Pilgub DKI Jakarta

5 Tokoh Ini Potensial Dampingi RK, Jamiludin Ritonga: Ada Sri Mulyani, juga Ada Rahayu Saraswati

Setelah Airlangga Hartarto bocorkan inisial sosok yang bakal mendampingi Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta, kini muncul 5 nama cocok jadi duet Ridwan

Editor: Frans Krowin
ISTIMEWA/POS-KUPANG.COM
POTENSIAL – Jamiluddin Ritonga sebut, Rahayu Saraswati Djojohadikusuma paling potensial mendampingi Ridwan Kamil di Pilgub DKI Jakarta. 

"Bahkan bila ditambah PPP dan Perindo pun belum mencukupi," ungkapnya.

"Jadi, PDIP masih berpeluang menyokong Anies bila salah satu dari Nasdem, PKB atau PKS tidak ikut gerbong KIM," katanya lagi. 

"Anies masih terbuka untuk maju pada Pilgub Jakarta 2024," ujar Jamil.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komarudin buka suara terkait wacana Ridwan Kamil (RK) yang akan maju di Pilgub Jakarta melawan kotak kosong.

Menurut Ujang, hal itu tidak baik bagi demokrasi lokal Jakarta. 

Dia menyayangkan hal tersebut terjadi di mana nantinya warga Jakarta hanya akan disuguhkan dengan satu pilihan melawan benda mati. 

Pernyataan tersebut disampaikan Ujang menguatnya Koalisi Indonesia Maju (KIM) plus yang dikabarkan akan mengusung RK sebagai calon tunggal.

Ujang mengatakan, jika PKS, NasDem dan PKB nantinya benar-benar bergabung dengan KIM plus. 

Maka hanya tinggal PDIP sendiri sebagai partai di luar KIM Plus. 

Namun, Ujang mengatakan, situasi sulit tetap tidak bisa diatasi. 

Karena kursi PDIP tidak cukup untuk mengusung calon gubernur dan wakil gubernur sendiri.

Baca juga: Relawan Projo Meramal Anies Baswedan Bakal Kalah Lawan Ridwan Kamil

Baca juga: PKS Mulai Tinggalkan Anies Baswedan, Kini Perlahan Merapat ke Prabowo 

"Dengan strategi koalisi gemuk, memborong partai membuktikan bahwa ada dorongan kuat untuk melawan kotak kosong. Karena Anies gagal berlayar," jelas Ujang, Sabtu 10 Agustus 2024.

Dengan begitu, Ujang menyebut, warga Jakarta nantinya tidak akan punya pilihan alternatif untuk memilih calon pemimpin Jakarta 2024-2029. Ini juga disebut akan merusak demokrasi. 

"Kompetisi yang sehat itu menghadirkan kompetitor, yaitu ada calon lain dan warga Jakarta harus diberikan pilihan," ungkap dia.

Namun, Pilkada Jakarta akan menjadi tidak sehat, jika warga hanya disodorkan pilihan kotak kosong.

"Yang namanya kotak kosong itu tidak memiliki visi-misi, tidak punya program dan janji-janji. Serta tidak ada gagasan untuk Jakarta lebih baik," jelasnya. (*)

Ikuti Pos-Kupang.Com di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved