Berita Internasional

Netanyahu Sebut Berita Gencatan Senjata dengan Hizbullah Tidak Benar, Serangan Israel Berlanjut

Amerika Serikat (AS) dan sekutunya Prancis mengusulkan penghentian pertempuran atau gencaran senjata selama 21 hari. 

|
Editor: Dion DB Putra
TANGKAPAN LAYAR AP NEWS
Asap mengepul dari serangan udara Israel di desa Kfar Rouman, terlihat dari kota Marjayoun, Lebanon selatan, Senin (23/9/2024). 

Lebanon adalah rumah bagi sekitar 1,5 juta warga Suriah yang melarikan diri dari perang saudara di sana. 

Amerika Serikat, Prancis, dan beberapa sekutu menyerukan gencatan senjata segera selama 21 hari di perbatasan Israel-Lebanon, sekaligus menyatakan dukungan untuk gencatan senjata di Gaza setelah diskusi intensif di Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu 25 September 2024. 

PM Najib Mikati menyambut baik seruan gencatan senjata tersebut, tetapi ia mengatakan kunci penerapannya adalah apakah Israel, yang telah memindahkan pasukannya lebih dekat ke Lebanon, berkomitmen untuk menegakkan resolusi internasional. 

Ketika ditanya apakah gencatan senjata dapat segera dicapai, Mikati mengatakan kepada Reuters: "Semoga saja, ya". 

Pemerintahan sementara Mikati mencakup menteri yang dipilih oleh Hizbullah, yang secara luas dipandang sebagai kekuatan politik paling kuat di negara itu. 

Sedangkan gencatan senjata akan berlaku untuk "Garis Biru" Israel-Lebanon, garis demarkasi antara kedua negara. Serta akan memungkinkan para pihak untuk bernegosiasi menuju kemungkinan penyelesaian diplomatik atas konflik atau perang Israel-Lebanon tersebut. 

Koordinator Khusus PBB untuk Lebanon Jeanine Hennis-Plasschaert pada Kamis menyambut baik seruan untuk gencatan senjata segera selama 21 hari guna memberi ruang bagi keberhasilan diplomasi. 

Tujuan Israel ialah memprioritaskan pengamanan perbatasan utaranya dan mengizinkan kembalinya sekitar 70.000 penduduk yang mengungsi akibat baku tembak hampir setiap hari. 

Baku tembak itu diprakarsai Hizbullah setahun lalu sebagai bentuk solidaritas dengan kelompok Palestina Hamas di Gaza. 

Namun, Israel memperluas serangan udaranya di Lebanon pada Rabu dan sedikitnya 72 orang tewas, menurut kompilasi Reuters dari pernyataan kementerian kesehatan Lebanon. Kementerian sebelumnya mengatakan sedikitnya 223 orang terluka. 

Serangan udara terberat Israel di Lebanon dalam hampir dua dekade meningkat tajam sejak Senin kemarin. Ketika lebih dari 550 orang tewas dalam hari paling mematikan di Lebanon sejak berakhirnya perang saudara 1975-1990. 

Sekitar setengah juta warga Lebanon telah meninggalkan rumah mereka dan rumah sakit kewalahan karena menangani banyak korban luka. 

Pengeboman itu menyusul serangan minggu lalu ketika pager dan walkie-talkie meledak di Lebanon, menewaskan banyak orang dan melukai ribuan orang. 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com berjudul Netanyahu: Tidak Ada Gencatan Senjata dengan Hizbullah 

 

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved