Cerpen
Cerpen: Surat untuk Enu
Siapa yang melarangmu mencintai? Tidak ada! Bahkan diriku pun juga tidak. Mengapa? Sebab cinta adalah suatu kebutuhan dalam diri kita.
Oleh Stefan Bandar
Anggota biara Rogationis - Maumere
POS-KUPANG.COM - Enu, Bagaimana kabarmu? Aku harap engkau baik-baik saja, sebagaimana aku yang selalu baik-baik saja di sini.
Aku harap embun pagi selalu menyejukkan batinmu untuk memulai seluruh perjuanganmu, mentari terus menyinari setiap tempat di mana langkahmu berpijak, langit selalu memberikan gerimis guna mekarkan mimpi dan inginmu, serta berharap malam selalu mendekapmu dengan memberimu lelap.
Enu, sesungguhnya kita berhak mencintai siapa saja. Engkau berhak mencintai seseorang, bahkan engkau berhak mencintaiku.
Siapa yang melarangmu mencintai? Tidak ada! Bahkan diriku pun juga tidak. Mengapa? Sebab cinta adalah suatu kebutuhan dalam diri kita.
Kita terlahir karena cinta dan kita pun mengarah pada cinta. Cinta itu di atas segalanya, sebagaimana Allah yang kita sembah mengatakannya: mencintai Allahmu dan mencintai sesamamu.
Cinta adalah hukum utama dan pertama dalam kehidupan kita!
Namun tepat dalam hal mencintai sesama inilah, dengan tendensi asmara, muncul suatu bentuk pertanyaan: Apakah cinta itu harus memiliki?
Terkadang sulit dijelaskan mengapa rasa itu muncul dari pertemuan dan perkenalan yang pernah terjadi, bahkan yang paling singkat.
Mengapa tiba-tiba saja kita jatuh cinta kepadanya, ingin selalu berada di dekatnya, atau bahkan menghabiskan begitu banyak waktu untuk menghadirkannya meskipun hanya dalam rupa bayang.
Tapi percayalah bahwa semuanya itu tidak lain dari cara alam memperkenalkan cinta kepada kita.
Tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Bukankah di dalam Kita Suci Perjanjian Lama dikisahkan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan untuk bersatu dan saling melengkapi?
Maka jika seandainya teruntuk seseorang kita pernah berpikir bahwa menemukan dirinya dan bersamanya adalah melengkapi sebuah pencarian kita, itu pun juga adalah sesuatu kebenaran.
Sejujurnya ketika aku mendengar pengakuanmu, membaca surat yang kau tulis dan mendapatkan pesan yang kau kirim, aku selalu bertanya: sejauh itukah makna hadirku dalam hidupmu?
Sesempurna itukah diriku sehingga engkau menemukan pencarianmu di dalam diriku?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/nulis.jpg)