Gempa Bandung
Sebagian Korban Gempa Bandung Belum Dapat Bantuan, Mereka Makan Singkong
Mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tenda dengan mengandalkan kemampuan masing-masing. Distribusi dan manajemen logistik perlu diperbaiki.
POS-KUPANG.COM, BANDUNG - Sebagian pengungsi gempa Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/9/2024), masih belum mendapatkan bantuan. Mereka harus memenuhi kebutuhan sehari-hari di tenda dengan mengandalkan kemampuan masing-masing. Distribusi dan manajemen logistik perlu diperbaiki terus agar bantuan tepat sasaran.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jabar per Sabtu (21/9/2024), pukul 12.00 WIB, jumlah pengungsi akibat gempa berkekuatan magnitudo 4,9 ini mencapai 9.209 jiwa. Mereka memilih untuk mengungsi di tenda-tenda darurat di sekitar rumah mereka demi keamanan barang-barang yang ada di sana.
Kondisi ini membuat pengungsian warga tersebar di berbagai titik dan belum semua mendapatkan bantuan. Keterbatasan yang ada membuat para pengungsi terpaksa memenuhi kebutuhan hidup di tenda dengan kemampuan masing-masing.
Ririn (32), salah satu pengungsi di RW 001 Desa Cikembang, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, bertahan di tenda darurat dengan makanan seadanya. Dia bersama puluhan pengungsi lain memilih mengungsi karena rumahnya rusak akibat gempa yang melanda daerah tersebut.
Untuk tetap menikmati makanan seadanya, Ririn dan pengungsi lainnya meracik singkong yang tumbuh di sekitar tenda bersama bantuan yang masih terbatas. Mereka juga masih menggunakan alas tidur yang dibawa dari rumah masing-masing dan belum mendapatkan bantuan untuk kebutuhan anak-anak.
”Sekarang kami masih mengandalkan bahan-bahan dari rumah sendiri dan makan singkong. Bantuan yang datang baru mi instan dan itu juga langsung habis. Kami juga butuh selimut karena di sini sangat dingin kalau malam. Selama beberapa malam ini, kami hanya mengandalkan apa yang ada di rumah,” ujarnya saat ditemui di tenda pengungsian yang berjarak sekitar 3,7 kilometer dari Kantor Camat Kertasari.
Tati (60), warga RW 003 Desa Cihawuk, Kertasari, juga mengalami hal yang serupa. Kerusakan rumah akibat gempa membuatnya bersama puluhan warga menginap di tenda yang dekat dengan rumah mereka.
Meskipun dibangun seadanya dan swadaya dari kelompok karang taruna di sana, Tati dan puluhan warga di sana tetap bertahan di tenda-tenda darurat. Mereka juga menggunakan sejumlah bahan bangunan seperti batako yang disusun menjadi tempat memasak
”Di sini juga ada anak-anak dan bayi yang butuh susu formula serta makanan. Ada juga ibu-ibu menyusui yang butuh makanan bergizi demi kesehatan mereka. Kalau untuk orang dewasa, seperti kami, masih bisa makan seadanya dan masak di tungku darurat,” ujarnya.
Sekretaris Daerah Jabar Herman Suryatman mengingatkan para petugas untuk bertindak cepat dalam membagikan bantuan. Dia menyadari kekurangan dari distribusi yang ada sehingga kondisi tersebut akan terus dievaluasi.
”Kami akan berikan atensi terhadap koordinasi pembagian logistik dan jangan sampai ada kekurangan. Saat ini distribusi masih menjadi masalah dan akan terus kami periksa, karena manajemen penanganan bencana menjadi kata kunci saat ini. Semua harus akuntabel dan tentu menguji kepemimpinan di lapangan,” ujarnya. (kompas.id)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Gempa Bandung Makan Korban, Bocah Fauzan Meninggal Tertimpa Reruntuhan Tembok |
![]() |
---|
Kesiapsiagaan Masyarakat Menghadapi Bahaya Pascagempa M4,9 di Kabupaten Bandung dan Garut |
![]() |
---|
Data Akurat dan Tervalidasi Percepat Proses Pemulihan Wilayah Garut Pascagempa M4,9 |
![]() |
---|
Pascagempa Bandung M 4,9, Kepala BNPB: Pemerintah Pusat Hadir Sepenuhnya |
![]() |
---|
Kepala BNPB Bertolak ke Kabupaten Bandung dan Garut Tinjau Lokasi Terdampak Gempa Bumi M 4,9 |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.