Berita NTT

NTT Alami Deflasi -0,32 Persen pada Juli 2024, Kepala BI NTT: Momentum Perkuat Pengendalian Inflasi

Di sisi lain, kata Agus, pasokan kangkung dan bawang putih yang terjaga turut diperkuat dengan masuknya pasokan dari Bima, Surabaya dan Makassar.

POS-KUPANG.COM/EKLESIA MEI
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Provinsi NTT mengalami deflasi sebesar -0,32 persen (mtm) pada Juli 2024, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati menyebut hal tersebut sebagai momentum untuk memperkuat pengendalian inflasi.

Agus menyebut, deflasi NTT sebesar -0,32 persen (mtm) atau inflasi 0,85 persen (yoy) berdasarkan rilis berita resmi statistik BPS Provinsi NTT pada Juli 2024.

"Level inflasi ini terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen," kata Agus, Senin 5 Agustus 2024.

Agus menjelaskan, deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti bawang merah, tomat, kangkung, cabai rawit, dan bawang putih.

"Secara spasial, Waingapu dan Maumere menjadi wilayah pengukuran IHK di NTT yang mengalami inflasi, sedangkan deflasi terjadi pada 3 wilayah pengukuran IHK lainnya, di mana deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Ngada," jelasnya.

Menurut Agus, kondusifnya produksi hortikultura lokal yang diperkuat dengan masuknya pasokan dari luar menjadi penyebab deflasi Provinsi NTT. Yang mana, panen bawang merah terpantau terjadi di Kupang Barat, Rote, dan Semau.

Kemudian, lanjutnya, panen tomat terjadi di Kabupaten TTS, Kabupaten Sumba Timur, dan Kabupaten Kupang. Selanjutnya, panen cabai rawit terpantau terjadi di wilayah Kabupaten Sumba Timur.

Di sisi lain, kata Agus, pasokan kangkung dan bawang putih yang terjaga turut diperkuat dengan masuknya pasokan dari Bima, Surabaya dan Makassar.

"Dari sisi cuaca, kembali normalnya kondisi cuaca tanpa El Nino menjadi salah satu faktor positifnya produksi hortikultura di Provinsi NTT di bulan Juli," bebernya.

Meskipun demikian, kata dia, potensi kekeringan pada puncak musim kemarau, serta kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng rakyat dan Harga Acuan Penjualan (HAP) gula pasir, patut diwaspadai sebagai faktor pendorong inflasi ke depan. Di sisi lain, ikan kembung, angkutan udara, dan beras menjadi penyumbang inflasi.

"Kenaikan harga ikan kembung didorong oleh hasil tangkapan nelayan yang berkurang di tengah gangguan cuaca pada awal bulan Juli. Di sisi lain, tarif angkutan udara yang meningkat didorong oleh permintaan pada periode libur tengah tahun dan peningkatan harga avtur di wilayah Provinsi NTT," terangnya.

Baca juga: BI NTT Sosialisasikan Perizinan KUPVA BB dan Tingkatkan Awareness Anti Pencucian Uang 

Lebih lanjut, Agus mengatakan, beras kembali tercatat menjadi penyumbang inflasi pasca menjadi penyumbang deflasi selama tiga bulan terakhir.

"Meskipun demikian, positifnya produksi padi pada bulan Juli pada angka sementara BPS yang tercatat tumbuh sebesar 72,68 persen (yoy), menjadi penahan laju inflasi beras yang lebih tinggi," kata Agus.

Agus menegaskan, TPID Provinsi NTT berkomitmen untuk senantiasa meningkatkan sinergi dan kolaborasi untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong ketahanan pangan melalui berbagai strategi dalam kerangka 4K.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved