Opini
Opini: Paus Fransiskus Melukis Cinta di Mozaik Kebhinekaan
Dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti (2020), ia menekankan bahwa semua manusia adalah saudara.
Oleh: Lexi Anggal
Tinggal di Boncukode, Cibal Manggarai
POS-KUPANG.COM - Dalam era globalisasi yang semakin kompleks, di mana perbedaan budaya, agama, dan pandangan hidup sering kali menjadi sumber konflik, Paus Fransiskus hadir sebagai sosok yang menebarkan pesan cinta dan persatuan.
Sebagai pemimpin Gereja Katolik yang mengglobal, pesan-pesan Paus Fransiskus tidak hanya terbatas pada umat Katolik, tetapi merangkul seluruh umat manusia. Melalui berbagai inisiatif dan pidatonya, ia berupaya melukis cinta di tengah mozaik kebhinekaan yang ada di dunia.
Kecintaan pada Perbedaan
Salah satu tema yang sering diangkat oleh Paus Fransiskus adalah pentingnya menghargai dan merayakan perbedaan. Dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti (2020), ia menekankan bahwa semua manusia adalah saudara.
“Kita tidak dapat hidup tanpa bersatu, tanpa saling mengenal, dan tanpa saling menghargai perbedaan kita.” (Paus Fransiskus, Fratelli Tutti, 2020). Poin ini sangat relevan mengingat semakin banyaknya konflik yang terjadi akibat intoleransi dan diskriminasi.
Lebih jauh, Paus Fransiskus mengajak umat untuk menyingkirkan egoisme dan memandang satu sama lain sebagai individu yang berharga.
Dalam kesempatan kunjungannya ke Mesir pada April 2017, ia mengatakan, Kedamaian tidak dapat dicapai jika kita tidak menghargai perbedaan kita.
Setiap orang, tanpa memandang latar belakang, memiliki hak untuk dihargai dan diperhatikan (Paus Fransiskus di Kairo, 28 April 2017).
Pernyataan ini hemat saya mencerminkan upayanya untuk mempromosikan toleransi di antara berbagai komunitas.
Dialog Antaragama
Paus Fransiskus juga dikenal aktif dalam mendorong dialog antaragama sebagai sarana untuk membangun jembatan dan meredakan ketegangan.
Dalam kunjungannya ke Al-Azhar, salah satu lembaga pendidikan Islam terkemuka di dunia, ia menyatakan, Dialog antaragama adalah alat yang penting untuk mempromosikan perdamaian dan saling pengertian (Paus Fransiskus, Kairo, 28 April 2017).
Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan ruang bagi perbedaan untuk saling bertemu dan bertukar pandangan, yang pada gilirannya dapat mengurangi ketegangan antar kelompok.
Melalui inisiatif ini, Paus Fransiskus berupaya membangun kesadaran bahwa perbedaan tidak harus berujung pada konflik.
| Opini: Dilema Kesejahteraan- Efisiensi atau Erosi Biokrasi? |
|
|---|
| Opini: Sunyi yang Tidak Didengar-Ketika Bunuh Diri Menjadi Bahasa Terakhir |
|
|---|
| Opini: Lonjakan HIV/AIDS di Nusa Tenggara Timur |
|
|---|
| Opini: Ilusi “Profesor Menjamur” dan Krisis Nalar Kebijakan Pendidikan Tinggi |
|
|---|
| Opini: Kerahiman Ilahi- Jalan Pulang Menuji Hati yang Diperbaharui |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Paus-Fransiskus_06843.jpg)