampu menaikan pendapatan asli daerah, menyediakan air bersih dan irigasi bagi petani, meningkatkan investasi, memberantas rabies, tersedia lapangan pekerjaan, hunian yang layak, dan menaikkan indeks pembanguan manusia. 

Sekiranya semua hal ini menjadi dasar sekaligus referensi bagi kita, siapa di antara keempat paslon yang ada, yang bisa kita pilih jadi pemimpin Sikka masa depan. Semoga. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved