Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 29 September 2024, "Gereja Katolik dalam Kemajemukan Indonesia"

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini mengantar kita untuk memahami betapa indahnya sebuah hidup bersama dalam kemajemukan.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pater John Lewar, SVD 

SUARA PAGI Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Minggu, 29 September 2024
Hari Minggu Biasa XXVI
Lectio:
Bilangan 11:25-29; Mazmur 19:8,10,12-13,14;
Yakobus 5:1-6; Markus 9:38-43,45,47-48.

Gereja Katolik dalam Kemajemukan Indonesia

Meditatio:

Hari ini kita memasuki hari Minggu Biasa ke-XXVI/B, hari terakhir dalam bulan Kitab Suci nasional. Adapun tema permenungan kita pada hari ini yakni Merawat Kemajemukan.

Bacaan-bacaan Kitab Suci pada hari Minggu ini mengantar kita untuk memahami betapa indahnya sebuah hidup bersama dalam kemajemukan.

Kitab Bilangan (11: 25-29) mengisahkan bahwa Tuhan Allah turun dalam awan dan berbicara dengan Musa. Tuhan mengambil sebagian Roh-Nya dari Musa dan ditaruh-Nya di atas tujuh puluh tua-tua Israel. Pada saat itu juga ketujuhpuluh tua-tua Israel penuh dengan Roh Kudus. Eldad dan Medad adalah dua orang yang namanya ikut dicatat tetapi tidak sempat hadir dalam pencurahan Roh Allah.

Namun demikian Roh Allah juga turun atas mereka berdua di tempat perkemahan. Kejadian yang dialami Eldad dan Medad membuat Yosua cemburu. Yosua yang mengabdi bagi Musa sejak masa mudanya, memohon kepada Musa untuk mencegah Eldad dan Medad yang penuh dengan Roh Kudus.

Dalam kemajemukan sebagai sebuah bangsa yang sedang berjalan di padang gurun, bangsa Israel diharapkan untuk hidup bersama sebagai saudara. Tuhan sendiri mencintai kemajemukan umat-Nya, mengapa ada orang yang tidak mencintai kemajemukan?

Seharusnya kita juga terbuka pada gerakan-gerakan Roh Allah dalam kemajemukan hidup kita. Penginjil Markus menceritakan bahwa Yohanes sebagai murid yang dikasihi-Nya datang dan berkata: “Guru, kami lihat seorang yang bukan pengikut kita mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” (Mrk 9:38).

Kita melihat sosok Yosua yang mengabdi Musa sejak masa mudanya, berekasi seperti Yohanes sebagai murid yang dikasihi Yesus. Reaksi Yesus sangat mirip dengan reaksi Musa dalam bacaan pertama. Ia berkata: “Jangan kamu cegah dia!

Sebab tidak seorangpun yang telah mengadakan mujizat demi nama-Ku, dapat seketika itu juga mengumpat Aku. Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.” (Mrk 9:39-40). Mata kita dibuka oleh Yesus untuk dapat hidup berdampingan sebagai saudara tanpa harus melihat perbedaan-perbedaan kita.

Tuhan Yesus sebagai Musa baru mengajar kita untuk selalu berpihak dalam kemajemukan kita. Bagaimana peran Gereja Katolik dalam merawat kemajemukan saat ini?

Pertama, “Faith” atau iman yang merupakan fondasi utama dalam kehidupan beragama. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan agama yakni agama Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu. Iman yang kuat bukan hanya mengenai hubungan individu dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana iman itu diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari yang menghormati keberadaan orang lain yang berbeda keyakinan.

Dalam lawatannya ke Indonesia awal September lalu, Paus Fransiskus melihat Indonesia sebagai contoh nyata
dari negara yang mampu merangkul semua elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan keyakinan.

Kedua, “Fraternity” atau persaudaraan yang erat kaitannya dengan konteks sosial dan kemanusiaan. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, telah menunjukkan bagaimana persaudaraan dapat terjalin erat di antara berbagai agama dan budaya. Kunjungan Paus Fransiskus ini semakin menegaskan pentingnya persaudaraan tersebut dalam menjaga keutuhan bangsa.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved