Berita NTT
NTT Alami Deflasi -0,25 Persen pada Agustus 2024
Inisiasi KAD inter NTT dapat diawali dengan neraca pangan yang akurat pada level kabupaten/kota.
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG- Provinsi NTT mengalami deflasi sebesar -0,25 persen (mtm) pada Agustus 2024.
Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati, Kamis 12 September 2024.
Agus menyebut, deflasi NTT sebesar -0,25 persen (mtm) atau inflasi 1,22 persen (yoy)
pada Agustus 2024 tersebut berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik BPS Provinsi NTT Agustus 2024. Yang mana, level inflasi ini berada di bawah rentang sasaran 2,5±1 persen.
"Deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti bawang merah, tomat, sawi hijau, ikan kembung, dan daging ayam ras," kata Agus.
Secara spasial, kata Agus, hanya Waingapu yang mengalami inflasi pada wilayah pengukuran IHK di NTT, sedangkan deflasi terjadi pada 4 wilayah pengukuran IHK lainnya dengan deflasi terdalam terjadi di Kota Kupang.
"Pasokan hortikultura yang terjaga menjadi penyebab utama deflasi NTT. Produksi bawang merah lokal ditopang oleh panen yang terjadi di Rote, Semau, dan Waingapu. Sementara itu, panen tomat yang terjadi di Waingapu turut memperkuat pasokan di pasaran," ungkapnya.
Agus menjelaskan, penurunan harga bawang merah dan tomat sejalan dengan produksi bawang merah yang meningkat dan panen tomat di daerah Jawa Timur yang masuk ke NTT melalui Surabaya.
Di sisi lain, lanjutnya, panen di Kabupaten Sikka menjadi faktor penyebab deflasi sawi hijau. Selanjutnya, deflasi ikan kembung seiring dengan hasil tangkapan ikan kembung yang terjaga, sedangkan penurunan harga daging ayam ras di tingkat produsen secara nasional menjadi penyebab deflasi daging ayam ras.
"Meski demikian, deflasi hortikultura yang secara historis terjadi di Tingkat Wilayah III dapat dipandang sebagai pola musiman, sehingga pengendalian inflasi dapat lebih optimal di periode mendatang," bebernya.
Menurut Agus, deflasi Agustus merupakan peluang emas memperkuat pengendalian inflasi. Yang mana, selama 11 tahun terakhir, deflasi selalu terjadi di bulan Agustus.
Kondisi ini sejalan dengan puncak panen hortikultura lokal di NTT dan pada daerah sentra nasional di tengah cuaca yang cenderung mendukung produktivitas.
"Meskipun berdampak baik pada penurunan harga konsumen, penurunan harga justru dapat merugikan petani. Kondisi ini setidaknya tercermin dari Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) dan Nilai Tukar Petani (NTP) hortikultura Agustus yang turun lebih dalam dari penurunan di bulan Juli," tuturnya.
Baca juga: Kepala Perwakilan BI NTT Sebut Kupang Exotic Run 2024 Dorong Ekonomi Lokal dan Pelestarian Budaya
Pola musiman hortikultura, kata dia, merupakan peluang emas mendorong Kerja sama Antar Daerah (KAD) inter NTT yang dapat menekan masuknya pasokan dari luar NTT dan selanjutnya mengurangi ketimpangan harga petani di musim panen.
Inisiasi KAD inter NTT dapat diawali dengan neraca pangan yang akurat pada level kabupaten/kota.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.