Gempa Bandung
Gempa Bandung Makan Korban, Bocah Fauzan Meninggal Tertimpa Reruntuhan Tembok
Gempa di Bandung menyisakan duka atas meninggalnya Fauzan (2,5) tahun tertimpa tembok roboh saat sedang bermain.
”Putranya sudah dimakamkan dan ibunya sudah kami beri pertolongan medis dan sudah berobat jalan. Jika dilihat, gempa kemarin memang memberikan dampak dari struktur bangunan di sekitar lokasi ini,” ujarnya.
Kondisi infrastruktur
Untuk mengantisipasi bertambahnya korban, Maruly menyarankan masyarakat mengamati kondisi infrastruktur rumah masing-masing. Dia juga mengimbau pengungsi tetap berhati-hati, terutama saat beraktivitas di antara reruntuhan bangunan.
”Apabila kondisi rumah cukup parah, jangan dimasuki dulu karena khawatir ada yang runtuh. Secara umum memang gempa susulan yang besar kemungkinan tidak ada lagi. Tapi semua perlu waspada saat ada kondisi tertentu, seperti bangunan tidak stabil dan ringkih,” ujar Maruly.
Kepala Tim Geologi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Geologi Agus Budianto memaparkan, patahan yang terjadi dalam rangkaian gempa Bandung ini masih diidentifikasi. Temuan retakan dan kerusakan bangunan bisa memberikan petunjuk terhadap patahan atau hanya karena kualitas bangunan yang tidak tahan gempa.
”Kerusakan bangunan akibat gempa di Bandung ini terjadi karena ketidakmampuan bangunan menghadapi guncangan. Dari sini bisa dilihat dari kualitas bangunan atau kerusakan dari dalam tanah sehingga berdampak pada fondasi. Ini yang akan menjadi rekomendasi,” paparnya.
Hingga Jumat, data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar menyebut, gempa yang bersumber di Kertasari ini berdampak pada 40.887 jiwa. Dari jumlah ini, 34.273 di antaranya di berada di Kabupaten Bandung, dan dua di antaranya meninggal.
Satu korban lainnya adalah pelajar sekolah dasar di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Pranata Humas BPBD Jabar Hadi Rahmat Hardjasasmita menyatakan, korban terjatuh saat menyelamatkan diri saat terjadi gempa.
”Korban bukan terdampak langsung. Saat kejadian, korban terjatuh dan mengalami kejang-kejang, lalu meninggal,” paparnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Letnan Jenderal TNI Suharyanto juga melihat kesamaan antara gempa Bandung dan dua gempa merusak berbagai infrastruktur sebelumnya di Jabar, yakni di Cianjur dan Sumedang. Kedua gempa ini berujung pada patahan yang belum teridentifikasi dan membuat ribuan rumah rusak.
Bahkan, gempa yang terjadi di Cianjur 21 November 2022 menelan hingga 600 korban jiwa. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan dan tertimbun longsor. Sementara itu, gempa di Sumedang merusak lebih dari 1.000 bangunan.
Warga di Jabar mesti tetap waspada terhadap bencana gempa yang tidak bisa diprediksi ini,” katanya.
Meskipun hanya terjadi dalam hitungan detik, gempa yang terjadi mampu merusak konstruksi rumah yang tidak kokoh. Bangunan yang rapuh ini membahayakan nyawa, seperti keceriaan Fauzan yang sirna bersama runtuhnya bangunan. (kompas.id)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Sebagian Korban Gempa Bandung Belum Dapat Bantuan, Mereka Makan Singkong |
![]() |
---|
Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Bahaya Pascagempa M4,9 di Kabupaten Bandung dan Garut |
![]() |
---|
Data Akurat dan Tervalidasi Percepat Proses Pemulihan Wilayah Garut Pascagempa M4,9 |
![]() |
---|
Pascagempa Bandung M 4,9, Kepala BNPB: Pemerintah Pusat Hadir Sepenuhnya |
![]() |
---|
Kepala BNPB Bertolak ke Kabupaten Bandung dan Garut Tinjau Lokasi Terdampak Gempa Bumi M 4,9 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.