Pilgub DKI Jakarta

5 Tokoh Ini Potensial Dampingi RK, Jamiludin Ritonga: Ada Sri Mulyani, juga Ada Rahayu Saraswati

Setelah Airlangga Hartarto bocorkan inisial sosok yang bakal mendampingi Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta, kini muncul 5 nama cocok jadi duet Ridwan

Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
POTENSIAL – Jamiluddin Ritonga sebut, Rahayu Saraswati Djojohadikusuma paling potensial mendampingi Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta. 

POS-KUPANG.COM – Setelah Airlangga Hartarto bocorkan inisial tentang sosok yang bakal mendampingi Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta, kini muncul lima nama yang dinilai potensial mendampingi sosok yang bakal diusung Koalisi Indonesia Maju atau KIM tersebut.

Lima sosok itu disebut Pengamat Politik, Jamiluddin Ritonga, saat merespon pernyataan Ketua Umum Partai Golkar terkait sosok yang aman mendamping Ridwan Kamil nanti.

Jamiluddin mengatakan bahwa beberapa tokoh potensial yang berpeluang mendampingi RK, yakni Ahmad Sahroni, Sudirman Said, Sri Mulyani, Mardani Ali Sera dan Rahayu Saraswati Djojohadikusuma.

"Dari lima nama itu, ada tiga nama yang paling potensial menjadi wakil RK," ucap Jamil, Sabtu 10 Agustus 2024.

"Tigan ama itu, adalah Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, Ahmad Sahroni, dan Mardani Ali Sera," imbuhnya.

Sementara dari tiga nama tersebut, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo yang paling berpeluang untuk mendampingi Ridwan Kamil

Menurut Jamiluddin, politisi Partai Gerindra ini selain sudah punya nama di Jakarta, juga masih keluarga besar Prabowo Subianto. 

"Karena itu, untuk memperkuat soliditas KIM, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo tampaknya akan diprioritaskan," katanya. 

"Selain tentunya karena Prabowo sekarang menjadi pusat kekuasaan di tanah air," lanjutnya.

Sementara itu, kata Jamil, terkait Anies Baswedan, peluangnya maju masih terbuka. 

Setidaknya bila salah satu dari Nasdem, PKB, atau PKS tidak masuk ke Koalisi Indonesia Maju (KIM).

Salah satu dari partai itu masih bisa berkoalisi dengan PDIP untuk mengusung Anies. 

Sebab, secara administrasi masih bisa mengusung pasangan cagub.

"Namun bila Nasdem, PKB, dan PKS semuanya bergabung ke KIM, maka tertutup bagi Anies untuk maju," katanya. 

"Sebab, kursi PDIP tidak cukup untuk mengusung pasangan cagub di Jakarta," imbuhnya. 

"Bahkan bila ditambah PPP dan Perindo pun belum mencukupi," ungkapnya.

"Jadi, PDIP masih berpeluang menyokong Anies bila salah satu dari Nasdem, PKB atau PKS tidak ikut gerbong KIM," katanya lagi. 

"Anies masih terbuka untuk maju pada Pilgub Jakarta 2024," ujar Jamil.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin buka suara terkait wacana Ridwan Kamil (RK) yang akan maju di Pilgub Jakarta melawan kotak kosong.

Menurut Ujang, hal itu tidak baik bagi demokrasi lokal Jakarta. 

Dia menyayangkan hal tersebut terjadi di mana nantinya warga Jakarta hanya akan disuguhkan dengan satu pilihan melawan benda mati. 

Pernyataan tersebut disampaikan Ujang menguatnya Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus yang dikabarkan akan mengusung RK sebagai calon tunggal.

Ujang mengatakan, jika PKS, NasDem dan PKB nantinya benar-benar bergabung dengan KIM plus. 

Maka hanya tinggal PDIP sendiri sebagai partai di luar KIM Plus. 

Namun, Ujang mengatakan, situasi sulit tetap tidak bisa diatasi. 

Karena kursi PDIP tidak cukup untuk mengusung calon gubernur dan wakil gubernur sendiri.

Baca juga: Relawan Projo Meramal Anies Baswedan Bakal Kalah Lawan Ridwan Kamil

Baca juga: PKS Mulai Tinggalkan Anies Baswedan, Kini Perlahan Merapat ke Prabowo 

"Dengan strategi koalisi gemuk, memborong partai membuktikan bahwa ada dorongan kuat untuk melawan kotak kosong. Karena Anies gagal berlayar," jelas Ujang, Sabtu 10 Agustus 2024.

Dengan begitu, Ujang menyebut, warga Jakarta nantinya tidak akan punya pilihan alternatif untuk memilih calon pemimpin Jakarta 2024-2029. Ini juga disebut akan merusak demokrasi. 

"Kompetisi yang sehat itu menghadirkan kompetitor, yaitu ada calon lain dan warga Jakarta harus diberikan pilihan," ungkap dia.

Namun, Pilkada Jakarta akan menjadi tidak sehat, jika warga hanya disodorkan pilihan kotak kosong.

"Yang namanya kotak kosong itu tidak memiliki visi-misi, tidak punya program dan janji-janji. Serta tidak ada gagasan untuk Jakarta lebih baik," jelasnya. (*)

Ikuti Pos-Kupang.Com di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved