Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Paus Fransiskus Melukis Cinta di Mozaik Kebhinekaan

Dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti (2020), ia menekankan bahwa semua manusia adalah saudara.

Editor: Dion DB Putra
UCANEWS.COM
Paus Fransiskus 

Dalam konteks Indonesia yang kaya akan keragaman etnis dan agama, semangat dialog ini sangat relevan. 

Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, perlu mencontoh semangat dialog yang dipromosikan oleh Paus Fransiskus, terutama dalam konteks memperkuat persatuan di tengah keberagaman.

Perjuangan Kaum Terdiskriminasi

Paus Fransiskus juga tidak ragu untuk berbicara tentang isu-isu sosial yang mempengaruhi kelompok-kelompok terpinggirkan. Dalam banyak pidatonya, ia menyerukan agar suara-suara yang terpinggirkan didengar. 

“Kita tidak dapat membiarkan suara-suara mereka yang terpinggirkan tetap terdiam. Kita harus menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara” (Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, 2013).

Pernyataan ini bisa dilihat sebagai respons terhadap isu-isu diskriminasi yang masih terjadi di berbagai belahan dunia. 

Misalnya, dalam konteks minoritas Kristen di Timur Tengah, Paus Fransiskus sering mengingatkan dunia akan perlunya perlindungan bagi kelompok-kelompok ini yang menghadapi ancaman dan penindasan. Ia menegaskan, Kita tidak boleh membiarkan mereka menghadapi tantangan ini sendirian (Paus Fransiskus, Pidato di Irak, 2021).

Kontribusi untuk Perubahan Sosial

Dalam upayanya melukis cinta, Paus Fransiskus juga mendorong para pemimpin dunia untuk berkomitmen pada perubahan sosial yang lebih adil. 

Ia percaya bahwa cinta tidak hanya berbicara tentang hubungan antarpersonal, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial. "Cinta yang sejati adalah cinta yang mendorong kita untuk bertindak demi kesejahteraan bersama." (Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, 2020).

Dalam konteks perubahan iklim, Paus Fransiskus menekankan bahwa tanggung jawab
terhadap bumi adalah bagian dari cinta kita terhadap sesama. Dalam ensikliknya Laudato Si (2015), ia mengatakan, Kerusakan lingkungan adalah masalah moral, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk melindungi bumi (Paus Fransiskus, Laudato Si, 2015). 

Dengan demikian, pesan cinta yang disampaikannya hemat saya bukan hanya untuk sesama manusia, tetapi juga untuk lingkungan yang menjadi rumah kita bersama.

Kesimpulan

Paus Fransiskus, dengan segala inisiatif dan pesannya, telah melukis cinta di atas kanvas kebhinekaan yang kompleks. Dalam dunia yang sering kali dibayangi oleh perbedaan, ia mengingatkan kita akan pentingnya menghargai keragaman sebagai kekuatan, bukan sebagai sumber konflik. 

Melalui ensiklik Fratelli Tutti, ia menegaskan bahwa setiap individu memiliki nilai yang tak ternilai, dan hubungan antar manusia seharusnya dibangun di atas fondasi saling menghargai. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved